Lebaran, Liburan, dan, Literasi

Lebaran, Liburan, dan, Literasi

Apa hubungannya lebaran dan liburan? jelas ada hubungannya lihat saja tempat wisata begitu ramai, di pantai sejauh mata memandang adalah campuran warna-warna dari pakaian pengunjung, beberapa pantai bahkan penuh dengan sampah.

Waktu lebaran yang sekaliugus masyarakat gunakan untuk liburan. Jadi jangan tanyakan apa hubungannya lebaran dan liburan, hubungan keduanya erat sekali tidak bisa dipisahkan dan direstui oleh semua orang, hubungan yang tidak perlu berakhir dengan pernikahan. He he he.

Tapi jika bicara tentang hubungan lebaran, liburan dan literasi nampaknya masih butuh kerja ekstra semua kalangan.

Selama saya membuka media sosial nyaris tidak ada ibu-ibu atau orang tua yang punya inisiatif untuk tidak hanya memberikan baji baru untuk anaknya di hari lebaran, tapi misalnya juga membelikan buku bacaan yang sesuai dengan usia atau tahapan pendidikan anaknya. Nyaris tidak ada yang peduli, selain daging kerbau, sapi atau ayam yang menjadi sesuatu yang penting nampaknya buku dan bahan bacaan juga menjadi penting.

Atau para perantau yang datang ke kampung, juga belum dapat menyentuh hal yang berkaitan dengan pembangunan Sumber Daya Manusia, mereka datang dengan pakaian baru, gaya rambut baru dan pemikiran tentang literasi yang masih jadul, entah berapa ratus ribu yang dihabiskan untuk membeli petasan dan kembang api.

Literasi seperti buih dilautan? terlihat ada dan hanya jadi pelengkap? atau sesuatu yang inti dari sebuah gerakan besar seperti gelombang? bukan seperti buih yang ada karena adanya gerakan?

Kemarin saya pulang ke kampung di Kp.Cimanggu Desa Cimanggu-Pandeglang, masjid yang belum lengkap setelah renovasi itu cukup membuat saya bahagia sedikit, di bagian luar masjid terdapat rak buku dari kayu jati, dengan bentuk modern dan terlihat bagus, dengan beberapa kitab, buku bacaan keagamaan dan kebanyakan Al-Quran terjemahan yang masih terbungkus plastik, termasuk Tafsil Al-Misbah yang ketika saya baca dan buka ujung lembarannya masih menempel, tandanya belum pernah ada yang membacanya, juga beberpa masih terbungkus plastik.

Salah seorang tokoh mengatakan bahwa tinggal berpikir bagaimana memenuhi rak buku tersebut, saya katakan lebih sulit mencari cara agar bahan bacaan tersebut dapat terbaca oleh masyarakat, dia tersenyum mengiyakan.

Salah seorang bapak yang duduk di sebelah saya bertanya kepada saya, “Apa hukumnya Al-quran yang dibeli seolah hanya untuk dipajang?” saya hanya memabalasnya dengan senyuman.

Saya semakin yakin, gerakan literasi benar-benar harus menyentuh lapisan msyarakat yang paling bawah, konsepnya penyadaran. Memang membuthkan waktu yang lama tapi harus segera dimulai. Dikalangan santri sebenarnya urusan literasi sudah berkembang sejak dahulu, karena yang menjadi rujukan adalah kitab kuning sebagai produk literasi dari para ulama.

Maka akhirnya gerakan literasi kalau saja seperti gerakan mudik, bus mobil mudik gratis, THR buku atau apalah namanya supaya gerakan literasi menjadi gerakan bersama dan kepentingan bersama yakinlah kita benar-benar akan mendapatkan kualitas pertumbuhan SDM lebih cepat.

Seperti lebaran dan liburan yang tidak bisa dipisahkan maka seharusnya, literasi juga tidak boleh dipisahkan dari peradaban manusia Indonesia.

*Munawir Syahidi, TBM Sung Huma-Cahaya Aksara