Mempertahankan Literasi Budaya dan Kewargaan

Mempertahankan Literasi Budaya dan Kewargaan

Literasi budaya dan kewargaan, adalah kemampuan memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai Indentitas bangsa, dan literasi kewargaan adalah kemampuan dalam memahami hak dan kewajiban sebagai warga Negara.

Salah satu kebudayaan yang melekat pada bangsa Indonesia adalah gotong royong, budaya gotong-royong adalah budaya yang ada pada bangsa Indonesia, tetapi budaya gotong royong sekarang dibeberapa daerah sepertinya mulai hilang.

Didaerah perkotaan gotong royong bukan tidak diusahakan untuk tetap dipertahankan, tetapi karena memang budaya Individualisme yang juga merebak akibat dari aktivitas ekonomi yang memakan waktu dengan aturan-aturan yang ketat. Di kota misalnya kegiatan gotong royong sebagai sarana komunikasi warga digantikan dengan uang. Beberapa orang yang terlanjur sibuk dengan pekerjaan dan tidak punya waktu untuk keluarga lebih berani membayar denda.  Artinya aturan yang dibangun di mayarakat memang sebuah upaya untuk mempertahankan budaya gotong royong.

Tetapi di masyarakat desa, gotong royong masih dapat dipertahankan, pertama karena mata pencaharian masyarakat yang bertani, dapat mengatur jadwal sendiri sehingga gotong royong masih dapat dipertahankan.

Walaupun demikian, masyarakat masih memilih hari minggu sebagai hari untuk gotong royong sebagai upaya untuk mengakomodir beberapa guru di kampung.

Gotong royong misalnya, berkaitan erat dengan hajatan yang akan dilaksanakan oleh salah satu anggota masyarakat, maka peran aktif masyarakat masih sangat diperlukan. Hajatan di kampung tidak seperti hajatan di kota yang menyewa gedung dengan memakai jasa catring, di kampung proses memasak masih menggunakan kayu bakar, dan yang bertindak sebagai tukang masaknya adalah warga masyarakat itu sendiri.

Dalam mencari kayu bakar masyarakat dan pemuda bergotong royong untuk mencari kayu bakar, bahkan sampai pada tahapan menyusun kayu bakar tersebut.

Yang punya hajat hanya memberikan makan alakadarnya untuk masyarakat yang datang membantu.

Dari proses inilah kemudian kegiatan di masyarakat berjalan dengan baik, guyub dan kekeluargaan lebih terasa dalam bermasyarakat.