Menghitung Detik demi Kamu #8

Menghitung Detik demi Kamu #8

Ini cerita bagian ke delapan, untuk yang belum membaca sebelumnya Klik DISINI 

 Kamu akan mengerti makanan yang kami nikmati tidaklah terasa nikmat, karena akhrnya kenikmatan itu hanya untuk yang dapat berdampingan dengan orang yang dicintainya. Duduk berhadapan satu meja dengan yang dicintai dalam dekapan hujan gerimis membuat makanan yang dihidangkan di meja menjadi tidak terlalu penting.

Untuk yang pertama kali dalam hidupku, secentong nasi dihidangkan kedalam piring melalui seorang tangan lelaki yang baru menyampaikan cinta beberapa waktu yang lalu.

Aku menjadi terpesona, lilin kecil di atas meja memberi suasana batin yang tiada tara cinta pada hakikatnya adalah memberikan kemerdekaan pada yang dicintainya, jika cinta belum dapat mewujudkan kemerdekaan untuk orang yang dicintainya maka sebenarnya dia tidak memiliki cinta.

Selepas makan malam, Iqbal mengantarkanku pulang, dia membukakan pintu mobilnya, kemudian aku bersalaman dengannya, aku mengajaknya masuk, Iqbal hanya tersenyum dan menggelengkan kepala, dia hanya memegang tanganku perlahan dia mencium kenigku dan aku hanya mampu terdiam melayang, jiwaku menjadi kaku sepertinya bunga-bunga beterbangan keluar dari dalam hatiku.

Dalam gerimis yang jatuh, lampu jalan yang temaram, kecupan pada keningku seperti mengundang birahi yang lain, aku pada tahapan kepasrahan yang dalam, tubuhku dimasalalu biasa dijamah lelaki, dan mengapa sebuah kecupan dikeningku sekarang membuat syaraf dan hormon Dipamin dalam tubuhku bekerja sangat cepat.

Aku takut membuka mata, aku takut ini segera berakhir, aku ingin ada adegan lain yang lebih indah dari ini, tapi Iqbal sudah selesai menempelkan bibirnya di keningku, tangannya sudah terlepas dari pangkal tanganku. Tubuhku bergetar menahan hormon yang bekerja begitu dahsyat. Aku harus menyeimbangkan pikiranku agar pikiranku menjadi normal kemabali.

Iqbal telah melangkah menuju mobilnya, dan dengan senyuman kecil Iqbal tajam menatap mataku, aku menjadi semakin kaku, Iqbal sudah berada didepan kemudi, dia menyalakan mesin dan membuka kaca mobil menatapku kembali dengan senyuman. Mobilnya sudah berlalu dari hadapanku. Aku masih menikamati gemercik hujan dan membiarkan diriku menjadi tenang.

Sebenarnya aku berharap Iqbal masih bersamaku menikmati malam, menikmati hangatnya malam. Tapi akhirnya peristiwa sejak sore sampai malam ini menjadi sesuatu yang sangat indah. Keindahan sebenarnya adalah perihal perasaan yang menggerakan hati dan pikiran kita untuk tetap berbahagia.

Aku masuki rumah itu sendirian aku hempaskan tubuhku di atas kasur, aku lucuti semua pakaianku, aku tutup dengan selimut, aku membayangkan kembali bibir Iqbal yang mendarat di keningku, aku rasakan kembali tangan Iqbal yang menyentuh pangkal tanganku. Aku rasai kembali air hujan yang gemerecik membasahi sebagian tubuhku.

Aku telah mendapatkan apa yang aku inginkan didalam hidup. Aku  mendapatkan sesuatu yang belum aku dapatkan bertahun yang lalu, aku telah jatuh cinta, dan cintaku telah disambut dengan kecupan hangat.

Malam itu aku menjadi takut untuk memejamkan mata, bayangan wajah Iqbal membekas  dalam ingatan seperti gambar bergerak dilangit-langit kamar yang remang karena lampu yang dimatikan. Sudah hampir tengah malam, sekilas peristiwa kemabli membayang dalam ingatanku, saat pertamakali melihat Iqbal, kantin dan segenap perist iwa membekas dalam fikiran.

Tiba-tiba ada yang bergetar, suara gaway dari pakaian yang tadi aku pakai, segera aku cari-cari sumber getaran itu, aku melihat seseorang memanggil melalui panggilan video.

Aku lihat nama Iqbal yang memanggil, segera aku angkat, dan nampak dia tersenyum dan aku segera mencari-cari headset aku segera dapat mengetahui jika Iqbal sedang berada disebuah ruangan, mungkin itu kamarnya, aku segera menyembunyikan tubuhku didalam selimut, Iqbal sudah berganti pakaian, dia sudah mengenakan kaos putih tipis yang biasa digunakan untuk pakaian dalam, sementara bagian bawah nampaknya dia menggunakan sarung.

“Bagaimana malam pertama di rmah baru Cha?” Tanya Iqbal sambil mengenakan headset

“Belum bisa tidur Aiq” Jawabku singkat

“kenapa memangnya, takut?”

“Bukan, tapi sepi dingin dan rindu, heheh” Ucapku santai

“Ko sepi? Dingin kan bisa pakai selimut, asik Aiq dirindukan Icha” jawab Iqbal dengan enteng

“Aih, kepedean, siapa yang ngerinduin Aiq” Jawabku bercanda

“Yaudah kalau Aiq gx dirindukan, Aiq tutup yah VC nya nih” ancam Iqbal dengan canda

“Ah, Aiq masa gitu aja ngambek, heheh, Icha Kangen Aiq” Rayuku pada Iqbal

“Sama Aiq juga rindu, makanya ini menghubungi Icha”

“Ah, kerinduan ini nampaknya tidak bisa diobati dengan hanya VC, kerinduan ini harus dibalas dengan perjumpaan” Ucapku dengan nada manja yang mulai berani bicara terbuka

“Kan tadi baru ketemu” Jawab Iqbal

“Justru pertemuan tadi yang malah menciptakan kerinduan ini, percayalah Aiq Icha gak bisa tidur karena membayangkan banyak hal tentang Aiq”

“Wah, membayangkan apa ayo?”

“Membayangkan sekiranya sekarang Aiq ada sini, kita duduk menikmati the hangat dan saling bercerita”

“Pada saatnya nanti, kita akan menikmati kebersamaan dan kemesraan sebagai sebuah ibadah kepada Allah”

Jam dinding yang berdetak telah merangkak menuju jam 01 dinihari, ada sesuatu yang harus diutarakan dari segenap kerinduan terhadap insan yang diharapkan dengan segenap jiwa. Sampai kantuk yang tak tertahankan, sampai akhirnya kata-kata terakhir dari percakapan itu menjadi samar-samar.

Malam dan gerimis telah mengantarkanku pada pagi, setelah salat subuh aku tidak dapat menahan kantuk aku baringkan tubuhku kembali, aku tertidur kembali. Menikmati minggu di tempat tidur dengan segala lelah.

Aku-benar-benar tertidur, membalas segala lelah sampai jam satu malam. Sampai jam sebelas siang perutku terasa lapar, aku terbangun dan jam sudah menunjukan jam 11.01 WIB, aku duduk sebentar untuk mengumpulkan kesadaran. Dengan mengenakan selimut segera aku kekamar mandi untuk mandi.

Belum ada rencana apapun hari ini, yang jelas lelah sudah terbayar, tinggal lapar yang datang kembali, menikmati segarnya air membuat segala pikiran menjadi seolah kembali segar. Setelah mandi aku memakai kaos santai, dan memakai celana pendek saja, sendiri di dalam rumah, aku menghubungi ibuku melalui telpon. Mengabarkan kepindahanku.

Siang itu, hampr jam setengah dua belas siang, pintu rumah terdengar ada yang mengetuk, aku intip dari balik jendela siapakah gerangan yang datang.

 

Bersambung….