Bercermin dari Bencana, Perlukah Mitigasi Bencana dalam Pendidikan Sekolah?

Bercermin dari Bencana, Perlukah Mitigasi Bencana dalam Pendidikan Sekolah?

Bencana yang sekarang seperti ancaman bagi masyarakat Indonesia secara umum, beberapa kali Tsunami menyerang beberapa wilayah di Indonesia, terakhir di  Selat Sunda pada bulan desember 2018. Tsunami bulan Desember tidak diawali dengan gempa terlebih dahulu, tsunami Selat Sunda ini bahkan tadinya tidak diprediksi BMKG, namun akibat tsunami itu menimbulkan banyak korban jiwa dan berdampak psykologi bagi masyarakat Banten Selatan. Dari bencana ini juga banyak memberikan pelajaran bagi Pemerintah dan masyarakat bagaimana cara menangani dampak dari bencana.

Terakhir gempa yang berousat di sekitaran Pandeglang Banten, Pusat gempa terjadi di 7.54 LS, 104.58 BT, atau 147 km sebelah barat daya Sumur Kabupaten Pandeglang Banten. Episentrum berada di kedalaman 10 Km. Menurut BMKG  gempa tersebut berpotensi Tsunami.

Tetapi kecepatan informasi yang bersumber dari BMKG membuat masyarakat lebih bijak dalam menyikapi gempa tersebut. Walaupun sebagina masyarakat belum terhindar dari panic, sehingga pada saat berdesak-desakan di jalan raya itulah justru kejadian yang membahayakan terjadi. BMKG melalui siaran pers, dan laman resminya menyarankan masyarakat pinggir pantai agar menjauhi laut dengan terlebih dahulu mengklasifikasi kekuatan tsunami, serta terus memantau potensi tsunami sampai status siaga dan waspada dicabut setelah dua jam menunggu sesuai dengan SOP. Alhamdulillah bencana tsunami tidak terjadi. Tetapi rasanya penting sekali untuk mulai memikirkan kurikulum yang memasukan mitigasi bencana dalam pendidikan sekolah, seperti Jepang.

Seperti dilansir dari laman Kumparan. Hayakawa Jun, technical officer dari Ministry of Land, Infrastructure, Transport, and Tourism (MLIT) Jepang dalam kuliah umum mengenai gempa dan tsunami di Jepang dan Indonesia.

Sama seperti Indonesia, tutur Jun, Jepang juga merupakan negara rawan bencana alam, seperti gempa bumi dan tsunami. Karena itulah, Jepang selalu berusaha untuk melindungi negara dan warganya dari bencana alam dengan cara membangun infrastruktur khusus seperti tanggul laut (sea dike). Menurut Jun, infrastruktur seperti itu merupakan investasi karena dapat membantu mengurangi kerugian negara akibat bencana alam.

“Jepang melakukan disaster risk reduction (DRR), caranya membangun sesuatu untuk mencegah terjadinya bencana sebelum bencana itu terjadi. Bukan sesudahnya,” kata Jun dalam kuliah umum di Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia, Kamis (29/11).

Jun mengacu pada bencana gempa dan tsunami di Jepang tahun 2011. Tsunami pada saat itu terjadi lebih tinggi dari tanggul laut, bahkan tanggul tersebut hancur akibat diterjang tsunami. Menanggapi hal itu, MLIT kemudian mengeluarkan rancangan kota untuk menghadapi tsunami dan pembangunan infrastruktur untuk mencegah bencana kembali dilakukan.

Namun, Jun mengingatkan, membangun infrastruktur saja tidak cukup. Di Jepang, pendidikan tanggap bencana pun diberikan untuk meminimalisasi jumlah korban akibat bencana alam. Sejak masih anak-anak, warga Jepang telah diajarkan bagaimana harus bersikap ketika terjadi bencana.

“Setiap tahun, (Jepang) melakukan simulasi evakuasi. Ini sangat penting. Waktu saya kecil, simulasi evakuasi hanya dilakukan untuk gempa bumi. Tapi sekarang, berbagai sekolah sudah melakukan simulasi untuk tsunami juga,” kata Jun.

Salah satu contoh keberhasilan dari simulasi evakuasi saat bencana ini dapat terlihat pada saat bencana tahun 2011 ketika gempa bumi berkekuatan 9 Magnitudo mengguncang Jepang dan kemudian diikuti dengan tsunami. Sebanyak 3.000 siswa SD dan SMP di Unosumai, Kamaishi, Prefektur Iwate berhasil diselamatkan.

Unosumai adalah wilayah yang mengalami kerusakan paling parah di Kamaishi. Namun, 3.000 siswa berhasil menyelamatkan diri dengan cara segera lari ke tempat tinggi. Siswa SMP berlari terlebih dahulu kemudian membantu siswa-siswa lain yang lebih muda. Dari 1.000 korban jiwa di Unosomai, hanya lima yang berstatus pelajar.

Maka mengaca pada keberhasilan Jepang, sepertinya Indonesia harus sudah mulai memikirkan bagaimana mendidik masyarakat dan pelajar dalam mengahadapi bencana.

Walaupun tidak memasukan mitigasi bencana dalam mata pelajaran sekolah setidaknya harus ada sosialisasi secara masiv kepada masyarat dalam menghadapi bencana.

*Munawir Syahidi