Memaknai Hari Buku Nasional

Memaknai Hari Buku Nasional

Untuk meningkatkan literasi mari jadikan setiap hari sebagai hari buku

 

Hari buku nasional yang dicanangkan tahun 2010 dan dipilih tanggalnya dengan peresmian Perpustakaan Nasional Republik Indonesia itu patut dijadikan sebagai sebuah momentum yang baik untuk perkembangan literasi di Indonesia.

Bagi saya pribadi sebagai orang yang ikut-ikutan tersadarkan dengan pentingnya literasi memaknai hari buku dengan semangat pengembangan literasi yang harus dilakukan dengan penuh konsistensi. Bahasa lainnya adalah Istiqomah berliterasi.

Pada tanggal 17 Mei 2019, bertepatan dengan hari buku nasional saya didaulat oleh Sultan TV, sebuah media online yang dikemas sebagai media alternatif yang mengangkat Banten.

Acara Griya Abah hari itu berbicara tentang pentingnya literasi. Buku selalu identik dengan literasi.

Sebuah kebanggan tersendiri dapat hadir pada acara yang digagas untuk menyebarkan kebaikan itu. Ketika dihubungi untuk mengisi acara tersebut saya langsung menandai tanggalnya, bukan apa-apa, bukan karena sibuk, tapi karena jarak yang jauh yang harus dipersiapkan.

Dari tempat saya TBM Saung Huma ke Seang dengan menggunakan motor tua itu membutuhkan strategi khusus.

Bersama Kang Indra dari Ikatan Pustakawan Provinsi Banten itu kami memberikan perspektif tentang literasi dalam momentum hari buku nasional tersebut. Acara yang dipandu Kang Nedi dan Nong Aci itu berjalan santai san serius, walaupun sesekali banyolan keluar dari kami semua.

Berbicara tentang literasi, seperti tentang angka yang dikeluarkan UNESCO tentang rendahnya minat baca saya hanya menganggap itu sebagai motivasi agar kita terus bergerak agar angka 0,001 itu dapat berubah. Maka daripada memikirkan angka itu lebih baik mulai mengatur strategi untuk meningkatkan minat baca dengan membuat kantong-kantong literasi yang berkegiatan dengan melakukan pendekatan sosial.

Menjadikan lingkungan kita pada bagian tripusat literasi, salah satunya adalah pemberdayaan masyarakat.

TBM Saung Huma merupakan TBM yang masih berorientasi pada tahapan stimulus membaca dan menulis.

Maka mari jadikan kegiatan literasi itu sebagai kegiatan yang ringan, kegiatan yang sebenarnya hanya bersumber pada kemauan semata..Mau atau tidak.

Kegiatan kecil yang dilaksanakan secara rutin untuk menjaga istiqomah dalam literasi.

Mari jadikan setiap hari sebagai hari buku.

Munawir Syahidi Founder TBM Saung Huma