oleh

Cahaya Aksara dan Upaya Mencegah Bencana Demografi Melalui Literasi

Oleh : Munawir Syahidi*

Menurut Guru Besar Ekonomi Kependudukan Universitas Indonesia, Sri Murtiningsih, mengatakan bahwa bonus demografi suatu bangsa hanya terjadi satu kali.  Bonus demografi adalah ketika lebih dari 70 persen dari populasi penduduk berusia produktif. Indonesia sendiri akan mengalami bonus demografi pada tahun 2025-2035.

Bonus demografi benar-benar akan menjadi bonus, jika Indonesia siap untuk menyambutnya, tetapi jika Indonesia tidak siap menyambut banyaknya penduduk pada usia produktif maka yang ada bukan bonus demografi tetapi bencana demografi.

Bencana demografi terjadi ketika usia-usia produktif kerja, justru tidak mendapatkan pekerjaan. Tidak mendapatkan pekerjaan, tidak dapat membaca peluang, tidak dapat menciptakan pekerjaan. Menjadi pengangguran.

Menjadi pengangguran bukan hanya bersumber dari tidak adanya lapangan pekerjaan, tetapi juga tidak adanya kreativitas untuk menciptakanpekerjaan.

Tentu saja generasi milenial, tidak diharuskan hanya menjadi mesin pada pabrik-pabrik, tetapi juga didorong untuk menciptakan pekerjaan. Menjadi wirausaha.

Menjadi wirausaha, menciptakan lapangan pekerjaan minimak untuk dirinya sendiri, lebih-lebih bisa menciptakan lapangan kerja untuk masyarakat umum.

Semua hanya akan terjadi jika kualitas SDM Indonesia benar-benar diperhatikan, dengan sistem pendidikan yang menuju pada arah perbaikan kualitas pendidikan.

Indonesia maju, SDM Unggul, menjadi tagline pemerintahan Jokowi, seolah ingin menjadi antitesa atas permasalahan-permasalahan yang terjadi di Indonesia, menyabut bonus demografi 2025.

Beberapa upaya yang terdengar, misal dihilangkannya ujian nasional, menjadi asesmen. Mengejar target penilain dari PISA?, upaya-upaya yang dilakukan akhirnya terkendala dengan datangnya wabah covid 19, menjadikan  ujian nasional ditiadakan. Sekian rentetan ujian yang biaa dilaksanakan siswa ditiadakan.

Memasuki era baru, pendidikan berbasis internet, daring. Dengan berbagai permasalahannya sendiri, terutama berada diwilayah pedesaan, kegiatan pembelajaran online menjadi sangat susah dilakukan karena terkendala akses internet. Walaupun beberapa upaya dilakukan termasuk memberikan paket kuota kepada siswa, berapa kali? Cukupkah untuk belajar siswa di rumah? Yang dari hari-hari kehari terus ditambah karena ancaman covid menurut pemerintah semakin terlihat dan tidak terkendali. Semoga segera berlalu.

Masih ingat apa yang dikatakan Ki Hajar Dewantara, dengan konsep tri pusat pendidikan, pendidikan rumah, pendidikan sekolah dan pendidikan masyarakat. Pendidikan rumah masa pandemi menjadi sangat berperan, walaupun tidak semua orang tua siap menjadi pendidik, pendidikan sekolah era pandemi sepertinya belum siap di digitalisasi, dan pendidikan masyarakat era pandemi memiliki tantangannya tersendiri.

Cahaya Aksara, berada di Kp.Curug Luhur, desa Waringinjaya Kecamatan Cigeulis-Pandeglang Banten, adalah sebuah lembaga yang didirikan untuk ikut terlibat dalam membangun SDM unggul dengan literasi dan pendidikan berbasis vokasi.

Arena cahaya Aksara, Kp.Curug Luhur Desa Waringinjaya Kec.Cigeulis-Pandeglang

Sementara ini anak-anak menjadi fokus pemberdayaannya, dengan harapan, anak-anak di desa ini tidak terlalu gagap ketika memasuki tahun-tahun yang penuh persaingan.

Pendidikan dan  literasi menjadi pondasi yang harus semakin dikuatkan, agar Indonesia benar-benar siap menghadapi bonus demografi. Supaya tidak berubah menjadi bencana demografi.

Upaya-upaya yang dilakukan di Cahaya Aksara diantaranya adalah dengan mendirikan TBM, Taman Bacaan Masyarakat, Taman kanak-kanak dan Pusat Kegiatan Masyarakat.

TBM Cahaya Aksara, mendorong anak-anak untuk gemar membaca buku,  TK Alam Cahaya Aksara diarahkan menjadi lembaga pendidikan untuk anak-anak agar selain memahami dasar-dasar pendidikan yang ilmiah, juga diberikan pendidikan  kepedulian lingkungan. Dan rencana pembentukan Pusat Pendidikan Masyarakat menjadi upaya untuk mengajar ketertinggalan masayarakat yang sebenarnya usia produktif tetapi tidak memiliki legalitas pendidikan formal.

Cahaya Aksara, terus berupaya melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak, agar upaya-upaya yang dilakukan dapat melibatkan lebih banyak kalangan.

Tidak ada jalan lain, bonus demografi harus disambut dengan peningkatan mutu pendidikan, pendidikan rumah, pendidikan sekolah dan pendidikan masyarakat.

Munawir Syahidi* CEO Cahaya Aksara, Kp.Curug Luhur 004/006 Desa Wainginjaya Kecamatan Cigeulis-Pandeglang Banten.

News Feed