oleh

Ngayuman#4 TBM Saung Huma, Sebuah Catatan dari Relawan

Sore itu, Sekelompok remaja  sedang asyik diskusi, kami sedang memperbincangkan kegiatan untuk memeriahkan HUT RI ke 75, dari diskusi lanjutan melalui WhatsApp kami melanjutkan diskusi lanjutan sebagai pematanagn konsep di TBM Saung Huma, dari hasil diskusi atau rapat lanjutan itu kami menyepakati beberapa kegiatan perlombaan sesuai tingkatan, tingkat TK lomba menggambar dan mewarnai, tingkatan SD/SLTP/SLTA lomba balap karung, koin tepung, dan ibu-ibu  lomba balap karung. Acara tambahan adalah parade membca puisi dan karaoke lagu-lagu bertema nasionalisme. Ini rapat pematangan (19/08/2020) sedangkan kegiatan akan dilaksanakan besonya tanggal 20 Agustus 2020.

Kegiatan ini adalah salah satu kegiatan tahunan yang selalu dilaksanakan di TBM saung Huma kami menyebutnya NGAYUMAN “Ngarameken dirgahayu kemerdekaan” ini Ngayuman ke 4, ya namanya Ngayuman  nama yang  identik dengan TBM Saung Huma,  kebiasaan pada  masyarakat sekitar saat bertani/berkebun.

Kami adalah relawan di TBM Saung Huma di Curug luhur RT 004 RW 006 Desa Waringinjaya, Kecamatan Cigeulis, Pandeglang.

Setelah diskusi selesai para relawan bergegas untuk mengerjakan tugas nya masing-masing, ada yang membuat gapura, memasang umbul-umbul, bendera merah putih, ada yang membuat anyaman bambu yang tertera tanggal kemerdekaan republik  Indonesia, membersihkan cangkang air kemasan gelas yang akan menjadi hiasan di sekitar TBM yang menjadi ciri khas perayaa kemerdekaan, tak lupa warna kebanggaan pun selalu mencoret setiap hiasan yaitu warna merah dan putih, ada yang membuat lukisan sebagai pelengkap, ada pula yang membeli hadiah. Oh iya uang untuk membeli hadiah tersebut adalah hasil dari iuran kami para relawan sebesar Rp 5.000,00 dan uang hasil iuran itu langsung kami belikan hadiah  ke pasar Cibaliung yang lokasinya lumayan jauh dari TBM Saung Huma, semua kami lakukan dengan bergembira, tidak lupa nasi liwet pun selalu hadir di tengah aktivitas yang kami lakukan, karena ada sebagian orang yang bertugas di dapur untuk ngaliwet, karena ngaliwet adalah ciri khas kami sebab perut kenyang hati pun senang. Betul kan?.

TBM Saung Huma terasa ramai dengan aktivitas sesuai tugasnya masing masing, bercengkrama, bercanda gurau, kebersamaan hingga  kehangatan pun hadir di tengah tengah kami para relawan meski kami para relawan berasal dari berbagai kecamatan di sekitar Cibaliung (Cigeulis, Cibaliung, Cimanggu dan Kecamatan Sumur) Usia kami di TBM memang berbeda, kalau dilihat dari tingkat pendidikan relawan di TBM Saung Huma ada yang berbeda di tingkat SLTP, SLTA hingga Mahasiswa. Perbedaan seolah menjadi penguat kami para relawan, banyak hal yang kami dapatkan selain mendapatkan teman baru, berbagi pengalaman, belajar bersama dan yang paling kami sukai yaitu dapat terjun langsung di tengah tengah masyarakat.

Waktu pun terus berjalan, tak terasa pekerjaan pun telah selesai berkat gotong royong dan saling membantu satu sama lain. Gapura yang sudah berdiri tegak, umbul umbul dan bendera merah putih sudah berkibar dengan gagahnya, hiasan dari bekas air kemasan gelas yang telah menggantung di atas udara dengan warna merah dan putih, lukisan yang terdapat terdapat gambar tangan dan bendera merah putih yang bermakna memegang teguh kemerdekaan dan terdapat tulisan ‘MEMBACA ATAU MATI’ #TBM Saung Huma, lukisan ini kami letakan di area utama perlombaan meski kegiatan ini salah satu memeriahkan HUT RI tapi tetap jiwa literasi kami terus menyala, buku pun selalu hadir dan setia menemani di tengah-tengah keramaian.

Setelah semua selesai terasa masih kurang, kira kira apa ya? Ternyata sangu liwet yang tak kunjung hadir sebab nasi liwet tanpa ikan asin, seperti jomblo heheh, tidak lupa sambal dan rebus daun singkong yang kami peroleh dari kebun sekitar TBM, setelah penantian panjang petugas dapur  memberikan instruksi untuk mengambil daun pisang, pertanda nasi liwet siap dihidangkan, wajah kegembiraan pun muncul sebab yang di nanti nanti akan tiba. Daun pisang sudah terhampar dengan rapihnya, nasi liwet  dan menu tambahan ikut hadir di tengah gelaran daun pisang tersebut, akhirnya kami menyantapnya  bersama-sama meski begitu sederhana namun kami sangat bersyukur dan menikmati itu semua.

Beberapa relawan, bahkan ada yang menginap di TBM membereskan hal-hal kecil yang beelum terselesaikan tadi siang. Memang kalau ingin menginap di TBM Saung Huma, cukup ruang untuk sekedar memejamkan mata dengan tenang.

Ke esokan harinya, Jumat 20 Agustus 2020 adalah hari pelaksanaan kegiatan sesuai jadwal  dimulai dari pukul 13.00 sampai dengan  selesai, acara pun di buka, lantunan ayat suci Al-Qur’an dan gema lagu kebangsaan Indonesia raya pun memenuhi telinga dan jiwa, masyarakat yang setiap hari bergmul dengan pekerjaanya masing-masing, siang itu hanyut dalam lantunan Indonesia raya dan lagu 17 Agustus, satu dua patah kata pun terlontar dari ketua pelaksana Dewi Puspitasari, dan Munawir Syahidi Sebagai Pengelola TBM Saung Huma.

Alhamdulillah, acara berjalan sesuai dengan harapan kami antusias masyarakat begitu luar biasa, mulai dari  kampung Curug luhur, Kampung Wates hingga tetangga kampung seperti Gunung kendeng dan Mahendra, lebih dari 180 Orang memeriahkan kegiatan ini.

Apresiasi yang sangat luar biasa dari kami para relawan sebab  acara yang kami rancang begitu sederhana, hadiah yang kami sediakan pun hanya seadanya seperti, alat tulis, minyak goreng, sabun cuci dan alat rumah tangga seperti panci, gayung ember dll.

Harapan kami, semoga kami terus dapat menularkan api literasi dan hal baik yang kami lakukan dapat berdampak besar.

Saya Reza Maharani, yang biasanya selalu sibuk menjadi seksi dapur, merasakan kebahagiaan dan kebanggan tersendiri, walaupun tugasnya hanya memasak dan menyediakan makan untuk para relawan di TBM Saung Huma. Bagi saya selalu ada pelajaran dari setiap yang dilakukan, yang penting tetep ikhlas dan niatkan untuk belajar.

 

Penulis: Reza Maharani, Relawan TBM Saung Huma

News Feed