Pendidikan tidak Mendadak, agar Benar dalam Bertindak

Pendidikan tidak Mendadak, agar Benar dalam Bertindak

“Guru pasti berbicara tentang kelembutan sementara lingkungannya mengajarkan kekerasan. Seorang guru dan lingkungan mengajarkan kebaikan sementara games online yang dia senangi berbicara tentang kekerasan. Semua memiliki peranan besar dalam menemukan kembali bentuk pendidikan di Indonesia.”

Sejarah pendidikan Indonesia, sebuah bangsa yang terjajah yang sebenarnya dalam bentuk pendidikan telah menemukan bentuk. Dimana pendidikan karakter menjadi tujuan utama dari pendidikan walaupun akhirnya pendidikan selalu menjadi alat yang paling mujarab untuk membentuk suatu peradaban bahkan untuk penyebaran agama dan kepentingan.
Guru Budi, Semoga Allah menerangkan kuburnya, adalah seorang guru honorer yang mengampu mata pelajaran kesenian, akhir-akhir ini menjadi sorotan dibelbagai media nasional. Yang menjadi alasan mengapa penulis ingin beropini tentang pendidikan menurut pikiran awam penulis.

Pendidikan di Indonesia, bahkan sejak zaman Hindu Budha masyarakat nusantra telah mengenal pendidikan, setidaknya perkumpulan dan aktivitas yang membicarakan permasalahan tatacara beragama.

Sejak kedatangan Bangsa Portugis pada abad ke 16 mereka juga membuak misi penyebaran agama, dan yang mereka anggap paling ampuh untuk menyebarkan kepercayaan adalah pendidikan.
Kedatangan Belanda berikutnya juga sama membawa misi yang sama, yaitu penyebaran agama melalui pendidikan. Portugis menyebarkan katolik dan Belanda menyebarkan Protestan.

Pendirian sekolah di Jakarta dilakukan untuk mempersiapkan keahlian menjadi petugas administratif Hindia Belanda. Pada awal abad 19, saat Van den Bosch menjabat Gubernur Jenderal, Belanda menerapkan sistem tanam paksa yang membutuhkan banyak tenaga ahli. Keadaan ini membuat Belanda kemudian mendirikan 20 sekolah untuk penduduk Indonesia di setiap ibukota karesidenan dimana pelajar hanya boleh berasal dari kalangan bangsawan. Ketika era tanam paksa berakhir dan memasuki masa politik etis, beberapa sekolah Belanda mulai menerima pelajar dari berbagai kalangan yang kemudian berkembang menjadi bernama Sekolah Rakjat.

Pada akhir era abad ke 19 dan awal abad ke 20, Belanda memperkenalkan sistem pendidikan formal bagi masyarakat Indonesia dengan struktur sebagai berikut.
ELS (Europeesche Lagere School) – Sekolah dasar bagi orang eropa,HIS (Hollandsch-Inlandsche School) – Sekolah dasar bagi pribumi, MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) – Sekolah menengah, AMS (Algeme(e)ne Middelbare School) – Sekolah atas, HBS (Hogere Burger School) – Pra-Universitas.

Memasuki abad ke 20, Belanda memperdalam pendidikan di Indonesia dengan mendirikan sejumlah perguruan tinggi bagi penduduk Indonesia di pulau Jawa. Beberapa perguruan tinggi tersebut adalah:

School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) – Sekolah kedokteran di Batavia, Nederland-Indische Artsen School (NIAS) – Sekolah kedokteran di Surabaya, Rechts Hoge School – Sekolah hukum di Batavia, De Technische Hoges School (THS) – Sekolah teknik di Bandung.

Kemudian pendudukan Belanda berakhir dan masuk pada pendudukan Jepang yang singkat itu juga tidak lepas dari memandang pentingnya pendidikan. Berbeda dengan Belanda, Jepang membuka pendidikan untuk semua kalangan, dan ditambah juga dengan penerapan penggunaan Bahasa Pribumi, Melayu atau Indonesia sekarang sebagai bahasa yang digunakan, selanjutnya pengajaran Bahasa Jepang. Tentu saja pada masa pendudukan Jepang dilarang penggunaan Bahasa Balanda.

Berbeda dengan pendidikan Islam di Indonesia Kerajaan pasai di Aceh telah memperkenalkan pendidikan bagi penganutnya pada abad ke 10, dan tentu saja pendidikan karakter menjadi penting. Selanjutnya pada masa Walisongo sistem pendidikan dibangun dengan sebutan padepokan dan pesantren, pada masa ini pendidikan Islam tidak dapat diragukan lagi sebagai sebuah sistem yang tentu saja memberikan andil besar dalam peradaban Nusantara bahkan memberikan sumbangan tak terbantahkan untuk kemerdekaan Indonesia.

Apakabar pendidikan Indonesia hari ini di era reformasi ini? Ketika regulasi dibuat dengan niat baik, dengan anggaran yang digelontorkan begitu besarnya malah tidak menunjukan perkembanagan yang baik, maksudnya bukan dalam perkembanagn ilmu pengetahuan, tetapi dalam pengembangan karakter sebagai pengimbang dari ilmu pengetahuan.

Orang pintar tidak berakhlak berbahaya kalimat itulah yang sering saya dengar di masalalu. Baru kemudian lahirlah kurikulum yang berbasis karakter. Termasuk kurikulum 2013 yang seolah angin segar bagi pendidikan kita, karena ternyata bukan hanya semua harus ilmiah dan saintific tapi juga bagaimana di kurikulum ini seluruh prilaku siswa dinilai sedemikaian rupa, yang justru menjadi tambahan pekerjaan baru bagi seorang guru, yang ketika mengisi raport “terpaksa” dipalsukan karena harus tetap di isi. Tetapi kemudian, ketika kurikulum itu diberlakukan sebagai angin segar, malah kita lihat berita tentang siswa yang memukuli gurunya yang menyebabkan guru tersebut meninggal.

Sejatinya pendidikan bukan hanya tugas pihak sekolah, tetapi lebih luas pendidikan adalah tugas semua orang, tugas keluarga, lingkungan rumah dan seluruh elemen, mari kita kembali pada niat baik pendidikan kita, yang inklusif dan menyeluruh, semua lingkungan, bukan hanya sekolah, semua orang, menjaikan pendidikan sebagai kebudayaan, yang mencakup sistem ilmu pengetahuan. Guru pasti berbicara tentang kelembutan sementara lingkungannya mengajarkan kekerasan. Seorang guru dan lingkungan mengajarkan kebaikan sementara games online yang dia senangi berbicara tentang kekerasan. Semua memiliki peranan besar dalam menemukan kembali bentuk pendidikan di Indonesia.

 

Munawir Syahidi, Ketua di Taman Bacaan Masyarakat Saung Huma