Menengok Pementasan Teater di Cibaliung

Menengok Pementasan Teater di Cibaliung
Pentas Arena di Alun-alun Cibaliung

semburat.com CIBALIUNG- Ini adalah pementasan drama kolosal oleh teater PAKSI MAN 4 Pandeglang, drama kolosal di bawah naungan sang dwi warna yang diperankan oleh seratus orang pemain, pementasan ini sengaja didekasikan untuk Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke72 Tahun, dalam pementasan dengan naskah dan sutradara Munawir Syahidi ini tentu sebenarnya ingin membicarakan tentang persatuan, kesatuan dan bahayanya adu domba termasuk informasi bohong atau yang sering disebut dengan hoax.

 Setting tahun 1948 dimana mengambil peristiwa agresi militer Belanda di Djogjakarta yang menyebabkan tertangkapnya Ir.Soekarno dan Wakil Presiden M.Hatta seingga dibuatlah PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) di Sumatra Barat dengan ketua Sjafruddin Prawira Negara, yang menurut pembuat naskah dia tertarik memakai setting ini karena ketertarikan kepada tokoh Sjafruddin yang merupakan kelahiran Anyer-Banten.

Pagelaran dibuka dengan kedatangan dalang yang diperankan oleh Fajar Saris dengan iringan musik kendang dan goong, ditambah dengan suara sinden yang menyanyi tentang kedatangan dalang.

Leu eleuh geuning wadalang bagea sumping”  kata sinden dalam lagunya, dibacakanlah prolog pementaan dibawah naungan sang dwi warna, Seorang ibu yang berteriak karena belanda menyerang kemudian mati ditempat , membuat dua tokoh kiai mewaspadai serangan belanda dan menyerukan persatuan. Peperangan pertama yang terjadi dapat mengalahkan pasukan Belanda karena dua kampung tersebut bersatu walaupun kedua kampung tersebut belum memiliki alat dan penara pengintai yang baik.

Adu domba Belanda mulai dilakukan, dengan mengirim surat palsu dan provokasi kepada dua kiai tersebut sehingga mereka saling membenci. Saling tidak percaya dan terpecah, dengan isu penggagalan pernikahan putra mereka, yang sebenarnya hanya akal-akalan belanda. Sehingga meskipun menara pengintai telah dibuat dan sistem pertahanan telah diperkuat tetapi karena adu domba akhirnya kedua kampung tersebut dapat dikalahkan. Sampai di situ para pemain berhenti mematung dan dialanjutkan dengan pembacaan puisi oleh fahman Falahi yang berbicara tentang kemerdekaan.