Lebaran Bukan Sekedar Bersalaman

Lebaran Bukan Sekedar Bersalaman

Setelah satu bulan kita melaksanakan puasa, ada yang menyebutnya sebagai latihan, latihan menjadi umat yang sesuai dengan prilaku Muhammad SAW, misalnya tidak boleh bohong ini lagi puasa, tidak boleh ngomongin orang ini lagi puasa, seolah-olah puasa adalah “menahan” memang puasa itu menahan, bukan hanya menahan diri dari makan dan minum dan yang dapat membatalkan puasa sejak terbit matahari sampai terbenam matahari. Kita belajar salat malam, belajar Qiyamulail, belajar rutin membaca Al-Quran dengan target khatam sekian kali, belajar untuk puasa sunah selain puasa ramadan, karena ramadan memang latihan.

Ramadan juga mengajarkan kita untuk bersodaqoh, memberi makan yang tidak mampu, belajar memberi kebahagiaan kepada yang lain, belajar menahan diri dari amarah, terakhir kita bahkan belajar untuk menunaikan zakat, nantinya akan ada zakat harta yang harus kita bayar jika telah sampai satu nisab. Puasa itu untuk orang-orang yang beriman yang nantinya akan berbuah peedikat taqwa.

Satu minggu sebelum lebaran akan ketahuan apakah derajat taqwa itu akan diraih atau tidak?, satu minggu sebelum lebaran, misalnya kita sudah nafsu dalam berpakaian, kita tidak mau baju yang kita pakai ini sama dengan tetangga, harus kelhatan lebih mahal.

Kalau dikampung, banyak yang mudik dan kita melihat orang lain datang membawa mobil atau terlihat uangnya banyak kita dengan enteng berkata “mungkin di kota pekerjaannya anu….” kita sudah berprasangka buruk. Sedangkan berprasangka buruk adalah hal yang dilarang oleh Rosul, atau marah kepada yang menagih utang, membicarakannya diberbagai kesempatan. Si anu begitu, si Ibu itu begitu. Sudah lumrah?

Saat lebaran tiba, semua orang bersalaman, tapi setelah bersalaman itu? atau kita biasa menyiapkan moment salaman dengan memakai perhiasan yang banyak, agar terlihat bahwa kita kaya, dalam bersalaman saja kita sudah belajar riya. Dan yang membicarakannya sudah belajar suudzon, macam-macam prasangka.

Yang setiap hari mengaji dan terjadwal sudah mulai bosan, salat Isa berjamaah sudah mulai malas dilaksanakan. Nah kalau gejala-gejala itu masih ada, maka latihan selama puasa itu gagal dan kita tidak mendapatkan predikat taqwa.

Mengapa tulisan ini ada? karena sepertinya penulis juga gagal. Lebaran bukan hanya sekedar berlebaran. Benarkah kita kembali suci? Atau selain membelikan baju baru juga memberikan bacaan baru untuk anak-anak kita?

 

Munawir Syahidi* TBM Saung Huma