oleh

Petaka Cinta

-LITERASI-65 views

Karya Fahman Falahi

Haha…tawa puas seorang lelaki dewasa terdengr sayup dari balik ilalang di pinggir rel kereta. Tawa itu semakin sayup, hilang ditelan dentuman roda kereta pada relnya. Dari kejauhan terlihat samar dua anak kecil berlari bahagia kearah datangnya kereta yang melitas.

Dewi “nanti kalua udah gede akum mau naik kereta”

Fajar “itu kan aku nanti yang bawanya, haha…”

Dewi “haha…”

Percakapan mereka terbawa hembusan angin kereta yang melitas. Kemudian berlari menuju pematang sawah tempat para orang tua bekerja. Sebentar saja mereka menyaksikan keindahan semesta. Sawah menhampar sampai ujung laut, awan-awan yang manis bergerak mengikuti arah angin, daun-daun kelapa melambai, kicauan burung ditemani suara percikan air dari aliran petak-petak sawah padinya menghijau.

Sawah-sawah itu adalah warisan turun temurun dari generasi ke generasi. Mungkin sejak para pemuda diburu oleh para tentara Belanda yang sedang menjajah. Kemudian bersembunyi di hutan bertahun-tahun. Karena kebutuhan, menggaraplah sawah untuk memenhi kebuthannya.

Dari ujung sawah terdengar memanggil dengan suara kerinduan yang terdengar sangat mesra, seakan seribu tahun tak bertemu. Larilah kedua bocah itu menuju ujung sawah. menuju kerinduan.

Petak demi petak sawah mereka lalui dengan berlari. Tiba-tiba suara terikan terdengar begitu keras, mengisi sudut-sudut galengan sawah. Kekhawatiran seketika memenuhi ruang rasa rindu orang-orang di ujung sawah.

Fajar “aaaa….. sakiiiit”

Fajar terjatuh. Galengan sawah yang dipijaknya runtuh. Karena galengan sawahnya begitu kecil, akibat terlalu sering dikikis oleh antar pemilik sawah yang berbeda saat membersihkan rumput. Selain itu, sering kali memang tujuannya untuk memperluas area petak sawhnya.

Para orang tua segera menghampiri dengan segudang prasangka yang membuat mereka tergopoh. Sambal berteriak menanyakan apa yang terjadi.

Dewi “jatuh, Fajar jatuh”

Lalu kemudian Dewi menangis begitu keras. Melihat darah terkucur dari kaki Fajar.

Dewi “kakinya berdarah….”

Setelah dicek, ternyata kaki Fajar ternyata hanya terkena potongan ranting, lukanya tidak terlalu dalam, tapi mengeluarkan darah. Lucu sekali, yang terluka siapa, yang menangis siapa. Setelah itu para orang tua tertawa, melihat tingkah laku Dewi yang nyeletuk ingin menjadi seorang dokter, sambal menangis.

Dewi “akum mau jadi dokter, biar bisa ngobatin kamu”

Fajar “gabisa lah, kalo nunggu kamu jadi dokter, aku udah sembuh duluan, haha. Lagipula takut sama darah gimana mau jadi dokternya coba”

Dewi tidak menghiraukan apa yang diucapkan oleh Fajar, ia hanya terus menangis sembari menyaksikan luka Fajar yang diludahi oleh para oran tua, kemudian dilumuri kunyahan daun Nampomng.

Waktu berjalan cepat, Dewi dan Fajar kembali bertemu di SMA. Setelah tiga tahun mereka tidak satu sekolah di SMP. Kerinduan dihadirkan oleh pertemuan mereka  di gerbang sekolah saat pertama kali masuk. Masing-masing menerka, siapa gerangan yang ada di hadapanku ini.

Dewi “aku sudah tidak takut darah lagi”

Fajar “Dewi… haha”

Dewi “bagaimana kabarmu? Lukamu masih ada bekasnya?

Fajar “haha”

Kerinduan pada lahan perasaan Fajar tumbuh menjelma perasaan lain dengan subur. Cinta menjadi pohon Intaran yang menghiasi pandangan Fajar kepada Dewi. Intaran dihasi ilalang senyum yang melambai halus. Intaran dikelilingi kicau tawa burung-burung.

Menyadari rasa cinta itu terlalu cepat tumbuh subur, Fajar mencoba menahan diri untuk mengungkapkan. Untuk sementara mencari kesempatan agar banyak waktu melakukan kegiatan bersama. Ikut OSIS dan extrakurikuler adalah kesempatan yang bagus.

Satu tahun sudah berlalu, sejak pertama kali mereka bertemu di gerbang sekolah. Senin pagi, Fajar sudah memarkir motornya di depan rumah Dewi.

Dewi “tumben tumbenan lu pagi gini di rumah gua”

Fajar “haha… mau berangkat bareng gua ga?”

Dewi “boleh, ayok..”

Saat diperjalanan mereka membicarakan banyak hal, termasuk PR yang diberikan guru. Melewati pemukiman, sawah, pasar, dan laut. Motor melambat, kemudian berhenti di tengah jembatan yang menghadap ke laut. Jembatan yang menghubungkan dua kampung.

Fajar turun dari motor. Diikuti oleh Dewi yang kebingungan. Sedangkan Fajar menghadap laut luas yang biru. Laut yang sibuk dengan aktivitas para nelayan sepulang dari bagang.

Fajar memanggil Dewi dengan lembut. Dewi berdiri di pinggir Fajar dengan raut muka yang masih kebingungan. Kemudian sama-sama menghadap laut, meski entah apa yang dipandangnya ke laut lepas.

Fajar “kita sudah lama ya berteman”

Dewi “sejak bisa jalan kayaknya, haha”

Fajar “iya haha, dan lu harus tau, sejak kita bertemu kembali di SMA, gua merasakan hal lain”

Dewi “maksudnya?”

Fajar “aku ingin selalu ada sebagai muara di tepi padang rasa yang menerobos jendela makna, dan mengharapmu begitu juga”

Suasana menjadi hening. Dewi merasakan seluruh badannya seakan dililit oleh tambang kapal. Sesaknya sampai ke hati. Tak mampu berucap, hanya menoleh kearah Fajar dengan muka yang memucat. Kemudian mundur dan mengajar Fajar agar segera melanjutkan perjalanan ke sekolah. Perjalanan begitu hening, suasana menjadi canggung. Tak ada satu patah kata pun terucap.

Sepulang sekolah Dewi Mencari Fajar, menemuinya ke kelas. Kemudian mengajaknya untuk mengatarkannya pulang. Baru saja keluar gerbang sekolah, Dewi mengungkapkan semua perasaanya, yang membuat perjalanan kembali diselimuti keheningan.

Dewi “gua begitu juga”

Perjalan Dewi menuju pulang dihiasi bayangan lalu, tentang kebahagiaannya melakukan kegiatan bersama Fajar. Candaan receh Fajar, kepedulian Fajar. Berhasil menumbuhkan cinta yang begitu rindang di dalam hatinya.

Mereka bersama-sama merawat cinta yang begitu kuat mengakar, hingga mereka lulus SMA. Dan menyadari betul, setelah ini mereka akan menemui perpisahan yang mungkin bisa saja membuat daun-daun cinta meranggas.

Fajar masuk perguruan tinggi pilihannya, yang mengharuskan dia asrama di kampus. Sedang Dewi masuk perguruan tinggi yang berbeda, lebih bebas melakukan banyak hal. Mereka sepakat, untuk tidak menjadikan hal ini sebagai alasan untuk menebang pohon rasa yang tumbuh.

Tapi pada kenyataanya, mereka lupa. Setelah bertahun-tahun pohon itu tumbang dengan sendirinya. Mereka sukses dengan versinya masing-masing. Fajar menjadi kepala desa terpandang. Dewi menjadi Pengusaha perkebunan yang terbilang besar. Bahkan unutk kenyamanan orang tua Dewi pindah dari kampung halamannya, mengikuti Dewi.

Perkembangan perusahaan Dewi begitu pesat. Rencana pembukaan cabang perusahaan sudah disipakan dengan matang. Pengecekan tanah untuk lahan perusahaanya sedang berlangusung, dan dipimpin langusng oleh Dewi.

Melalui kepala desa, Dewi mendapatkan informasi bahwa lahan yang akan dijadikan cabang perkebunannnya merupakan persawahan milik warga. Sawah yang menjadi satu-satunya sumber penghidupan warga di daerah itu. Dan warga menolak untuk menjualnya.

Fajar hafal betul, Dewi hari itu yang menghampirinya untuk mengecek lahan, adalah Dewi yang bertahun-tahun ia harapkan kembali padanya. Namun Dewi sudah tumbuh menjadi perempuan idealis, perempuan mandiri dan realistis.

Melalui percakapan santai, Dewi mengetahui Fajar masih mengharapkannya. Ini akan menjadi jalan Dewi untuk mendapatkan lahan persawahan warga. Karena dia mengetahui betul bagaimana kondisi kepemilikan sawah di daerah itu.

Dewi memulai rencananya untuk dapat menguasai lahan itu dengan mengungkapkan perasaan palsu kepada Fajar. Bahwa dia juga sama, mengaharapkan agar dapat bersama kembali. Lebih dari itu, ia menngungkapkan ingin segera dinikahi oleh Fajar, dan mereka akan tinggal di Desa itu setelah menikah.

Tetapi sebelum itu, Dewi meminta Fajar untuk membantunya mendapatkan lahan persawahan warga. Akhirnya Fajar membantunya, dengan mensretifikati setiap sawah warga atas nama dirinya. Kemudian dijual secara resmi ke perusahaan perkebunan Dewi.

Batas-batas lahan kemudian diberikan pagar beton, warga kebingungan.merasa khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk pada sawah mereka yang telah memberikan kehidupan pada mereka selama bertahun-tahun. Sedang pengetahuan mereka terbatas, tidak ada tempat mengadu yang mereka ketahui selain kepala desa. Kemudian mereka sepakat untuk mendatangi kantor desa.

Puluhan warga telah menuhi kantor kepala desa. Namun tidak sepatah kata pun yang dapat memberikan penjelasan kepada mereka, terkait sawah mereka yang dikelilingi pagar beton. Kemudian kecurigaan merambat begitu cepat. Kepercayaan warga kepada Fajar hilang seketika.

Sampai pada akhirnya warga benar-benar tidak dapat memasuki lahan sawah mereka sendiri. Dihadang oleh para penjaga. Sedang di dalam pagar, lahan mereka diobrak-abrik, dibentuk sedemikian rupa oleh alat berat, untuk kebutuhan perkebunan.

Belakangan diketahui warga, bahwa dalang dibalik itu senua adalah Fajar, kepala desanya sendiri. Kemarahan warga memuncak, sumpah serapah berkumandang menghiasi senjata tajam yang mereka acung-acungkan menuju rumah Fajar yang sudah berbulan-bulan tertutup rapat.

Api membubung tinggi, satu rumah terbakar hebat pagi hari menjelang siang itu, namun tidak ada kepanikan warga sedikitpun. Rumah Fajar dibakar, berharap orang sisinya tewas terpanggang. Sedang Fajar pagi itu sudah meninggalkan rumah untuk bertemu Dewi, memastikan pernikahan mereka.

Pertemuan itu membuahtangani Fajar kekecewaan. Secara tiba-tiba dewi enggan menepati janjinya untuk menikah dengannya. Dengan perasaan marah, Fajar kembali ke rumah kemudian menyaksikan rumahnya telah habis terbakar. Sedang di sekelilingnya puluhan warga telah hadir dengan ekspresi yang puas. Dan sudah dapat dipastikan orang tuanya tidak ada di kerumunan warga. Hanya terlihat jasad yang menghitam diantara api yang berkobar.

Setelah itu, berjuta penyesalan memenuhi hati dan isi kepalanya. Dihiasi tangis, ia berlari menuju tempat dulu bersama Dewi melihat kereta melintas. Beribu bayangan bersama Dewi melintas, berbarengan dengan kereta yang menyeret tubuhnya belasan meter sampai tak berbentuk.

*Fahman Falahi, Lahir Di Pandeglang Aktif diberbagai aktivitas literasi, saat ini kuliah di Untirta.