Kisah Sekuntum Bunga

Kisah Sekuntum Bunga

Dari pematang sawah ini aku dapat menyaksikan padi yang sedang menguning, melihat para petani yang setiap hari merawat padi dengan menambahkan berbagai obat. Desiran angin yang berhembus menggoyangkan daun padi yang sudah hampir tidak terlihat karena tertutup bulir padi pada tangkainya terlihat berirama seolah sedang berontak kepada burung pipit yang sedang menikmati lebih banyak bulir padi menjelang panen.

Pak tani sedang sibuk memperbaiki kincir air yang berputar dengan setia mengambil air pada tuas bambu yang dislurkan pada penampungan air yang selanjutnya mengalir mengairi sawah yang sejajajar dengan kincir air tesebut. Sawah mulai dibiarkan mengering besok akan dipanen.

Aku setia mengikuti setiap proses yang terjadi di sawah ini, kami berjajar menyerupai pagar hidup, kami bunga dengan pohon besar rupa kami cantik berwarna merah, bila telah berbunga kami sangat indah, berbahagia dan bersedih karena kupu-kupu bahkan burung dengan paruh panjang itu suka menghisap manis pada bunga, atau bunga yang indah itu harus tabah dan ikhlas bahwa dia akan layu.

Pagi itu angin tipis menggoyangkan mekar bunga, burung-burung terdengar ramai menyambut matahari yang seolah muncul dari balik pepohonan. Terdengar percakapan yang tidak jelas antara pak tani dan bu tani, semakin mendekat ke saung di pematang sawah persis disampingku berada, mereka berbicara tentang anak lelakinya yang akan segera menyusul mereka. Katanya ingin mengambil pohon bunga untuk pelajaran di sekolah. Telunjuk petani lurus kepadaku menegaskan bahwa akulah batang berbunga yang akan diambil untuk tugas sekolah.

Tugas sekolah?, aku belum pernah tahu sekolah, apakah dia akan sesubur tempat yang aku diami sekarang?, cukup banyak air untuk tetap membuat aku hijau dan berbunga dengan indah?, atau sekolah itu tempat yang tidak begitu baik untuku.

Kekhawatiran benar benar menyelimuti kami semua, kami yang berjajar dipematang sawah ini dulunya dari satu batang yang berada di seberang sungai dekat kincir, pada musim penghujan Pak tani memisahkan kami dengan batang inti, tapi kami masih beruntung karena kami berada ditempat yang subur, dan tugas kami adalah menumbuhkan bunga yang indah untuk yang merawat kami dengan baik sehingga dia tersenyum melihat kami yang bermekaran.

Sudah mulai siang beberapa petani sudah mulai bekerja menyabit padi dan memisahkan bulir dari tangkainya. Sementara kami semakin gelisah jika kami dipisahkan tanpa teman, sendiri dan sunyi. Dan belumlah jelas seperti apakah sekolah itu, tempat yang baru kami dengar.

Tiba-tiba seorang anak laki-laki datang menuju saung tempat kami berdiri, kami semua bertanya, mungkin itulah anak lelaki yang akan mengambil kami, semoga dia mengambil beberapa dari kami.

Dia mengeluarkan sebuah alat dari kantong celananya segera mengarahkan alat itu pada kami, nampak pada layar itu seperti cermin,  ada kami dan wajahnya pada layar itu, dia tersenyum berbahagia, ada sekuntum bunga yang dia elus-elus dengan lembut dan dia ciumi dengan dalam. Kami merasa tenang dan yakin orang ini jika membawa kami maka dia akan menjaga kami dengan baik. Dia mengambil sebilah golok dan mencari batang yang berakar untuk diambil dan dibawa, kami selalu berharap kami tidak dibawa sendirian kami ingin punya teman dari spesies kami, tapi lelaki ini hanya mengambil satu batang kecil pada bagian bawah yang telah sedikit berakar, inilah aku. Aku yang harus menyadari bahwa akhirnya perpisahan selalu menyisakan sakit dan harapan, harapan pada tempat baru semoga aku satu batang bunga dapat menjalankan tugasku dari Tuhan, tugasku adalah berbunga. Aku sekuntum bunga yang dibawa ketempat baru yang belum aku ketahui, bernama sekolah.

___ Bersambung