Lapar

Lapar

Karya Aang Alamsyah

LAPAR

Oleh:Aang Alamsyah

Menjadi mendung hatiku, bergemuruh hatiku, hujan turun pantang untuk pulang kembali, hanya orang bodoh yang bisa pulang kembali, melangkahlah kakiku ke Madrasah, masuk kelas dengan segenggam salam dan senyum kepada teman-temanku semua.

“Sehat semuanya?” Tanyaku pada teman-teman

            “ Alhamdulillah sehat” jawab teman-temanku

            “Terus gimana PR kalian”? tanyaku kembali, penuh harapan untuk sebuah harapan

            “PR yang mana?” temanku kaget dan merasa aneh.

            “PR Bahasa Inggris dan Matematika” jawabku dengan mantap dan jelas

Tidak lama berbincang-bincang, bel berbunyi tandanya mulai belajar, kemudian aku melanjutkan pekerjaan rumahku  di sekolah dengan tergesa-gesa, tanganku menulis gemetaran, bibirku pucat, jantungku berdetak kencangdan kuat, sekuat keringat yang keluar dari pori-pori kulitku. Truk..truk.. suara sepatu tandanya guruku akan segera tiba, dengan penampilan yang mantap dia membuka pintu dan mengucapkan salam,

            “ Assalamualaikum” ucap Pak Joko dengan senyuman

            “ Waalaikumsallam”. Jawab kami semua dengan pikiran yang selalu teringat pada pekerjaan rumah yang dikerjakan di sekolah.

Aku sendiri hanya menjawab salam itu tanpa menatap wajah guruku yang mulai mendingin berdiri di depan kelas, menanyakan pekerjaan rumah, aku masih tetap fokus pada pekerjaan rumahku, sibuk tangan ini menulis tugas yang tak kunjung selesai. Bunyi sepatu itu jelas semakin mendekat ke arahku, dan sebuah suara akhirnya mengisi ruangan yang dari tadi sudah hening.

            “Lagi apa kamu Jamal?”.Tanya pak Joko dengan tegas.

            “Lagi mengerjakan PR pak”. Jawabku dengan nada terpatah-patah.

            “Kenapa kamu baru mengerjakan PR sekarang, bukan dari hari-hari kemarin, ini bukan rumah tapi sekolah”. Tegur Pak Joko.

            “ Iya pak tahu,”.

            “Terus kenapa kamu Jamal baru mengerjakan PR sekarang” nada Pak jamal semakin meninggi

            “Sibuk pak”. Jawab Jamal dengan nyolot.

            “Sibuk kenapa kamu, berkeluarga dan cari nafkah juga belum sudah sibuk, bagaiman jika kamu sudah menikah, pasti semuanya jadi lebih sibuk.”

            “Gak mungkin pak” jawab Jamal.

            “Tak sopan kamu, menjawab guru kayak gitu”. Bentak Pak Joko.

Menujuk jarinya ke arah pintu, lalu aku menunduk dan berjalan keluar tanpa basa basi, gereget tanganku dan gatal pada guruku, muak dan bosan ku lihat guruku, aku duduk di teras depan kelasku, rasa kecewa bertumpuk dikepalaku serta hatiku, karena aku belajar  di Madrasah yang gurunya kadang menyebalkan. Aku rindu guru yang menyenagkan santai dan faham keadaan, tidak melihat masalah hanya dari satu sisi. Pak Joko keluar kelas, dan aku masih berada di teras, dia tersenyum kepadaku, aku hanya menunduk menahan segala kecewa yang berujung penyesalan, memang aku yang salah.

Bertemu dengan pelajarannya lagi pada hari yang lain, tapi diri ini masih muak dan bosan, hatiku masih belum bisa menerima, belum bisa ikhlas dan belum mau belajar terbuka.

            “Bosan gak kamu dengan Pak Joko?” tanyaku dengan pelan, kepada teman sebangku

            “Bukan main, udah dari dulu aku bosan sama Pak Joko”. Ujar Sapin temanku.

            “Aku  kira, aku doang yang bosan”.

            “ Gak lah, aku juga bosan”.

Berjalan  pak  Joko menuju kursiku dengan tegap.

“Jamal, maafin bapak kemarin yah” kata pak Joko dengan lembut dengan tersenyum

“Iya pak” sambil nunduk dan bergetar kakiku. Hatiku menjadi tersentuh dan aku mungkin sudah dapat taupik dari Allah SWT. Aku sadar dengan kesalahanku, sebenarnya aku malu akan perkara ini. Bukannya aku yang meminta maaf pada guruku, tapi guruku yang meminta maaf padaku, sunggh malu diri ini, karena aku bodoh dalam masalah ini. Mata dari tiap-tiap kursi seolah menggelinding ke arahku, seakan mereka benci kepadaku, aku akhiri dengan rasa syukur pada Allah  telah memberikan taufik kepadaku.

Pulang bersama dengan teman-teman, pulang dengan hati bahagi meski tidak tahu apa yang didapat di sekolah hari ini, tapi tetap tersenyum dan bahagia, sedikit demi sedikit aku berjalan menuju Pesantrenku yang dipenuhi dengan anak-anak muda yang malas dalam segalanya, apalagi masak, tak mungkin mereka sudi masak, tapi ketika menyantap masakan biasanya lebih awal daripada yang memasak, tak sopan dan tak adil menurutku, santri yang berpendidikan tapi tidak dipakai pengetahuannya dan tidak dipergunakan ilmunya, semaunya dia,  tanpa rasa malu dan dia tak tanggung-tanggung ia makan dengan lahap dan bahkan menghabiskannya, tanpa berpikir panjang, aku mundur dengan kecewa pantang melanjutkan makan dengan orang-orang pemalas itu, terbakar hati ini, bercampur dengan rasa lapar dan tidak karuan, aku raba kantong celanaku untuk mengecek uangku, ternyata bekas wanginya saja sudah tak ada sehelaipun uang yang tersisa, tinggalah lapar dan lapar yang aku rasakan dan bimbang yang aku pikul sekuat hati dan fikiranku.

Tidurku tidak pernah nyenak, fikiranku masih tersandar dengan segala perasaan kekurangan, kekurangan harta untuk bekal mencari ilmu, menjerit hati ini dengan kuat tanpa ragu, menembus langit sadarku, bergemuruh dan basahlah mataku. Kemudian aku bertekad untuk turun kembali dari kamarku untuk memsak segenggam beras yang tak akan mengenyangkan si perut yang lapar ini, lapar tinggalah lapar, beras serta uangku tak tersisakan untuk bekal belajarku, minta tak mau pulang juga tak mau tekadku kokoh bahwa akan ada jalan yang indah setelah ketidak indahan dari Tuhan yang Maha Rohman.

Letak jarum jam bergeser membuat rejekiku datang dengan sendirinya, keluarga besar guruku memberikan nasi dengan ikannya.

            “Udah makan Mal”? dengan khawatir ibu bertanya.

            “Udah bu,” jawabku dengan perasaan malu.

            “Kapan”? tanya ibu dengan kwatir.

            “Kemarin sore bu,” dengan kepala tertunduk dan tubuh bergetar menahan lapar, Jamal menjawab.

            “Kemarin sore, terus lapar tidak?”

            “Lapar banget bu”  Jawab Jamal dengan malu.

            “Nih nasi, sisa ibu tapi sedikit doang” menyerahkan sepiring nasi denganpemanis senyuman

            “Alhamdulillah bu, ada juga sudah syukur”.

Ibu berjalan meninggalkan aku tanpa kata, saat mencicipi makan dengan lahap mungkin tercium se ekor anjing, dia tabrak semua benda yang ada dihadapannya dengan tergesa-gesa, tanganku beku seketika, aku beranikan diri ini tuk menghajar si Anjing najis dan pemalas itu, tapi aku tidak memiliki keberanian.

“Gak malu banget kamu, bagian makan aja kamu selalu gak ketinggalan, padahal tidak bantu apa-apa”, bicaraku dengan kesal.

“Terserah aku dong, inikan Pesantren saya juga” jawab dia dengan tegas. Tidak ada kata lain aku harus belajar menelan kemarahanku sendiri, dan tidak baik juga jika aku menyebut manusia rakus pemalas itu dengan anjing.

Kesal dan lapar tetap menjadi hiasan, mungkin tak akan ada lagi yang memberikanku makan, patah semangatku dan menjerit hati ini dengan tegas. “Ya Allah, kenapa aku melarat seperti ini”. Dunia terasa tidak adil mereka senang sedangkan aku menderita, mereka kaya sedangkan aku melarat. Terkucurlah air mataku dengan deras tanpa henti, basah saputanganku, merah mataku pula lemah tubuhku disertai dengan harapan-harapan yang tidak mungkin bisa aku gapai, pikirku begitu, sambil menyaksikan cahaya yang menerobos anyaman bilik bambu.

Langkah yang tidak  tahu arah jalan yang akan dituju dengan sendirinya diantarkan kaki ini ke sepetak tanah yang tak ada tanaman yang tertanam. Tapi, aku menemukan satu tanaman yang dapat di makan tapi di tanah ini bukan sengaja di tanam oleh pemiliknya, tadinya dia hanya segatang pohon yang terbuang kemudian tanah menerimanya di bantu dengan hujan yang dikirimkan Tuhan, tumbuh dan di jaga berbulan-bulan mungkin juga telah direncanakan akan menjadi rizki untuku hari ini, “dangder” namanya sebutan di kampungku, aku cabut dari permukaan bumi terlihatlah dengan jelas satu rumpun ubi, dengan rasa lapar yang mendera perut ini aku makan dengan lahap tanpa memikirkan keadaan sekitar kebun tersebut, juga belum berfikir apakah ini halal, haram atau subhat, aku pikir bagaimana aku harus kenyang hari ini, dengan lahap aku habiskan ubi batang tersebut. Jika kemudian aku ketahuan oleh pemilik kebun dan dilaporkan telah mencuri aku pastikan aku telah siap, karena aku sedang membela hidup. Mudah-mudahan doa Duha berlaku juga untuk ini “yang haram bersihkanlah”.

Sedikit senang karena perut telah terisi, kemudian aku langkahkan kaki lebih bertenaga karena perut telah diisi, aku menuju Ponpesku, Tiba di Ponpes, para santri  sedang berkumpul menyerang nasi liwet, mereka hanya melirik sebentar kemudian tidak ada dari mereka yang bahkan pura-pura pun menawariku makan, aku sadar pada hakekatnya manusia memiliki keegoisan masinng-masing, entah setelah aku kaya nanti mungkin, atau setelah aku mati. Dalam mimipiki nanti aku dikerumuni banyak wanita karena kesuksesan yang menyertaiku. Perempuanpun pada dasarnya merekapun lebih memilih lelaki yang berkrcukupan ketimbang berilmu. Begitupun orang-orang yang hari ini tidak mau menawariku makan, mereka akan lebih ramah kepadaku, karena aku memiliki harta.

Satu tahun atau lebih, aku berada di Ponpes terasa didak ada kenyamanan pula kesenangan dalam hidupku, begitupula dalam sekolahku, selalu dikucilkan, diremehkan serta masih banyak lagi. Benar aku memang orag miskin, tapi aku berusaha untuk menjadi orang kaya akan ilmu dunia dan akhirat. Hari itu ku tantang mereka dalam hati, siapa yang akan lebih sukses dikemudian hari, walau aku tidak aktif di berbagai organisasi, tapi tak berarti dalam sekolah ini, pikirku begitu tanpa henti. Hari ini aku kuatkan diri untuk menggapai cita-citaku yang tertinggi walaupun aku saat ini tidak dianggap karena belum mempunyai apa-apa, sekarang masih jauh dari makan pula jauh dari minum.

Dulu benar sekarangpun sama, aku manusia yang hanya memiliki harapan saja, apakah impian dan harapanku akan menjadi kenyataan, masalah demi masalah selalu aku temui. Cibiran dan maki selalu menjadi hiasan, bahkan kalau mereka melihat aku makan maka mereka juga akan mencibirku

“Tumben kamu makan?” dengan raut wajah yang tengil salah satu santri berbicara.

“Lagi lapar dan ada sedikit nasi”  ucapku dengan pelan.

“Biasanya juga gak suka makan” celetuk salah satu santri.

Ketika aku pegang kerah bajunya, mengerahkan seluruh energi dengan hawa nafsu yang tinggi, tinju aku lepaskan kerahnya, dia terpuruk dalam ketidakberdayaan.

“Cukup!” teriak dia dengan raut wajah kesakitan.

            “Dasar pemalas, ucapanmu seperti orang-orang yang tangguh akan segala-galanya, tapi dirimu lebih rendah dariku” ucapku dengan tegas.

            “Maaf Mal” dengan kepala tertunduk entah karena mungkin ia menyesal, entah ia hanya berpura-pura menyesal dan tertwa dalam hatinya.

Berdiri sambil ia angkat kakinya kearah berlawanan dengan arah wajahku, ia menjauh dariku, diriku tatap merasa gemetar, karena aku belum pernah berantem karena masalah sepele, aku lanjutkan makan dengan hawa lapar dan marah yang tetap ada, sekali ini aku kalah oleh hasutan setan. Hanya menonton hiburan perkelahian yang terjadi, semua santri hanya terdiam dengan fikirannya masinng-masing.

Kembali tiba rasa laparku, tiap hari tanpa ada yang peduli padaku, “Lapar adalah binatang yang tidak pernah menjadi sahabat untuku, lapar adalah seperti Kucing dan Tikus.’’ Lapar menghasilkan getaran tubuh, menolak semua yang akan mendekatinya, menjerit pula usus-ususku tanpa henti, kekuning-kuningan kulit ini dengan kurus tak berdaging, bibir pecah karna jauh dari air minum, kadang-kadang aku minum dengan air mentah, ‘’Air keran Masjid’’ namun aku anggap tetap nikmat walaupun sebenrnya aku raakan yang sebnarnya tidak nikmat. Untungnya aku selalu dapat kata-kata motivasi dari guruku untuk menjadikan aku tetap bangkit dan mengangap lapar sebagai ujian, beliau selalu berkata “inna ma’al ‘usri yusra, di setiap kesulitan pasti ada kemudahan, sembari tepuk-tepuk pundaku, kemudian aku lapalkan kata-kata itu agar menjadi kekuatan di seluruh tubuhku agar aku tak suudzon kepada Allah tentang nikmat, emang benar dunia ini “dream land” yang harus dipenuhi oleh manusia, tapi aku tak butuh tanah impian  tapi ku butuh  “alamun dzohirun”.

Ku cari sesuap nasi dengan “alamun dzohirun” walau tanpa bantuan orang lain, ku mencarinya dengan mengharapkan ridho Allah agar kaki ini mengantarkanku ketempat yang dapat mengganjal perut ini, entah apapun, entah aku harus cari lagi di tempat yang tandus dan cuma ada sebatang singkong pada waktu itu tanaman yang membuat perut ini kenyang.  Maju dengan harapan tinggi agar aku dapatkan segengam makanan yang dapat di makan dalam kondisi lapar ini, tak butuh siapa yang punya pikirku tanpa harus berfikir tentang apaun, lapar membuat aku kehilangan akal, padahal aku berjanji agar tidak mencuri tapi kali ini ku mencoba untuk melanggar janji terhadap diriku sendiri. Setibanya di tempat yang jauh dari keramaian berkilau-kilau serasa mataku melihat sebuah pohon manggis yang berbuah lebat, t aku panjat pohon itu dengan tak perduli ada siapapun disana,”Manggu” sebutan di kampungku, manggis sebutan orang kota itu tidak enak menurutku, karena harus dibeli. Dengan lahap aku memakan buah-buah itu tanpa basa-basi, sesudah kenyang aku turun dengan tergesa-gesa takut ada pemiliknya. Matahari telah kemerah-merahan tandanya hari akan habis dan malam akan datang, kaki ini dengan kencang menuju Ponpesku karena hari sudah sore dan aku belum salat Ashar, meski aku habis maling tapi tetap agama Islam, harus tetap  salat, gumamku dalam hati karena rasa takut kepada Allah SWT. Atau bagi para koruptor salat adalah kewajiban sosial begitu juga naik haji sangat penting sebagai gengsi sosial. Biasa aku mandi tak bersabun, aku lanjut salat Ashar, tiga menit cukup dan di lanjutkan dengan shalat Maghrib dengan sejadah entah milik siapa, salat ini tidak khusyu, teringat dengan kenikmatan tadi, pada saat memetik buah manggu tanpa seijin pemiliknya. “jauh tetaplah jauh dari makanan yang nikmat” gumamku dalam hati.

“Kuluhum” bahasa budak kobong, dengan rasa kesal aku menunggunya, menunggu mereka mengucapkan salam sambil berjabat tangan, mereka datang. Harapanku mereka memanggilku di ruangan tidurku, ruangan yang penuh dengan tikus-tikus yang menyebalkan, di malam yang telah terlewati, tikus-tikus itu berlarian di atas mukaku sehingga ku terbangun dari tidurku,

            “Mal Jamal” mereka memanggilku dengan tertawa,

            “Iya ada apa?” tanyaku dengan kesal,.

            “Habiskan” mereka menyuruhku dengan nada menghina,

            “apa yang harus di habisakan” jawabku gengan rasa sedih dan hampir menetes air mataku, karena mereka menyuruhku memakan nasi yang hampir habis dan tak ada lauk pauknya, aku mundur dengan napas kencang dan terasa terjepit diri ini dengan penghinaan, aku dianggap kucing  liar dan tak pernah menemukan makan. Keluarlah air mataku, air mata yang jatuh ketanah dan menyuburkan Tanah Airku.

Hari telah berganti, kurus kering tanpa makan, tanpa makan seperti orang lain tiga kali sehari, bisa pula empat kali sehari, dan aku hanya ingin mendapatkan satu kali sehari saja susah, harus banting tulang, banting konsentrasiku.

            “Mal” panggil pak kyai dengan lembut.

            “Iya ada apa Ka?” tanyaku dengan khawatir,

            “Kesini dulu” tangannya menggapai  ke arahku, maju aku tanpa ragu,

“Iya, ada apa?” sambil lihat wajah dan matanya yang teduh

“Ikut kakak yuk!” sambil jalan tanpa kata, aku berangkat dengan motor, diwarnai hujan rintik-rintik datang dengan keramaian, kondisi  tempat ibadah penuh dengan para guru yang tinggi-tinggi lmunya, aku bersalaman dengan para guru dengan rasa sakit dipinggulku duduk dengan santai aku berada ditengah-tengah perkumpulan menganggap diri ini penting.

Bergegas pulang tanpa pikir panjang, kusantap makanan dengan rasa lapar, lidah bergoyang-goyang menikmati makanan, inilah “alamun dzohirun”, yang nikmat serasa hidup di dunia ini dengan lama tidurku dan pikiranku terasa tenang, tanpa beban harus cari makan, nikmatnya seperti dunia dipangkuanku.

Malam telah berganti, dengan gembiranya burung-burung menyambut pagi dengan bersiul tanpa henti, dengan suara merayu-rayu agar aku bangun dan bergabung menyambut pagi, disertai dengan matahari tersenyum lebar, aku pergi ketempat mandi, dengan air, yang sangat dingin, aku mandi tanpa waktu yang cukup lama hanya lima menit beres. Aku bergegas merapikan ruanganku dengan tergesa-gesa, dengan waktu siang aku sekolah dengan berjalan cepat, setibanya di gerbang, tangan kepala Madrasah menggapai-gapai kepadaku,

“weyy, cepat”. Ucapnya , dengan tergesa beliau memanggilku, aku lari tanpa henti, tadinya aku ingin bersalaman dengannya, tapi ia menolak tanganku, entah kenapa.

Teruskan lari tanpa henti menuju kelasku yang kadang-kadang kotor itu, aku lari setelah sebentar menangkap sesosok wajah wajah yang menatapku dari kejauhan pujaan hatiku. Belajar tanpa konsentrasi, kupikirkan dia yang terselip dalam lipatan hati, sesosok wajah, dan berganti dengan bayangan sepiring nasi, mungkin disinilah kesenanganku. Lapar berganti dengan kesenangan, walau lapar tetap ada padaku. Burung-burung ikut pula bertepuk tangan serta memberikan rasa syukurnya kepada Tuhanku untukku pula ikan-ikan berdayung di danau tercinta dengan senangnya melihatku dan dedauan berjatuhan dengan tekadnya, mungkin burung-burung, ikan dan dedaunan ingin bersalaman denganku mengucapkan selamat datang kedewasaan, aku anggap inilah alam dzohiru yang penuh kesenangan bukan Dream land di jaman sekarang ini. Kemudian kutancapkan setangkai harapan serta cita-cita di alamku ini yang terus tersiram dan kuserbuk tangkai-tangkai itu dengan ilmuku yang meski kurang, inilah aku dengan semangat hidup yang baru.

 

*Aang Alamsyah, santri yang pernah belajar menulis, asall Cibaliung