Puisi Munawir Syahidi Perihal Kelahiran

Puisi Munawir Syahidi Perihal Kelahiran

Perihal Kelahiran

Oleh: Munawir Syahidi

Kekasihku kita sudah reguk segelas duka bersama

Melewati kerongkongan waktu dan keluar di sudut mata menjadi lebih banyak jadinya

Jutaan kali matahari terbit dan tenggelam sejak masalalu hingga kau lahirlah di muka bumi dengan kalimat takbir tahmid dan tahlil
Sang ibu menghela nafas mengatur siasat, memanjat doa, lahirlah engkau menjadi hari paling keramat

Sama, di sudut yang itu juga sang ibu meneteskan air mata tapi sebilah senyum mengisyaratkan syukur telah lahir dirimu dan menjadi matahari yang lain didalam hidupnya,

Pun, aku dari rahim seorang perempuan yang getar getir menghadapi hidup,
Pada tahun yang sama denganmu kekasihku setelah matahari terbit berjuta-juta kali aku menjadi matahari yang lain juga,

Tuhan pertemukan kita, bapakmu ijab dan aku kabulkan, hari itulah pada sudut itu juga air menetes tapi sebilah senyum mengabarkan kebahagiaan dan harapan,

Berikutnya dari rahimu lahirlah matahari yang lain untuk kita semua, dengan takbir tahlil dan tahmid, dan pada sudut mata yang itu juga mengalir air,

Tapi sebilah senyum mengisyaratkan kebahagiaan pada kita perihal kelahiran

Saung Huma 26 April 2018

Pada Kelahiran
Terbitlah Cahaya dan Harapan

Tanah yang merekah pecah
Hujan yang turun memyiraminya
Meresaplah dan tumbuhlah tetumbuhan

Langit yang gelap
Munculah bulan dan gemintang
Cahaya yang menjadi hiasan pada kegelapan

Malam yang hening
Terbitlah cahaya matahari yang bening
Berkicaulah burung, bertebaranlah kebaikan

Begitulah kelahiran
Dari kalimat pujian kepada Tuhan
Dari mulut ibu menahan kesakitan

Kelahiran adalah hujan pada kemarau dia adalah harapan
Kelahiran adalah cahaya pada gulita dia adalah hiasan
Kelahiran adalah matahari dia menciptakan kebaikan

Maka berbahagialah karena setiap kelahiran adalah cahaya dan harapan

Serang2019

Pusisi ini pernah dibacakan dengan ilustrasi

Untuk Melihat Video Klik di sini

*Munawir Syahidi, Pengelola TBM Saung Huma