Catatan Pementasan “Kampung Online” Paksi MAN 4 Pandeglang

Catatan Pementasan “Kampung Online” Paksi MAN 4 Pandeglang
Anggota Paksi Photo Bersama Setelah Pementasan

Oleh:Munawir Syahidi*

Pementasan yang diawali dengan hentakan lagu Iwan Fals berjudul “lancar” itu membawa para pemain memasuki arena pertunjukan dengan membawa property, seluruh pemain menari dengan gembira, sebuah property gapura bertulisakan “selamat datang di kampung online” itu dinaiki oleh salah seorang aktor yang mengenakan stelan jas,kemeja, dasi, celana hitam dan sepatu mengkilap, dialah yang peranannya belum diketahui sebagai apa dalam pementasan tersebut.

Dalang masuk membawakan narasi pendek tentang kelakuan manusia hari ini, segala sesuatu yang serba online.

Adegan berikutnya para pedagang yang gelisah karena tidak ada yang membeli akibat dari masyarakat yang senang membeli lewat gaway online.

Beberapa adegan menunjukan tingkah polah manusia hari ini, adzan dan bentuk peribadahan sekedar untuk dikabarkan di media sosial, bahkan pengajian di kampung sudah tidak menarik fatwa yang didengar adalah fatwa kiai yang di youtube tapi kadang tetap saja tidak mengubah prilaku yang nontonnya, memperbandingkan dengan fatwa ustadz di tempatnya tinggal, maka lahirlah ustadz kampung. Segala sesuatu menjadi bias, kebenaran bukan dilaksanakan tetapi terus dipertentangkan.

Dari sisi hiburan, pementasan ini dikemas komedi, dengan penekanan pada petkawinan tokoh Udin yang menikahi Raiso gadis yang didapatkan udin melalui Facebook berparas cantik, tetapi setelah akad dan cadar Raiso di buka kenyataannya Raiso jauh beda dengan gambar di facebook, sehingga kekacauan terjadi dua keluarga berseteru.

Lelaki setelan jas itu adalah pengamat, dia kemudian mengatakan bahwa media sosial menjadi tong sampah raksasa karena manusia tidak memiliki kerendahan hati sama sekali, semua ingin dipuji dan kita nyaris tidak memiliki kerendahan hati.

Maka dibacakanlah puisi karya Taufik Ismail, kerendahan hati.

Pementasan berakhir, ditutup dengan lagu Seikoji “Online-online” disambut dengan tepuk tangan penonton, dan pementasan ditutup oleh dalang.

Catatan Proses, saya pribadi selaku pembina Teater Paksi mengapresiasi ini denagan kebanggan, karena proses yang mereka lakukan nyaris tanpa instruksi, mulai dari pembuatan naskah, casting, property, kekaroran dan sutradara adalah mereka sendiri.

Baru tahun ini saya melepas mereka berproses, karena bagi saya berhasil adalag ketika mereka mampu berkarya, mandiri dan berusaha sempurna.

Selamat untuk kalian yang dapat mementaskan pementasan dengan maksimal, dengan semangat, hasil pemikiran mereka sendiri. Itulah kesenian, ekspresi pemikiran, dan hasilnya adalah kesadaran, bagi pemain dan penonton, karena kesenian harus menyampaikan kebenaran menumbuhkan kesadaran.

*Pembina PAKSI MAN 4 Pandeglang