Hadiah untuk Sang Cucu dari Seorang Menteri

Hadiah untuk Sang Cucu dari Seorang Menteri

Melihat pejabat negara hari ini mungkin akan berbeda dengan pejabat sederhana yang hidup terdahulu. Hidup sederhana. Walaupun tidak semuanya hidup sederhana.

Anak istri, cucu dan keluarganya hidup dalam kemewahan.

Yuk coba belajar dari Bahruddin Lopa.
Bagaimana dengan dengan Baharuddin Lopa? Lopa, panggilan akrab Baharuddin Lopa, adalah legenda tentang aparat negara yang jujur, sederhana, serta tegas.

Lopa menjadi teladan tentang pentingnya kejujuran dalam menjalani tugas-tugas keseharian sebagai abdi negara.

Banyak cerita kesederhanaan Menteri Kehakiman dan HAM ini di era Presiden Abdurrahman Wahid ini. Salah satunya tentang rumahnya yang sangat sederhana di kawasan Pondok Bambu, Jakarta Timur.

Begitu pula mobil Toyota Kijang-nya yang juga sangat sederhana untuk ukuran seorang pejabat setingkat menteri.

Di luar itu, ada sebuah cerita menggetarkan tentang kesederhanaan Lopa seperti ditulis dalam buku Apa dan Siapa Baharuddin Lopa, karya Hendro Dewanto dkk.

Peristiwa ini terjadi saat Lopa menjabat sebagai menteri pada kurun Februari sampai Juni 2001. Suatu ketika, Lopa pulang dari kantornya di Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, menuju rumahnya di Pondok Bambu.

Kepada ajudannya, Enang Supriyadi Samsi, Lopa meminta mampir dulu ke Bekasi untuk menjenguk cucunya, anak dari putrinya Aisyah. Sopir pun mengarahkan mobil menuju rumah Aisyah di Bekasi.

Di tengah perjalanan, Lopa singgah lebih dulu di sebuah mal, membeli sesuatu untuk cucunya. Menurut Enang, saat itu pengunjung mal menatap Lopa dengan penuh hormat.

Lopa lantas membeli sebuah mainan anak-anak yang terbuat dari plastik. Enang lupa dengan sebutan nama tersebut.

Dia hanya mengingat, bentuknya sederhana hanya tangkai plastik, di atasnya berbentuk lingkaran yang apabila diputar mengeluarkan bunyi-bunyian. Harganya murah hanya Rp7.500.

Kasir pun terheran-heran saat Lopa membayar mainan itu. Pikir kasir itu, hanya menteri Lopa yang membeli mainan untuk cucunya semurah itu.

Enang pun mengaku merenung sepanjang perjalanan menuju rumah Aisyah. Sungguh sebuah teladan kesederhanaan yang luar biasa dari seorang Baharuddin Lopa.

Dikutip dari berbagai sumber