Peserta Banyak Memilih Puisi Rendra pada Lomba Baca Puisi di Cibaliung

Peserta Banyak Memilih Puisi Rendra pada Lomba Baca Puisi di Cibaliung
Suasana Lomba Baca Puisi di Cibaliung (Poto oleh Eni SM)

PHBN Kecamatan Cibaliung menggelar lomba baca puisi pada tanggal 10 Agustus 2017 bertempat di panggung utama Pesta Rakyat Cibaliung. Peserta yang berjumlah 60 orang itu terlihat sangat semangat sekali, perwakilan dari berbagai sekolah se zona enam ini juga tidak lupa membawa pendukungnya masing-masing, yang bergemuruh ketika sekolah yang dipanggil naik pentas. Acara yang tepat di mulai jam 20.00 WIB itu dibuka oleh dewan juri dengan memaparkan beberapa keriteria penilaian. Dari sekian banyak puisi yang ditawarkan panitia puisi “Gugur” karya WS Rendra

GUGUR

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Tiada kuasa lagi menegak
Telah ia lepaskan dengan gemilang
pelor terakhir dari bedilnya
Ke dada musuh yang merebut kotanya

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Ia sudah tua
luka-luka di badannya

Bagai harimau tua
susah payah maut menjeratnya
Matanya bagai saga
menatap musuh pergi dari kotanya

Sesudah pertempuran yang gemilang itu
lima pemuda mengangkatnya
di antaranya anaknya
Ia menolak
dan tetap merangkak
menuju kota kesayangannya

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Belumlagi selusin tindak
mautpun menghadangnya.
Ketika anaknya memegang tangannya
ia berkata :
” Yang berasal dari tanah
kembali rebah pada tanah.
Dan aku pun berasal dari tanah
tanah Ambarawa yang kucinta
Kita bukanlah anak jadah
Kerna kita punya bumi kecintaan.
Bumi yang menyusui kita
dengan mata airnya.
Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.
Bumi kita adalah kehormatan.
Bumi kita adalah juwa dari jiwa.
Ia adalah bumi nenek moyang.
Ia adalah bumi waris yang sekarang.
Ia adalah bumi waris yang akan datang.”
Hari pun berangkat malam
Bumi berpeluh dan terbakar
Kerna api menyala di kota Ambarawa

Orang tua itu kembali berkata :
“Lihatlah, hari telah fajar !
Wahai bumi yang indah,
kita akan berpelukan buat selama-lamanya !
Nanti sekali waktu
seorang cucuku
akan menacapkan bajak
di bumi tempatku berkubur
kemudian akan ditanamnya benih
dan tumbuh dengan subur
Maka ia pun berkata :
-Alangkah gemburnya tanah di sini!”
Hari pun lengkap malam
ketika menutup matanya

Puisi Rendra itulah puisi yang paling banyak dipilih oleh peserta. Acara yang berakhir pada jam 23.30 tepat ini setidaknya menjadi ajang untuk silaturahmi bagi para pecint puisi di Cibaliung, ungkap Munawir Syahidi. (Redaktur)