Hatta: Memulai Kreasi Batok Bukan dari “Nol” Tapi dari “titik”

Hatta: Memulai Kreasi Batok Bukan dari “Nol” Tapi dari “titik”
Stand Kreasi Batok Mekarsari HUT RI 71 di Cibaliung

Semburat.com- CIBALIUNG, Hatta Suhata adalah seorang lelaki yang saya kenal dari facebook, dalam hati saya kadang bertanya siapakah sebenarnya dia? Sempat merencanakan bertemu tapi belum juga terlaksana. Sampai suatu ketika melalui akun Facebook dia update mengenai siapakah yang bisa membuatkan banner  untuk pameran kreasi batok miliknya pada perhelatan PHBN Cibaliung 2017. Dari itulah kemudain dia menelpon akan ke kediaman saya TBM Saung Huma, sekitar jam  tujuh malam dia datang dan mulailah perkenalan yang ditemani kopi dan asap rokok dari miliknya mewarnai obrolan kami.

Kreasi Batok Mekarsari yang berada di Kp.Mekarsari Desa Cikadu Kecamatan Cibitung itu adalah milik Hatta Suhata lelaki yang sedang menyelesaikan kuliah di jurusan teknik sipil di UNMA Banten itu awalnya adalah seorang tukang kayu, pembuat mebeler yang berasal dari Kecamatan Sobang. Nasib pernikahan yang membawanya ke daerah Cibitung daerah yang terkenal dengan fasilitas inprastruktur yang masih buruk itu. Dia mengaku keadaan ekonomilah yang membuat dia menjadi seorang pengrajin batok. Walaupun awalanya ada yang menertawakan ketika di mengambil batok kelapa dari hutan, mereka bilang “Batok itu tidak akan jadi duit” tapi tekad yang kuatlah yang akhirnya membaut dia terus berusaha, dengan dukungan teman-teman kampusnya. Obrolan malam itu yang sesekali diselingi dengan tertawa renyah di ruangan sempit di kediaman saya.

Pertemuan membuat banner itu yang dapat menjadikan saya banyak tahu tentang kegiatannya, dia bercerita dengan kemauan yang keras dia dapat mengikuti pameran  dari Pandeglang sampai  Tangerang dengan hanya membawa kreasi batok.

“Kalau orang lain memulai sesuatu dari nol, maka saya memuai Kreasi Batok Mekarsari ini dari titik yang belum berbentuk nol” kata Hatta Suhata. Keterpurukan keuangan membaut dia harus berusaha membuat kreasi batok itu, ditengah keuletannya membuat kreasi Allah memberikan cobaan lain,

“Salah satu anak saya meninggal karena sakit” Kata Hatta sambil menatap wajah anaknya di potret Notebook yang sedang memegang kreasi batok miliknya.

“Kemarin SEKDA Kabupaten Pandeglang datang ke tempat kami, yang akhirnya memberikan ruang kepada saya untuk pameran di Pesta Rakyat Cibaliung, dan  karena saya butuh banner maka bertemulah kita” Kata Hatta sambil membuang bontot ke asbak.

Malam itu obrolan kami berhenti karena malam telah larut, kopi telah habis dan mata telah mengantuk.

Saat pameran di PRC (Pesta Rakyat Cibaliung) saya lihat dia sedang asik membersihakn batok kelapa, di satand yang konon itu dari DINKOP Pandeglang, yang disediakan untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah itu berjejer dengan pengisi stand yang lain yang tak kunjung terisi.

Kunjungan Ibu Bupati Irna ke Stand Miliknya memberi penghargaan tersendiri untuknya, “Ibu Irna memesan piring lidi untuk digunakan di pendopo” ungkap Hatta ketika saya berkunjung ke stand miliknya.

Dia berharap ada perhatian serius dari senmua kalangan untuk menggali potensi daerah, untuk dibaktikan kepada Negara.

(Redaktur)