Imah-Imahan, di Saung Huma Smart tanpa Smart Phone

Imah-Imahan, di Saung Huma Smart tanpa Smart Phone

Imah-imahan adalah lakon yang paling luar biasa yang dapat saya lihat, mereka membagi peraan masing-masing juga membawa properti masing-masing.

Taman Bacaan Masyarakat Saung Huma adalah TBM yang ada di Kp.Cururg Luhur Desa Waringinjaya Kecamatan Cigeulius. Taman Bacaan yang menjadikan alam terbuka sebagai tempat aktivitas ini adalah TBM Pindahan dengan nama yang sama dan pegiat yang sama, yang awalnya dari Kecamatan Cimanggu.

Kalau anda dari arah Pandeglang menuju Kecamatan Sumur maka anda akan menemukan tugu perbartasan Cibaliung-Cigeulis, beberapa meter dari perbatasan itulah, sebelah kiri tepat ujung tanjakan kecil itu ada jalan berbatu, itulah jalur Kp.Cikondang Curug Luhur dimana TBM Saung Huma berada, pertama ana akan menemukan jalan rusak yang kiri kanan adalah rumah warga, setelah itu adalah kebun jati putih beberapa meter dan sepertinya tidak ada kehidupan setelah itu, jalan yang sudah di aspal mulus itulah, di ujung jalan itu tepat sebelah kiri ada rumah kecil mirip sekolah, itulah tempat aktivitas anak-anak kampung yang kemudian saya sebut Taman Bacaan Masyarakat, biar sama dengan kegiatan serupa di Indonesia. Taman Bacaan Masyarakat yang belum ada saungnya.

Saya cukup memiliki harapan besar, sejak awal saya perkenalkan anak-anak untuk datang setiap minggu ke TBM Saung Huma mereka malu-malu kucing. Siapakah orang asing yang mengajak mereka untuk membaca, tapi mereka mau datang juga dengan iming-iming, sebatang pulpen atau apa saja. Setiap minggu yang rutin, yang kami berikan nama acaratersebut NGASEUK (Ngariung Santai Edukasi Untuk Kehidupan) Mengapa nama acaranya Ngaseuk? Karena Saung Huma selalu berkaitan erat dengan Huma yang cara menanamnya disebut dengan ngaseuk. Mereka yang datang kemudian dengan kesadaran dan tanpa iming-iming, menganggap bahwa kegiatan ini penting dan dapat mendongkrak prestasi mereka di sekolah. Kita lupakan dulu itu, saya hendak berbicara lingkungan dan karakter anak.

Anak-anak disini beberapa ditinggalkan bapaknya merantau, mereka anak kampung tulen, yang menonton televisi bukan kegiatan yang rutin dan harus, tidak ada serial pavorit yang mereka senangi. Diwaktu libur mereka beberpa gunakan untuk mengurus kebutuhan pribadi mereka, mencuci sendiri pakaian mereka di mata air, setelahnya mereka datang ke Saung Huma untuk sekedar membaca buku atau mendengarkan dongeng.

Mereka bermain di sawah, mereka memungut biji melinjo, mereka mencari ikan di aliran sungai, mereka memanjat buah kacapi, mereka bermain kelreng, mereka bermain lumpur, atau ketika siang, anak-anak perempuan datang ketempat biasa mereka membaca buku, mereka melakukan hal yang luar biasa sebagai seorang anak, Imah-imahan. Imah-imahan adalah lakon yang paling luar biasa yang dapat saya lihat, mereka membagi peraan masing-masing juga membawa properti masing-masing.

Imah-imahan, berarti rumah-rumahan, segala aktivitas di rumah yang mereka perankan dengan peran masing-masing, misal ada yang menjadi seorang ibu, maka dia memasak, menggunakan batok, daun-daunan dan apa saja, ada yang berpura-pura mengasuh anak, membawa boneka, ada juga yang bahkan menjadi pedagang, kain si anak membawa pakaian, kemudian pura-pura datang ke rumah yang tadi masak meudian terjadi tawar-menawar dan lai n sebagainya. Bahagia sekali, mereka merefleksikan fikiran dengan cara yang sederhana membangun kesadaran mereka.

Dibandingkan dengan anak-anak yang main smart phone, anak-anak ini lebih smart dalam mengatur diri, mandiri dan berekspresi.

Itulah kegiatan yang tidak pernah saya ganggu, saya hanya menatapnya juah dari jendela sambil tersenyum.
Kadang-kadang mereka pindah setting di sekolah, ada yang bertindak menjadi guru dan ada juga yang bertindak menjadi siswa, bahkan suatu ketika saya dapati mereka menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, mereka sedang upacara bendera.

Jika ada yang berperan sebagai seorang guru maka mereka akan menjelaskan sesuatu, memberikan pertanyaan dan memeriksa jawaban. Jika itu sedang terjadi saya tidak boleh mendekati mereka karena mereka akan malu dan berhentilah aktivitas mereka semua.

Bagi saya itulah pembelajaran yang luar biasa yang mereka senangi, dan mereka belajar banyak dari kegiatan itu.

*Munawir Syahidi, Pegiat di TBM Saung Huma