Catatan Pementasan Lakon Di Balik Layar

Catatan Pementasan Lakon Di Balik Layar

Oleh:Munawir Syahidi*

 

Catatan Pementasan Teater Lakon Di Balik Layar
Paksi MAN 4 PANDEGLANG

Sejatinya kesenian bukan hanya hadir sebagai bentuk ekspresi saja. Kesenian harus hadir sebagai pengejawantahan fikiran dalam merespon segala gejala sosial masyarakat.

Dan begitu juga seharusnya teater. Teater hadir bukan hanya sebagai bentuk hiburan, bukan hanya sebagai bentuk pemanggungan dengan makna kosong, dia harus mampu menghadirkan makna melalui gerak dialog dan latar, atau salah satunya saja.

Tadinya catatan ini tidak akan saya tulis, tetapi melihat berita dan gambar yang berseliweran di media sosial tentang Jokowi dan Parabowo yang berpelukan dalam balutan warna merah dan putih itu membuat saya berusaha menuliskan catatan pementasan di balik layar yang diproduksi oleh teater Paksi MAN 4 Pandeglang.

Naskah itu lahir dari sebuah kegelisahan panjang tentang hajat demokrasi yang akan dilaksanakan tahun 2019 nanti, yang rasanya uporianya sudah sangat terasa sejak hari ini, uporia yang tidak didasarkan pada kesadaran fikiran, cacian hinaan, hasud dan penggiringan opini palsu terus saja masuk kedalam ruangan fikiraj kita melalui telpon genggam kita yang pintar itu.

Pementasan yang mengedepankan simbol-simbol itu dipentaskan pada perayaan ulang tahun Republik Indonesia tahun 2018 di arena terbuka Sukajadi Cibaliung.

Lagu Iwan Fals “Asik gak asik” membuka pementasan menggiring para pemain masuk arena dari dua arah, dua kelompok yang berseteru membela calonnya masing-masing, serupa itukah kita hari ini?

Ikut juga para calon yang mereka sebenarnya akrab, keakraban yang mungkin dibuat-buat, atau memang akrab pada dasarnya sebagai bentuk kedewasaan berpolitik, pada satu sisi malah berbeda jauh dengan pendukungnya yang saban hari semakin meruncing.

Lagu iwan fals, asik gak asik,.menghentak terus “Dunua politik penuh dengan intrik ….. pesta pora para binatang berjoget dengan asik …. walau tahu jagoannya ngibul walay tahu dapur gak ngebul….

Semua aktor terhenti, mereka bergumam berirama sangat keras, mengelilingi kursi yang sangat tinggi sekali, kursi simbol kekuasaan, semua aktor berebutan ingin mendapatkan kekuasaan itu.

Dalan pementasan itu bahkan ada tiga calon, mungkinkah itu poros ketiga?

Tapi semua sejak awal kedua calon itu mengatakan bahwa mereka yang banyak uang, seolah bahwa yang banyak uang itulah yang menang.

“Aku banyak uang, aku pasti menang ! ” kata calon pertama dengan menggebu-gebu,
Disambut oleh masyarakat “Dia banyak uang dia pasti menang !”

Yang seolah menunjukan bahwa masyarakat masih senang disuap. Masyarakat menyambut dengan antusias, dia yang banyak uang.

Tapi datang lagi calon yang lain, “Aku lebih banyak uang, aku pasti menang !”
Dan masyarakat mrnyambut dengan bahagia, “Dia lebih banyak uang, dia pasti menang !”

Calon kedua, disambut dengan bahagia, calon pertama dibuang, dan dilupakan, menggabarkan banyaknya uang menjadi penentu kemenangan.

 

*Penonton Setia Proses Paksi MAN 4 Pandeglang