Kuliah Ke Luar Negeri Yuk…

Kuliah Ke Luar Negeri Yuk…

Sepanjang perjalanan saya dari Banten ke Belanda (11/2) banyak hal yang saya pikirkan, banyak hal yang ingin saya tuliskan. Tetapi saya tidak bisa segera menuliskannya karena di kamar saya di apartemen Smaragdlaan 222 tidak ada laptop. Sementara di komputer yang ada di Universiteit Leiden tempat saya kuliah tidak bisa saya pakai karena kartu mahasiswa saya belum keluar.

Dan tulisan ini saya tulis menggunakan laptop teman. Karena yang ingin saya tuliskan begitu banyak saya akan membaginya menjadi beberapa tulisan. Tulisan ini akan memfokuskan kepada ajakan untuk kuliah ke luar negeri, negeri manapun itu.

Keinginan saya kuliah ke luar negeri muncul sejak saya sekolah di MTsN Cibaliung, Pandeglang. Dalam bayangan saya saat itu sekolah ke luar negeri itu sangat menarik, selain bahwa pendidikan di luar negeri itu lebih maju dari Indonesia sekalipun tentu saja saya saat itu tidak bisa menunjukan bukti bahwa pendidikan di luar negeri lebih maju daripada di Indonesia, bila ditanya. Lagi pula yang saya tahu (namanya) luar negeri itu ya Mesir, Arab, Irak, dan Amerika.

Keinginan kuliah ke luar negeri itu akhirnya terwujud setelah saya dan sebelas teman saya yang lain mendapatkan beasiswa dari pemerintah Belanda melalui program Training Indonesia’s Young Leaders: Muslim Intellectuals as Agents of Change. Kami mengambil program Master of Arts pada program Islamic Studies. Di kelas kami selain tentu saja orang Indonesia juga ada dari Maroko, Turki, Jerman, dan Israel.

Ke Luar Negeri Saja
Setelah saya lulus dari IAIN Banten tahun 2005 kemarin saya sempat nganggur (tidak bekerja di sebuah perusahaan), kemudian saya bekerja jadi wartawan Indo.Pos selama empat bulan. Selagi masih kuliah saya pernah juga bekerja jadi wartawan di Radar Banten selama lima bulan. Namun demikian saya punya perhitungan: kapan saya harus bekerja dan kapan saya harus meninggalkan pekerjaan. Saya juga menyiapkan diri untuk menjadi penulis skenario film apabila keinginan saya untuk kuliah lagi tertunda. Syukurnya semuanya berjalan lancar.

Sebagaimana saat saya masih MTs, ada alasan tersendiri saya ingin kuliah di luar negeri. Pertama, bahwa saya tidak punya uang untuk kuliah di Indonesia. Kita sama-sama tahu biaya pendidikan di Indonesia teramat mahal—paling tidak untuk orang seperti saya. Saya bertanya ke teman-teman saya, berapa biaya kuliah S2 untuk ilmu agama dan ilmu sosial. Jawabanya: antara Rp 5-6 juta per semester, dan itu belum termasuk uang masuk, uang keluar, dan jenis uang lainnya.

Maka pilihan bijaksana saya, karena saya tidak punya uang, saya memilih mencari beasiswa untuk kuliah S2 di luar negeri saja. Selain kuliah gratis dan pengelaman, tentu ada banyak hal lain yang bisa saya dapatkan. Dan ternyata pilihan ini tepat. Saya selama satu setengah tahun ke depan kuliah gratis di Universiteit Leiden Belanda, biaya keberangkatan Indonesia-Belanda dan kepulangannya ditanggung pemberi beasiswa, dan saya juga mendapat uang sebesar 870 uero per bulan. Dipotong untuk membeli buku, beli makanan, dan ini itu masih ada sisa. Dan uang sisa itu, kalau mau, masih bisa untuk jalan-jalan ke beberapa kota di Eropa, sebut saja ke Paris Prancis.

Alasan kedua, keyakinan saya masih tidak berubah sejak MTs bahwa kualitas pendidikan di luar negeri jauh lebih tinggi daripada kualitas pendidikan dalam negeri. Ini bukan semata-mata membanggakan kualitas pendidikan luar negeri dan merendahan kualitas pendidikan dalam negeri. Hasil-hasil penelitian menunjukan fakta ini. Di Universiteit Leiden, misalkan, terdapat sekitar 2,7 juta buku dan terbitan berkala.

Saat saya mau berangkat ke Belanda, saya bertanya kepada Pak Mufti Ali, dosen IAIN Banten yang menyelesaikan S2 dan S3-nya di Universiteit Leiden. Buku apa saja yang harus saya bawa. Jawabannya, nggak usah bawa buku. Di Universiteit Leiden semua buku yang dibutuhan ada, katanya. Dan terbukti, saat Sirtjo Koolkhof pustakawan KITLV (Royal Nederlands Intitute of Southeast Asia and Caribbean Studies/LIPI-nya Belanda), mengajak saya dan teman-teman masuk ke dalam gudang KITLV, saya bisa melihat buku-buku terbitan Indonesia. Bahkan buku yang ditulis tangan tahun 1500-an.

Sekedar memberikan gambaran yang lebih jelas tentang betapa sangat lengkapnya perpustakaan KITLV, di sana saya bisa membaca koran Indonesia versi cetak seperti Kompas, Koran Tempo, Republika, Media Indonesia, Indo.Pos, dan lain-lain. Untuk majalah ada Majalah Tempo, Gatra, dan lain-lain, termasuk majalah Play Boy Indonesia juga ada. Yang membuat saya terkejut, buku kumpulan cerpen saya dan Najwa Fadia, Panggil Aku Bunga, juga ada. Apalagi buku yang ditulis oleh penulis besar.

Kuliah ke luar negeri selain karena tidak punya uang dan keyakinan bahwa pendidikannya lebih berkualitas, juga untuk memperkaya batin dan pengalaman saya. Dari hari ke hari saya mendapat pengalaman baru. Mulai dari merasakan cuaca musim dingin sejak di bandara Schipol, melihat kincir angin dan bunga tulip, tidak mendengar adzan, menyaksikan pria-wanita berciuman bibir penuh nafsu di stasiun Den Haag, kuliah agama Islam kepada non-muslim dan ateis, melihat lukisan-lukisan orang bugil di dinding gedung kampus, dan lain-lain.

Karena itu, bagi anak-anak Banten yang punya keinginan kuliah S2 dan S3 tetapi merasa tidak sanggup membayar biaya kuliah yang teramat mahal di negeri sendiri, tidak apa-apa kuliah di luar negeri juga. Untuk informasi tentang beasiswa bisa mencari di internet (satu contoh www.rumahbeasiswa.com) atau majalah Info Beasiswa.

Bahasa Inggris Syaratnya
Pertanyaannya kemudian, apa syaratnya agar bisa kuliah di luar negeri? Dalam kasus saya, jawabannya: bahasa Inggris, dan sejumlah persyaratan lain yang terhitung sangat gampang, seperti proposal penelitian, foto kopi ijazah dan transkrip nilai, dan persyaratan lain yang bersifat administratif.

Tentang bahasa Inggris, bahasa Inggris saya juga tidak teramat bagus. Tapi boleh dibilang cukup untuk bisa membaca teks bahasa Inggris, untuk ngobrol, atau berdiskusi. Lagi pula bahasa Inggris bukan bahasa asing. Kebanyakan kita sudah mengenalnya sejak MTs/SMP. Bagi mahasiswa semester satu paling tidak sudah pernah belajar bahasa Inggris selama enam tahun. Dan kita harus sepakat bahwa enam tahun bukan waktu yang pendek untuk mempelajari satu buah bahasa.

Pak Tihami, rektor IAIN Banten, saat melepas kepergian saya dan Yanuar (dosen IAIN Banten yang satu rombongan dengan saya) bila ng agar saya berangkat ke Belanda tidak membawa kaca spion agar saya tidak bisa melihat ke belakang. Katanya, penuhi hasrat mencari ilmu hingga selesai S2, S3, bahkan sampai posdoktoral. Mudah-mudahan. Sebab kata Pak Mufti Ali kepada saya saat saya masih seorang wartawan, menyelesaikan masalah Banten tidak cukup hanya dengan demonstrasi.

Oleh: Ibnu Adam Aviciena

Catatan: dimuat Radar Banten pada 24 Februari 2007

Tags: