Menghitung Detik Demi Kamu

Menghitung Detik Demi Kamu

MENGHITUNG DETIK DEMI KAMU

Oleh:Munawir Syahidi

Suara adzan yang berkumandang sedikit mengganggu tidur, tapi karena kantuk akhirnya aku kembali tertidur baru bangun kembali, aku memicingkan mata menekan tombol gaway yang tergeletak disampingku dengan kabel charge yang masih nyambung ke colokan, pada layar gaway tertera angka yang menunjukan jam 12.30 WIB. Perempuan normal harusnya sudah bangun dengan segudang aktivitas, tapi aku memang sedang tidak normal. Atau sudah lama tidak normal, menormalkan diri berarti siap menerima kesakitan dan kekecewaan.

“Hampir jam satu siang” gumamku, tidak ada sesal karena hidup menurutku bukan untuk disesali.

Ruangan kontrakan yang tidak terlalu luas, ada tempat untuk memasak sebelah kamar mandi, selebihnya adalah tempat tidur atau tempat untuk apa saja. Itu kontrakanku di sebuah kota yang jauh dari tempat tinggalku di Ujung Kulon. Kontrakan yang aku tinggali sejak semester pertama itu adalah tempat ternyaman yang aku dapatkan di dunia ini. Setelah melewati gang yang sedikit sempit kiri kanan hanya tembok, kontrakan yang nyaris tidak memiliki halaman, berderet lebih dari delapan kontrakan, itulah tempat dimana seolah di tempat itu tidak ada Tuhan hanya diriku sendiri yang dapat menentukan jalan. Aku sudah lupa nasihat ustadz di kampungku ketika aku masih anak-anak.

Malam itu aku sendirian, aku tergeletak  sejak jam 03.00 WIB, setelah melaksanakan kegiatan di kampus, gerah sekali malam itu, aku tanggalkan kain yang melekat pada tubuhku. Dan baru terbangun setelah suara adzan dari Mushola itu merangsek masuk kedalam telingaku, sementara panggilan dari nomor ibu berkali-kali tidak terdengar karena memang gaway berada pada mode getar.

“Assalamualaikum bu” ucapku dengan nada semangat seolah sudah lama terbangun

“Waalaikum salam” dari ujung telpon terdengar seorang perempun menjawab salam

“Maaf bu tadi hape Icha ketinggalan, ini baru sampai dari kampus dan baru selesai salat” Aku meyakinkan ibuku yang setia menanya kabar setiap hari padaku, yang setiap hari dengan harapan, aku yang dengan kemanjaanku tersendiri.

“Oh, iya Cha, uang bulan ini sudah ibu transfer yah, Icha gx usah masak beli aja takut capek” Kata ibunya dengan semangat

“Iya bu, terimakasih banget, I love you ibu” sebagai sebuah tanda bahwa aku sangat mencintainya. Ya aku memang sangat mencintai ibuku, wanita yang paling mengerti dengan apa yang aku kehendaki.

“Yes, bulan ini sudah punya uang lagi” kataku dalam hati.

Aku membuka gorden, nampak matahari sudah tepat diatas, perut sudah mulai terasa lapar, aku bangun dan mandi, mengganjal perut dengan sebungkus roti  coklat, memeriksa pesan di WA dan membuat janji kencan malam minggu. Sesekali mataku menangkap lembaran pengajuan judul skripsi yang sudah lengkap di tandatangan.

Lelaki itu melakukan panggilan video aku angkat saja sambil tiduran kembali, dengan posisi yang paling sempurna untuk  terlihat cantik dan menawan, sepertinya iblis senang sekali dengan apa yang aku lakukan, aku telah membuat iblis senang. Tapi telah membuat Tuhan menjadi marah.

Setelah mandi, rambutku yang lebat sampai ke bahu, di ujungnya baru kemarin aku kasih warna agak merah, perawakanku tinggi, bersisi dan kalau dihitung berdasarkan rumus ideal, berat dan tinggi badanku memang ideal.

Sambil menghadapkan wajahku ke cermin, setelah aku kenakan jeans nyetrit, kaos tipis pendek pada bagian bawah, pendek pada bagian lengan dan longgar pada bagian dada, tali kaos dalamku sengaja terlihat, menurutku itulah keseksian, dengan kaos warna abu-abu dengan motif bercak-bercak putih itu aku siap merekam aktivitas berdandan untuk aku masukan ke instagram dan facebook, aku yakin aku sudah layak menjadi artis instagram. Selebgram.

Ini nih kota yang katanya sih Tuhan menciptakan kota ini saat Tuhan sedang tersenyum, Aku Risa yang kemudian ibu dan teman-temanku memanggil aku dengan panggilan Icha, Risa Ayustia nama lengkapku, aku seorang mahasiswi tingkat akhir sebuah kampus di kota Bandung.

Aku memang dari kampung, di kota ini aku mengontrak, dikontrakan yang orang bilang kontrakan paling bebas, kontrakan tanpa kecurigaan, mau bawa siapa saja untuk menginap tidak akan ada yang melarang, membawa teman lelaki sekalipun, kalau mau tidak akan ada yang usil, tidak akan ada yang melarang. Di kota ini aku memang tidak punya siapa-siapa, tiada punya keluarga, jadi siapa yang akan melarang? Ibu setiap hari mengingatkanku agar aku menjadi perempuan sholehah, yang ketika pulang ke kampung aku siap menjadi perempuan seutuhnya. Ibu yang setiap hari menelpon yang setiap hari aku bohongi.

Nyatanya, di kota ini memang jauh dari orang tua, tidak ada yang mengingatkan, kecuali diri kita sendiri, diri yang kata the panas dalam band  Bandung itu bahwa diri sudah terlanjur habis,

 “hidup adalah waktu tersisa diisi sebelum habis, bagai mana ini ingin kembali diri sudah terlanjur habis” Lagu yang sedang aku dengarkan di sebuah cafe siang ini sambil menikmati makan siang.

Tenang saja aku makan dibayarin sama teman lelakiku, dia konon anak bos sawit di Kalimantan yang tinggal di Jakarta, jadi tenang saja uangnya tidak akan habis, tapi jangan kecewa kalau dia ketahuan jalan sama perempuan lain karena itu sudah resiko berhubungan dengan lelaki tajir, walaupun memang tidak semuanya, hanya saja aku belum ketemu lelaki tajir yang setia.

Ramai lalulalang kendaraan, kebahagiaan yang tersirat dari para pejalan kaki di trotoar dan segala aktivitas manusia nampak jelas di kota ini. Aku sudah dalam mobil ini menjelang malam minggu jadi saatnya kami berkencan dan berkencang-kencang. “Hidup adalah waktu tersisa di isi sebelum habis, bagaimana ini ingin kembali diri sudah terlanjur habis”

Kecantikan dan kemolekanku telah tersebar luas di instagram dan facebook, keahlianku menari memberi kesan tersendiri bahwa memang aku layak di follow di instagram dan diberikan like di facebook. Jangan khawatir ibuku dan bapakku tidak pernah tahu facebook dan instagram, teman-temanku? mereka sudah maklum kelakuanku.

Malam itu lampu kota nampak begitu indah dari kejauhan, lampu mobil yang sambung-menyambung serupa pawai cahaya yang tidak pernah berhenti menerangi jalanan kota, aku sedang berada  di sebuah bukit sedang menikmati malam, di sebuah villa berdua saja sampai pagi, konon ini adalah villa milik Haris lelaki yang tadi mentraktir makan dan membawaku menikmati malam minggu ini, di bukit ini.

Akulah perempuan yang sudah berkali-kali kecewa terhadap cinta, yang tidak percaya pada kesetiaan yang sudah jemu dengan janji-janji. Jadi aku habiskan saja waktu dengan segala apa yang ditawarkannya.

Di kampus, aku dikenal banyak kalangan, aku perempuan yang aktif berorganisasi, aku sering memimpin berbagai kegiatan, urusan laki-laki bagiku tidak ada yang benar-benar harus diperjuangkan, tentu saja setelah berkali-kali kecewa.

Aku merasa jauh sekali dengan Tuhan, yang sebenarnya secara wajar aku sadari itu, tapi kamu tahu? aku berubah semenjak aku sadar bahwa Tuhan tidak adil, ini perihal ibuku yang sekarang harus sendirian menghadapi hidup karena bapakku telah jatuh ke dalam pelukan perempuan muda yang aku anggap saja dia adalah pelacur, hahahaha aku menuju arah yang sama dengan perempuan yang menghancurkan ibuku, dan aku berfikir dimana Tuhan saat kesakitan itu merenggut seluruh senyuman di bibirku dan bibir ibuku, tapi ibuku perempuan kuat, dia kembali berserah diri pada Allah, Ibu menjadi cahaya tapi tidak dapat menerangi hidupku yang terlanjur gelap dan habis ini.

Bulan desember ini, rencananya aku akan wisuda, segala aktivitas kuliahku akan segera berhenti, kamu tahu apa yang harus aku lakukan? bertahan di kota ini? atau pulang dengan 180 derajat perubahan, gaya hidup yang sekarang tentu tidak akan dapat diterima di kampung, hanya akan mencoreng wajah ibuku.

Aku putuskan untuk bekerja di Jakarta, aku menjadi bagian dari sebuah perusahaan besar, bagiku sedikit gampang untuk masuk perusahaan karena aku banyak kenal dengan kalangan atas yang setidaknya pernah kencan denganku, foto dan video banyak yang masih aku simpan itu ancaman yang paling ampuh agar mereka mau menerima aku diperusahaannya. Kalau sekiranya mereka tidak mau menerima aku, maka hancurlah keluarganya, hancur keluarganya berarti hancur juga perusahaannya.

Eh, tapi perihal cinta apakah aku akan selamanya menganggapnya sebagai sesuatu yang menyakitkan? Dia laki-laki yang berbeda yang menatap mataku dengan sangat dalam, yang masuk kedalam relung hati. Aku yang menunggu detik-detik jam menunggu dia lelaki yang ketika waktu salat lewat di depan mejaku.

Bersambung …..

Suara adzan yang berkumandang sedikit mengganggu tidur, tapi karena kantuk akhirnya aku kembali tertidur baru bangun kembali, aku memicingkan mata menekan tombol gaway yang tergeletak disampingku dengan kabel charge yang masih nyambung ke colokan, pada layar gaway tertera angka yang menunjukan jam 12.30 WIB. Perempuan normal harusnya sudah bangun dengan segudang aktivitas, tapi aku memang sedang tidak normal. Atau sudah lama tidak normal, menormalkan diri berarti siap menerima kesakitan dan kekecewaan.

“Hampir jam satu siang” gumamku, tidak ada sesal karena hidup menurutku bukan untuk disesali.

Ruangan kontrakan yang tidak terlalu luas, ada tempat untuk memasak sebelah kamar mandi, selebihnya adalah tempat tidur atau tempat untuk apa saja. Itu kontrakanku di sebuah kota yang jauh dari tempat tinggalku di Ujung Kulon. Kontrakan yang aku tinggali sejak semester pertama itu adalah tempat ternyaman yang aku dapatkan di dunia ini. Setelah melewati gang yang sedikit sempit kiri kanan hanya tembok, kontrakan yang nyaris tidak memiliki halaman, berderet lebih dari delapan kontrakan, itulah tempat dimana seolah di tempat itu tidak ada Tuhan hanya diriku sendiri yang dapat menentukan jalan. Aku sudah lupa nasihat ustadz di kampungku ketika aku masih anak-anak.

Malam itu aku sendirian, aku tergeletak  sejak jam 03.00 WIB, setelah melaksanakan kegiatan di kampus, gerah sekali malam itu, aku tanggalkan kain yang melekat pada tubuhku. Dan baru terbangun setelah suara adzan dari Mushola itu merangsek masuk kedalam telingaku, sementara panggilan dari nomor ibu berkali-kali tidak terdengar karena memang gaway berada pada mode getar.

“Assalamualaikum bu” ucapku dengan nada semangat seolah sudah lama terbangun

“Waalaikum salam” dari ujung telpon terdengar seorang perempun menjawab salam

“Maaf bu tadi hape Icha ketinggalan, ini baru sampai dari kampus dan baru selesai salat” Aku meyakinkan ibuku yang setia menanya kabar setiap hari padaku, yang setiap hari dengan harapan, aku yang dengan kemanjaanku tersendiri.

“Oh, iya Cha, uang bulan ini sudah ibu transfer yah, Icha gx usah masak beli aja takut capek” Kata ibunya dengan semangat

“Iya bu, terimakasih banget, I love you ibu” sebagai sebuah tanda bahwa aku sangat mencintainya. Ya aku memang sangat mencintai ibuku, wanita yang paling mengerti dengan apa yang aku kehendaki.

“Yes, bulan ini sudah punya uang lagi” kataku dalam hati.

Aku membuka gorden, nampak matahari sudah tepat diatas, perut sudah mulai terasa lapar, aku bangun dan mandi, mengganjal perut dengan sebungkus roti  coklat, memeriksa pesan di WA dan membuat janji kencan malam minggu. Sesekali mataku menangkap lembaran pengajuan judul skripsi yang sudah lengkap di tandatangan.

Lelaki itu melakukan panggilan video aku angkat saja sambil tiduran kembali, dengan posisi yang paling sempurna untuk  terlihat cantik dan menawan, sepertinya iblis senang sekali dengan apa yang aku lakukan, aku telah membuat iblis senang. Tapi telah membuat Tuhan menjadi marah.

Setelah mandi, rambutku yang lebat sampai ke bahu, di ujungnya baru kemarin aku kasih warna agak merah, perawakanku tinggi, bersisi dan kalau dihitung berdasarkan rumus ideal, berat dan tinggi badanku memang ideal.

Sambil menghadapkan wajahku ke cermin, setelah aku kenakan jeans nyetrit, kaos tipis pendek pada bagian bawah, pendek pada bagian lengan dan longgar pada bagian dada, tali kaos dalamku sengaja terlihat, menurutku itulah keseksian, dengan kaos warna abu-abu dengan motif bercak-bercak putih itu aku siap merekam aktivitas berdandan untuk aku masukan ke instagram dan facebook, aku yakin aku sudah layak menjadi artis instagram. Selebgram.

Ini nih kota yang katanya sih Tuhan menciptakan kota ini saat Tuhan sedang tersenyum, Aku Risa yang kemudian ibu dan teman-temanku memanggil aku dengan panggilan Icha, Risa Ayustia nama lengkapku, aku seorang mahasiswi tingkat akhir sebuah kampus di kota Bandung.

Aku memang dari kampung, di kota ini aku mengontrak, dikontrakan yang orang bilang kontrakan paling bebas, kontrakan tanpa kecurigaan, mau bawa siapa saja untuk menginap tidak akan ada yang melarang, membawa teman lelaki sekalipun, kalau mau tidak akan ada yang usil, tidak akan ada yang melarang. Di kota ini aku memang tidak punya siapa-siapa, tiada punya keluarga, jadi siapa yang akan melarang? Ibu setiap hari mengingatkanku agar aku menjadi perempuan sholehah, yang ketika pulang ke kampung aku siap menjadi perempuan seutuhnya. Ibu yang setiap hari menelpon yang setiap hari aku bohongi.

Nyatanya, di kota ini memang jauh dari orang tua, tidak ada yang mengingatkan, kecuali diri kita sendiri, diri yang kata the panas dalam band  Bandung itu bahwa diri sudah terlanjur habis,

 “hidup adalah waktu tersisa diisi sebelum habis, bagai mana ini ingin kembali diri sudah terlanjur habis” Lagu yang sedang aku dengarkan di sebuah cafe siang ini sambil menikmati makan siang.

Tenang saja aku makan dibayarin sama teman lelakiku, dia konon anak bos sawit di Kalimantan yang tinggal di Jakarta, jadi tenang saja uangnya tidak akan habis, tapi jangan kecewa kalau dia ketahuan jalan sama perempuan lain karena itu sudah resiko berhubungan dengan lelaki tajir, walaupun memang tidak semuanya, hanya saja aku belum ketemu lelaki tajir yang setia.

Ramai lalulalang kendaraan, kebahagiaan yang tersirat dari para pejalan kaki di trotoar dan segala aktivitas manusia nampak jelas di kota ini. Aku sudah dalam mobil ini menjelang malam minggu jadi saatnya kami berkencan dan berkencang-kencang. “Hidup adalah waktu tersisa di isi sebelum habis, bagaimana ini ingin kembali diri sudah terlanjur habis”

Kecantikan dan kemolekanku telah tersebar luas di instagram dan facebook, keahlianku menari memberi kesan tersendiri bahwa memang aku layak di follow di instagram dan diberikan like di facebook. Jangan khawatir ibuku dan bapakku tidak pernah tahu facebook dan instagram, teman-temanku? mereka sudah maklum kelakuanku.

Malam itu lampu kota nampak begitu indah dari kejauhan, lampu mobil yang sambung-menyambung serupa pawai cahaya yang tidak pernah berhenti menerangi jalanan kota, aku sedang berada  di sebuah bukit sedang menikmati malam, di sebuah villa berdua saja sampai pagi, konon ini adalah villa milik Haris lelaki yang tadi mentraktir makan dan membawaku menikmati malam minggu ini, di bukit ini.

Akulah perempuan yang sudah berkali-kali kecewa terhadap cinta, yang tidak percaya pada kesetiaan yang sudah jemu dengan janji-janji. Jadi aku habiskan saja waktu dengan segala apa yang ditawarkannya.

Di kampus, aku dikenal banyak kalangan, aku perempuan yang aktif berorganisasi, aku sering memimpin berbagai kegiatan, urusan laki-laki bagiku tidak ada yang benar-benar harus diperjuangkan, tentu saja setelah berkali-kali kecewa.

Aku merasa jauh sekali dengan Tuhan, yang sebenarnya secara wajar aku sadari itu, tapi kamu tahu? aku berubah semenjak aku sadar bahwa Tuhan tidak adil, ini perihal ibuku yang sekarang harus sendirian menghadapi hidup karena bapakku telah jatuh ke dalam pelukan perempuan muda yang aku anggap saja dia adalah pelacur, hahahaha aku menuju arah yang sama dengan perempuan yang menghancurkan ibuku, dan aku berfikir dimana Tuhan saat kesakitan itu merenggut seluruh senyuman di bibirku dan bibir ibuku, tapi ibuku perempuan kuat, dia kembali berserah diri pada Allah, Ibu menjadi cahaya tapi tidak dapat menerangi hidupku yang terlanjur gelap dan habis ini.

Bulan desember ini, rencananya aku akan wisuda, segala aktivitas kuliahku akan segera berhenti, kamu tahu apa yang harus aku lakukan? bertahan di kota ini? atau pulang dengan 180 derajat perubahan, gaya hidup yang sekarang tentu tidak akan dapat diterima di kampung, hanya akan mencoreng wajah ibuku.

Aku putuskan untuk bekerja di Jakarta, aku menjadi bagian dari sebuah perusahaan besar, bagiku sedikit gampang untuk masuk perusahaan karena aku banyak kenal dengan kalangan atas yang setidaknya pernah kencan denganku, foto dan video banyak yang masih aku simpan itu ancaman yang paling ampuh agar mereka mau menerima aku diperusahaannya. Kalau sekiranya mereka tidak mau menerima aku, maka hancurlah keluarganya, hancur keluarganya berarti hancur juga perusahaannya.

Eh, tapi perihal cinta apakah aku akan selamanya menganggapnya sebagai sesuatu yang menyakitkan? Dia laki-laki yang berbeda yang menatap mataku dengan sangat dalam, yang masuk kedalam relung hati. Aku yang menunggu detik-detik jam menunggu dia lelaki yang ketika waktu salat lewat di depan mejaku.

Bersambung ….. (1 Minggu Kemudian)

*Munawir Syahidi, Planters di TBM Saung Huma dan Pemerhati di Paksi MAN 4 Pandeglang