Cerita Segelas Kopi

Cerita Segelas Kopi

Cerita Segelas  Kopi

Oleh:Munawir Syahidi

Pada dingin cuaca.Seorang bocah telah siap dengan kantong plastik ,setahun dia ditinggalkan kedua orang tuanya ke kota di Jawa, mungkin ke Jakarta.

Kebun kopi di Sumatra, sudah dimiliki yang kaya saja.

Orang tuanya pergi, dia bersama neneknya yang renta,  pagi itu, pada dingin cuaca.

Ia masuki kebun kopi yang telah dipanen pemiliknyab, beberapam jatuh ke tanah atau dimakan musang dan dia memungutnya.

Dia jual kopi itu, hasilnya sekedar untuk membeli obat warung, neneknya sejak kemarin diserang panas dingin.

Pak Umar, memang seorang pengepul kopi di kampungnya, dalam jumlah kecil, jika hari pasar tiba, hari Selasa dibawalah kopi itu ke bos yang lebih besar, termasuk kopi dari si bocah bernama Amin itu.

Kopi Amin, dicampurkan dengan kopi-kopi yang lain, dalam jumlah besar kopi hasil Amin memungut itu juga diangkut menggunakan mobil truk menuju Jakarta. Sekitar satu kilogram kopi yang Amin dapatkan, bercampur dengan kuintalan kopi ditampung bos yang lebih besar, di Jakarta.

Kopi itu kemudian dikirim ke perusahaan kopi, diproses, dikirm ke cafe-cafe, dikirim ke pabrik kopi untuk dikemas dalam berbagai bentuk.

Bapaknya Pagi itu, disebuah lampu merah sibuk mengasong kopi dalam bentuk sachet, mungkin juga kopi yang dipungut Amin, yang masuk pada sachet kopi yang dijajakan ibunya.

Atau kopi yang dipungut Amin itu, masuk pada kopi yang diracik ibunya di sebuah warung didalam terminal tempat para sopir beristirahat sekedar menikmati kopi dan keriuhan kota.

Mereka berhenti cukup lama, katanya, jika jalan sekarang maka percuma, jalan macet, karena jalur yang akan mereka lewati sedang dihadang oleh Mahasiswa yang akan bedemonstrasi. Mereka, sopir, lintas provinsi, tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi, tetapi melalui gadget mereka mengkonsumsi berita yang tidak dapat mereka saring.

Plat nomor mobil “BE” itu baru saja melakukan perjalanan ekspedisi, mengangkut kopi dari Sumatera menuju Jakarta, membawa kuintalan kopi, dari petani di Sumatra, dan di riuh Jakarta dia menikmati kopi olahan pada sachet kopi yang dituangkan Ibunya Amin, yang setia memungut kopi yang jatuh ditiup angin dan dibuang musang. Setiap pagi saat dingin cuaca, untuk bertahan hidup dan membeli obat warung untuk neneknya Amin setia memungut biji kopi di kebun milik orang lain, sambil berharap, kabar mengenai  ibu dan bapaknya datang sekedar membawa berita bahwa mereka baik-baik saja.

Kata orang kesehatan yang datang berkunjung ke kampungnya untuk bakti sosial, neneknya harus berhenti meminum kopi. Agar segera sembuh. Pagi itu pada dingin cuaca, Amin semakin semangat memungut kopi. Dia belum sempat menikmati kopi.

 

*Munawir Syahidi, TBM Saung Huma, Penulis novel “Di Sudut Senja”