Dongeng Nyi Jompong

Dongeng Nyi Jompong

Alkisah, pada jaman Kolonial Belanda di sebuah perkampungan   tedapatlah seorang gadis yang sangat cantik jelita anak tunggal dari  keluarga petani yang hidup masih dalam kekurangan.

Nyi Jompong, begitulah nama gadis desa yang kecantikannya dikenal oleh setiap pemuda, dia tidak pernah peduli dengan kecantikan wajahnya dan dengan sanjungan-sanjungan para pemuda.

Hari itu mentari menampakan keindahannya yang menyelinap diantara rimbunnya pepohonan, seperti  Nyi Jompong pagi itu. Dia mandi dan mencuci pakaian di sebuah mata air di pinggir desa bersama para gadis-gadis desa yang sebenarnya merasa iri dengan kecantikan Nyi Jompong. Apalagi pagi itu sinar mentari seakan mengerti dengan kecantikannya. Kain bermotif batik yang dikenakannya, dengan senyuman yang khas membuat setiap pemuda yang melihatnya terpukau.      Mentari mulai meninggi, Nyi Jompong dan para gadis desa lainnya mulai kembali ke rumahnya masing–masing.

“Nyai, nyai…!” terdengar ayah Nyi Jompong memanggilnya yang baru saja selesai menjemur pakaian.

“Kah! Aya priogi naon pak?” Nyi Jompong menemui ayahnya yang pada saat itu sedang asyik menghisap udud[1].

“Nyi, dinten ieu nyai teu keudah ka sawah!” Perintah ayahnya.

Nyi Jompong tampak kebingungan karena biasanya dia setiap hari selalu ikut membantu ayah dan ibunya di sawah meyiapkan  makan siang, “bapak aya naon, nyai teu keudah ngiring ka sawah?”

Dengan begitu tenang bapaknya menjawab, “Jadi nyai dinteun ieu nutu pare wae!”  Nyi jompong tahu jika persediaan beras mulai habis, Nyi Jompong hanya menjawabnya dengan isyarat anggukan diiringi dengan senyuman dan kemudian dibalas pula dengan senyuman ibunya yang dari tadi terdiam mendengarkan percakapan mereka.

Berangkatlah kedua orang tuanya meninggalkan rumah menuju sawah yang lumayan jauh. Sedangkan Nyi Jompong mulai mempersiapkan pekerjaannya, lesung yang panjang dengan padi yang terlihat kuning mengkilap mulai dia tumbuk dengan irama sebuah nyanyian cingcangkeuling dengan begitu merdu mendayu-dayu, menerbangkan angan menuju nirwana.

Saat asyik menumbuk padi terlihatlah seorang pemuda dengan langkah yang begitu pasti dengan tubuhnya yang kekar menuju rumah Nyi Jompong, tapi Nyi Jompong berpura-pura tidak menyadari akan kedatangan pemuda itu. Dia terus saja menumbuk padi.

“Nyai anjeun parantos ngajadikeun hati kaula teu tangtu.” Celoteh pemuda yang bernama Ciriwis itu.

Nyi jompong terus saja melanjutkan pekerjaannya tanpa pernah menghiraukan apa yang sedang dibicarakan Ciriwis. Dia tahu Ciriwis adalah pemuda yang telah beberapa kali ditolak lamarannya dan beberapa kali pula berkelahi dengan para pemuda lainnya dan tidak pernah terkalahkan sehingga tidak ada yang berani melarangnya menemui Nyi Jompong.

Seperti sebuah kebiasaan para pemuda di kampung ketika berkunjung ke rumah seorang gadis, dia akan memainkan seruling di hadapan gadis yang diinginkannya. Begitu juga dengan Ciriwis yang pantang menyerah untuk menarik hati Nyi Jompong sang bunga desa yang cantik jelita.

Pengorbanan Ciriwis yang mempertaruhkan jiwanya untuk mendapatkan Nyi Jompong dengan mengalahkan semua saingannya justru menjadi bumerang. Karena Nyi Jompong tidak ingin dijadikan sebagai sebuah taruhan para pemuda kampung. Dan dia belum pernah berfikir untuk mempunyai seorang pendamping.

Alunan seruling Ciriwis yang merdu terhenti oleh suara tongtong. Suara itu mengisyaratkan bahwa hari itu adalah hari dimana para penduduk kampung harus menyerahkan upeti kepada pemerintahan Belanda yang berupa hasil bumi.

Para serdadu Belanda memasuki setiap rumah untuk mengambil upeti bahkan mereka tidak segan-segan membawa dan menjamahi para gadis. Terdengar teriakan para gadis yang diperlakukan tidak senonoh oleh para serdadu Belanda.

“Ampun tuan… ampun!” Para gadis menangis dan memohon ampun, tapi apalah daya para serdadu yang memang sudah lama meninggalkan istri-istrinya di negeri mereka, sehingga sudah lama tidak memenuhi kebutuhan biologisnya.

Nyi Jompong tampak ketakutan, dia masuk kedalam rumah meninggalkan pekerjaannya kemudian menutup pintu, tapi para serdadu Belanda terlanjur terpesona dengan kecantikan Nyi Jompong.

“Hai Nyai… Cepatlah keluar dan kita bercinta!” Teriak salah satu serdadu Belanda sambil memukul-mukul pintu rumah Nyi Jompong.

Ciriwis yang saat itu berdiri lantas berteriak, ”Hai kau penjilat sialan!”

Serdadu itu menoleh dan meludah di hadapan Ciriwis, “Oh kau mau jadi pahlawan rupanya!” ujarnya sambil tertawa.

Tapi pukulan keras Ciriwis terlanjur mengenai muka serdadu Belanda tersebut sehingga ia tersungkur tak berdaya. Ciriwis bertolak pinggang dan bergumam, “Kau berani-beraninya menggangu bunga desa yang akan menjadi istriku.”

Menyadari salah satu serdadunya ada yang terjatuh maka para prajurit itu mengeroyok Ciriwis, tetapi sia-sialah yang mereka lakukan karena mereka terlalu lemah untuk melawan Ciriwis.

“Sudahlah kalian pergi saja! Katakan pada atasan kalian, jangan pernah bermimpi bisa mengalahkanku!” Ancam Ciriwis. Akhirnya mereka pergi meninggalkan kampung tersebut.

Begitu genting keadaan kampung hari itu, sedangkan Nyi Jompong tidak berani keluar rumah sampai kedua orang tuanya datang ketika mentari tenggelam. Ibunya tahu putrinya sudah mengalami sesuatu karena terlihat dari raut wajahnya yang ketakutan, “Nyai aya naon? Nyai katingali teu tenang.”

Nyi Jompong menundukan wajah. “Aya naon, nyai?” Ibunya bertanya kembali.

“Tadi aya tuan belanda ngacak-ngacak kampung.” Jawab Nyi Jompong dengan terbata-bata.

Ayahnya terdiam dan hanya menarik nafas panjang, karena diapun telah menyadari ketika dia masuk kampung banyak para gadis yang menangis. Keluarga Nyi Jompong dan penduduk kampung dihantui rasa takut, hingga waktu malam terasa begitu lama.

Hingga akhirnya suara ayam terdengar di setiap rumah penduduk, menandakan telah berakhirnya malam, mentari mulai merayu membuai burung-burung di pepohonan untuk berkicau dan mendayu. Tersiarlah sebuah warta seorang pemuda telah meninggal dengan lubang peluru di kepalanya.

Semua penduduk desa menyadari bahwa yang terbunuh adalah Ciriwis, seorang pemuda yang kemarin mengalahkan semua serdadu Belanda. Dan semua menyimpulkan bahwa yang melakukan pembunuhan itu adalah orang Belanda karena hanya mereka yang memiliki senapan pada saat itu.

Selang beberapa waktu kemudian datanglah seorang laki-laki berkuda dengan beberapa pengawalnya, yang tidak lain adalah tuan besar Belanda. “Hai penduduk kampung aku tahu di sini ada seorang wanita yang cantik jelita!” Tuan besar berkata tanpa turun dari kudanya.

Semua penduduk tidak ada yang menyahut, mereka hanya melirik kepada Nyi Jompong yang saat itu berdiri dan merasa ketakutan.

“Kau, Nyai!” Tuan besar menunjuk kepada Nyi Jompong sambil turun dari kuda dan beranjak menemui Nyi Jompong. Sedangkan Nyi Jompong menunduk sambil memegang erat tangan ayahnya.

“Nyi, maukah nyai menjadi istriku?” Tuan besar Belanda berkata dengan tegas.

Sementara Nyi Jompong makin ketakutan. ”Tuan besar, hapunteun permintaan tuan tidak dapat saya penuhi!” Tegas ayahnya yang dihantui ketakutan.

Tuan besar menahan amarahnya dan masih coba berkata, ”Nyai, jika nyai menjadi istri saya maka nyai akan hidup bahagia”.

Tapi Nyi Jompong tidak menjawab, rasa takut benar-benar bersarang di jiwanya. “Baiklah, jika lamaran saya ditolak, saya terima itu!” Tuan besar berkata sambil tersenyum sinis dan meninggalkan perkampungan.

Waktu siang tiba penduduk mulai sibuk kembali dengan pekerjaanya, meskipun begitu mereka tetap membicarakan apa yang telah terjadi tadi.

”Bapak sareng ibu dinteun ieu moal kasawah, nyai.” suara bapak Nyi Jompong memberi tahu kepada putrinya.

“Bu, pak, nyai bade kasawah bade ngala tutut” tutur Nyi Jompong.

Sebuah kebiasaan Nyi jompong makan dengan tutut, sejenis keong kecil berwarna hitam yang ada di sawah dan biasa dikonsumsi penduduk desa yang tanpa mengengeluarkan biaya sedikitpun untuk mendapatkannya. Kedua orang tuanya saling berpandangan sebelum akhirnya mengijinkannya berangkat tanpa ada yang menemaninya.

Berangkatlah Nyi Jompong menuju sawah untuk mengambil tutut, dia membawa boboko[2], haseupan[3], dan parang. Nyi Jompong mengumpulkan banyak tutut dengan membersihkan terlebih dahulu bagian belakang tutut tersebut, sebelum ia masukkan ke dalam boboko.

Karena hari telah mulai senja, Nyi Jompong beranjak pulang dengan membawa barang-barangnya. Di tengah perjalanan dia putuskan untuk mandi terlebih dahulu. Tanpa pernah ia sadari ada yang mengikutinya.

Kemudian Nyi Jompong menyadari ada yang mengintainya, hingga akhirnya dia putuskan untuk cepat-cepat menyelesaikan mandi dan bergegas pulang. Nalurinya benar, tiba-tiba terlihatlah seorang pria berkuda dengan tali tambang yang besar dan dilengkapi dengan sebuah senapan. Pria itu tidak lain adalah tuan besar Belanda.

Menyadari adanya bahaya besar, Nyi jompong berlari dan terus dikejar oleh tuan sambil tertawa puas sehingga haseupan Nyi Jompong jatuh. Dia semakin berlari kencang tanpa henti sehingga jatuhlah parang dan bobokonya yang berisi tutut yang sudah tak berekor.

Akhirnya Nyi Jompong tersudut pada sebuah jurang yang curam. Dia pun menjatuhkan diri ke jurang hingga tiga kali benturan yang mengakibatkan Nyi Jompong tewas dengan bagian tubuhnya yang terpisah-pisah.

Kematian Nyi Jompong menjadi sebuah pelajaran bahwa seorang gadis haruslah menjaga kehormatan dirinya dan kelurganya, karena kehormatan tidak bisa diperjual-belikan. Lebih baik mati untuk mempertahankan kehormatan dari pada hidup dalam kenistaan.

Peristiwa itu sekarang menjadi sebuah tempat yang dikenal oleh penduduk sekitar. Haseupan Nyi Jompong yang jatuh, sekarang tempat itu disebut orang  Leuwi[4] Haseupan. Parang yang terjatuh menjadi Leuwi Arit, karena parang di daerah tersebut biasa disebut Arit. Kemudian Boboko yang terjatuh beserta tututnya itu menjadi Leuwi Boboko dan diyakini jika di leuwi Boboko itu ada tutut yang hidup tanpa ekor.

Tempat Nyi Jompong menjatuhkan diri tersebut kemudian  disebut orang dengan Curug Nyi Jompong, curug dalam bahasa Indonesia disebut air terjun. Salah satu bagian tubuh Nyi Jompong konon menjadi batu yang hanya berbentuk alat reproduksinya yang mengeluarkan air. Bahkan penduduk setempat ada yang mengatakan dulu setiap bulannya mengeluarkan darah sebagai tanda menstruasi, kemudian karena sekarang sudah tua maka tidak lagi menstruasi (monopause).  Bukti lainnya di sekitar tempat itu terdapat tapak kuda dan tapak tali panjang juga tapak senapan pada batu-batu di lokasi tersebut.

Demikianlah dongeng Nyi Jompong masyarakat Cibaliung, kabupaten Pandeglang. Semoga dapat dilestarikan dan diambil hikmahnya.

 

Oleh: Munawir Syahidi*

* Penulis adalah masyarakat Cibaliung