Belajar dari Bubur Delan dan Penyesalan

Belajar dari Bubur Delan dan Penyesalan

Biarkanlah nasi menjadi bubur, daripada tidak bisa dimakan sama sekali, atau buatlah bubur dengan sengaja agar dapat menikmati sesuatu yang berbeda”

“Nasi sudah menjadi bubur” biar bubur masih tetap bisa dimakan. Hari raya Idulfitri biasanya banyak menyisakan nasi, karena setiap orang mempersiapkannya untuk memberi kepada saudara dan tetangga. Nasi yang banyak itu jika dihangatkan berkali-kali tentu kurang enak dinikmati, harus ada cara terbaik untuk menikmati nasi tersebut, bolehlah pakailah istilah “Biarkan nasi menjadi bubur” maka dibuatlah nasi tersebut mrnjadi bubur delan, atau bubur terasi atau ada juga yang menyebut bubur sup.

Di labuan Pandeglang Banten, di Desa Banyu Biru bubur ini bukan hanya sajian terpaksa karena banyaknya nasi tapi juga sengaja dibuat dan jika malas memuatnya maka kita bisa membelinya, ada yang menjual bubur dengan campuran terasi dan bawang itu, maka hadapi masalah dengan cara yang kreatif.

Nasi yang banyak tidak habis dimakan akan mubadzir, maka buatlah menjadi bubur dengan mencampurkan sayuran layaknya bahan-bahan membuat sup.

atau jika tidak ada sayuran maka cukup menambahkan pucuk melinjo. Dimasaklah dengan menambahkan bumbu sup seperti biasanya, buatlha bubur dengan air yang lebih banyak supaya bubur benar-benar encer.

Jangan lupa gorenglah terasi dengan irisan bawang merah dan cabai, tunggu sampai harum. Atau jika tidak suka pedas cukup goreng terasi dan irisan bawang. Tunggu sampai wangi dan silahkan nikmati saat masih hangat.

Maka begitulah masalah jadikan masalah sebagai kesempatan, dan jangan jadikan masalah menjadi penyesalan tapi perbaiki dan awal kembali untuk menjadikannya lebih bermanfaat. Biarkanlah nasi menjadi bubur, daripada tidak bisa dimakan sama sekali, atau buatlah bubur dengan sengaja agar dapat menikmati sesuatu yang berbeda.

Maka biarkan nasi menjadi bubur daripada tidak menjadi apa-apa, itulah bubur dan penyesalan.

*Munawir Syahidi