Pasca Tsunami IB Melakukan Penanggulangan Dampak Psikologis

Pasca Tsunami IB Melakukan Penanggulangan Dampak Psikologis

semburat.com| Relawan Indonesia Bangkit melakukan kegiatan trauma healing di Desa Ujung Jaya Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten (12/01/19)

Kegiatan ini dimaksudkan untuk menghilangkan  ketakutan  terutama bagi anak-anak yang terdampak langsung ataupun tidak kangsung dari bencana Tsunami yang menerjang kampung mereka beberapa waktu yang lalu.

Selain itu menurut Relawan IB, keadaan Anak Gunung Krakatau yang masih terdengar menggelegar membuat anak-anak dan orang dewasa ketakutan dan menjadikan suasana menjadi sepi dan mencekam.

“Di tengah situasi mencekam, penting bagi anak-anak dan orang dewasa untuk mendapat pelayanan pemulihan trauma atau trauma healing” Ungkap salah satu Relawan Indonesia Bangkit.

Menurut Bintang relawan Indonesia  Bangkit berasal dari Palu, Sulawesi Tengah, mengatakan bahwa anak dan para orang dewasa masih mengalami trauma. Maka dari itu penting melakukan kegiatan trauma healing bertujuan untuk mengantisipasi “post-traumatic syndrome disorder” yang berarti gangguan atau ketakutan.

Trauma healing untuk anak anak  cenderung agak sulit sebab anak seringkali sulit bercerita perihal kecemasannya seperti orang dewasa. Bintang mengatakan, bermain menjadi salah satu metode yang sesuai untuk anak-anak.

“Dengan bermain, mereka tidak merasa sedang diobati, serta tidak merasakan situasi yang mencekam. Dan yang mendampingi tidak boleh selalu mengungkit cerita Tsunami” ungkapnya.

“Lebih lanjut lagi  peristiwa tsunami membuat anak-anak harus berada di rumah  bersama ibu dan bapaknya, sehingga baik jika anak diajak bermain dalam kelompok. Metode terapi mengajak anak bermain, menikmati situasi walaupun situasi tidak senyaman biasanya” Tambahnya.

Bermain dapat mengalihkan fokus anak dari situasi yang mencekam sekaligus membuat mental anak menerima situasi yang ia hadapi

“Maka dari itu Indonesia Bangkit (IB) perlu mendukung penuh dan terus menciptakan tenaga profesional dan relawan yang  siap untuk mengabdi diri kepada massa”

“Selain itu dalam situasi tak nyaman, pemulihan trauma pada anak memang memerlukan dukungan keluarga dan orang dewasa di sekitarnya. Namun, keluarga tentu berada di situasi serupa, merasa panik dan cenderung tidak bisa menolong”

Bintang menjelaskan jika penyembuhan Trauma tidak hanya terjadi pada anak-anak dan tidak memgenal natas usia.

“Cepat atau lambatnya penyembuhan trauma tidak berpatokan pada usia. Trauma, artinya orang melakukan pemaknaan dari apa yang dipikirkan dengan peristiwa yang dialami. Saat orang menemukan bahwa keduanya tidak singkron, trauma akan muncul, kemunculan trauma bisa dalam tempo atau rentan waktu yang sangat panjang”

Bintang memberikan contoh banyak anak anak di Desa Ujung Jaya, kampung tanjung Lame yang kehilangan rumah akan tetapi anak ini tidak paham bahwa rumahnya sudah tidak ada. Si anak  beranggapan bahwa rumah sedang diperbaiki yang baru. Berbeda dengan orang dewasa yang lebih cepat memaknai suatu peristiwa yang dialami.

“Namun orang dewasa juga ada yang dilemah, menolak. Seperti mengatakan kami  enggak apa-apa, padahal segala bentuk emosi negatif sebaiknya. Kalau sedih dan memang ingin menangis, merasa, enggak perlu terbebani dengan norma lingkungan,” paparnya.

Sementara itu banyak pula orang yang niatnya  memberikan dukungan melalui media sosial mereka. Namun ada juga menemukan unggahan bernada negatif dari peristiwa tsunami. Sehingga menurut Bintang hal tersebut justru menjadikan penderita trauma semakin takut.

Reporter:Makrom Mudiana