Honorer Bukan Atlet yang Juara dalam Asian Games

Honorer Bukan Atlet yang Juara dalam Asian Games

Ini hanya sebuah opini dari masyarakat awam. Perihal pengangkatan PNS untuk guru honorer selalu menjadi wacana yang hangat untuk dibicarakan, honorer K1 dan K2 yang sebagian sudah diangkat menjadi CPNS masih menyisakan ribuan orang.

Tuntutan dari honorer memang mendasar secara kemanusiaan, jumlahnya yang banyak dengan pengalokasian dana dari APBN sebanyak 20 persen dikatakan keuangan belum mampu mengangkat honorer menjadi PNS.

Sebenarnya menuntut PNS atau kesejahteraan? minimalnya walaupun tidak menjadi PNS tapi gajinya harus sesuai dengan kebutuhan hidup yang dihadapi. dibeberapa daerah, misalnya di Banten, guru honorer tingkat SLTA Negeri dibayar oleh pemerintah Provinsi Banten dengan bayaran yang lumayan besar, walaupun PNS masih menjadi tujuan. Itu untuk SMK dan SMA  yang negeri, yang swasta bagaimana? nasibnya berbeda dan masih jauh dari layak, jika rizki hanya mengandalkan gaji, Maha Pengasih Allah.

Begitu juga dengan honorer di tingkatan SD-SLTP juga jauh dari kata layak. Dengan berbagai kondisi dan tantangan dilapangan yang memperihatinkan.

“Mencerdaskan kehidupan bangsa” sepenggal kalimat dari pembukaan Undang-undang Dasar 1945, tujuan yang mulia yang dilakukan seorang guru adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.

Setiap hari bejibaku dengan pekerjaan, perangkat pembelajaran sebagai kewajiban mengajar sebagai sebuah keharusan, profesionalitas diutamakan tapi gaji dan penghargaan sepertinya masih dilupakan.

Kabar adanya pembukaan CPNS melalui seleksi, ternyata masih menimbulkan kegamangan dan kekecewaan karena Menpan-RB menyatakan honorer harus ikut seleksi CPNS yang usianya dibawah 35 tahun, pertanyaanya bagaimana yang sudah mengabdi puluhan tahun dan belum diangkat CPNS sementara usianya sudah lebih dari 35 tahun?.

Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Melalui tulisan ini saya mengapresiasi pemerintah yang memberikan bonus bagi para atlet yang juara pada Asian Games 2018. Karena itu layak dan penting bagi para atlet yang sudah mengharumkan nama negara dibidang olahraga.

Dilansir dari detik, menpan RB Syafruddin sedang mendata jumlah atlet yang terlibat dalam Asian Games 2018.

Dalam perhelatan Asia itu Indonesia meraih total 30 emas, 22 perak dan 37 perunggu. Sebagai bentuk apresiasi, pemerintah telah menjanjikan bonus berupa uang tunai dan jabatan PNS.

Masing-masing atlet peraih medali emas mendapatkan uang sebesar Rp 1,5 M. Sementara peraih medali emas di nomor ganda/pasangan sebesar Rp 1 M per-orang, dan emas beregu Rp 750 juta per-orang. Peraih perak perorangan mendapatkan Rp 500 juta, perak untuk Ganda sebesar Rp 400 juta per-orang, dan perak beregu Rp 300 juta per-orang.

Untuk peraih perunggu perorangan mendapatkan Rp 250 juta , perunggu untuk ganda Rp 200 juta per orang, dan peraih perunggu beregu sebesar Rp 150 juta per orang.

Bonus tersebut pun sudah langsung berikan pada Presiden RI Joko Widodo, bersama Menpora Imam Nahrawi. Penyerahan bonus itu dilakukan pada hari minggu (2/9/2018) di Istana Presiden.

Terkait janji PNS, Menpan-RB sekaligus CdM Asian Games Syafruddin memastikan hal itu sedang dalam proses. Dalam waktu dekat, para atlet akan mendapatkan status PNS tanpa tes.

Kalau boleh bermimpi sekiranya pelaksanaan seleksi CPNS hanya untuk tenaga honorer diutamakan untuk yang sudah mengabdi dengan hitungan tahun tertentu sebagai bentuk apresiator kelada guru, jangan-jangan para atlet Asian Games yang juara awalnya adalah didikan guru honorer?

Entahlah, dan sudahlah guru memang sudah diakui sebagai pahlawan sejak dahulu kala, Pahlawan tanpa tanda jasa. Jadi wajar kalau jasa guru tidak ada tandanya.

Tapi yakin dan percayalah, rizki dan keberkahan hidup dijamin oleh Tuhan, tetap semangat dan istiqomah, semoga para honorer tetap diberikan ketabahan. Karena tanpa guru Indonesia tidak akan mencapai kemajuan dalam bidang apapun.

*Munawir Syahidi-Guru Honorer