Pementasan Teater Siti Jenar dari Saya Sebagai Penonton Amatir

Pementasan Teater Siti Jenar dari Saya Sebagai Penonton Amatir

Dari Cibaliung kami Paguyuban Kesenian Siswa MAN 4 Pandeglang melakukan perjalanan literasi untuk belajar dan mencari inspirasi. Tempat yang kami kunjungi adalah kota Serang.

Mengapa harus Kota Seran? Sementara ini kota yang tetdekat dan dapat kami jangkau baru Kota Serang, kota yang kadang-kadang menyajikan sesuatu yang luar biasa, atau kadang kalau hujan jalanan di kotanya menyajikan banjir.

Sudah sejak lama saya ingin mengajak anak-anak untuk dapat menyaksikan pementasan teater di ruangan bukan pentas arena seperti yang biasa kami lakukan, maklumlah di Cibaliung belum ada gedung yang dapat kami gunakan untuk pementasan, pun kota Serang baru ada aula di di Kampus satu yang dapat digunakan untuk pertunjukan teater, walaupun maksimal hanya dapat menampung empat ratus penonton setiap kali mentas.

Mengetahui akan ada pementasan teater dari Teater Kain Hitam Gesbica UIN Banten, maka kami berencana ingin datang dan meninton, anak-anak mengumpulkan uang, karena harus menyewa mobil, harus ijin ke orang tuanya untuk mendapatkan uang.

Akhirnya 28 orang yang dapat berangkat. (01/09/18) sekitar jam 16.00 WIB kami berangkat menuju Serang, langsung menuju kampus megejar pementasan jam 20.00 WIB, alhamdulillah walaupun nyaris tanpa istirahat kami langsung masuk ke aula yang ternyata bagian depannya sudah diisi penonton yang datang lebih awal,sebisa kami agar kami nyaman dalam menonton.

Sebelum pementasan dimulai, musik live dengan iringan gamelan itu menyambut kami, para apresiator sudah mulai masuk dan pembeca narasi sudah mulai membuka pertunjukan.

Dari segi naskah menurut saya ini berat, apalagi bagi yang belum membaca kisah Seikh Siti Jenar tersebut, kecuali kalau menjadi apresiator yang baik tentu minimalnya akan mendapatkan sesuatu yang berharga dari pementasan tersebut.

Pementasan yang disutradarai oleh Opik Pria Pamungkas ini saya anggap sudah maksimal, dengan sajian visual yang cukup memanjakan mata, walaupun bagi saya yang menonton pada jarak tengah dari panggung beberapa dialog tidak terlalu jelas terdengar, mungkin suara aktor sudah banyak terpakai setelah mentas berkali-kali dengan jeda waktu yang rapat.

Secara konsep, saya yang juga pernah terlibat pementasan dengan sutradara yang sama, merasakan konsep pementasan Seikh Siti Jenar ini sangat luar biasa, dari tata cahaya, visual dengan bantuan proyektor, musik live yang disajikan sampai dengan kostum dan make up yang maksimal membuat saya sebagai pembelajar pemula banyak inspirasi yang didapatkan.

Selebihnya, saya sebagai penonton harus mengucapkan terimakasih kepada Teater Kain Hitam yang terus berupaya melakukan kegiatan teater ditengah harapan klasik yang “seolah” mustahil yaitu Banten memiliki gedung kesenian yang dapat menampung banyak apresiator teater.

Dalam diskusi yang berlangsung setelah pementasan, perihal gedung kesenian masih menjadi harapan para pegiat kesenian di Banten, terimakasih Gesbica, Terimakasih Kang Opik, Kang Iffan yang gak gondrong lagi, telah memberikan pelajaran besar pada kami yang datang dari kampung.

 

*Munawir Syahidi, Penonton.