oleh

Sajak-Sajak Rendra yang Berbicara Tentang Pendidikan

-LITERASI-30 views

Anda Mahasiswa? Menjadi mahasiswa sebenarnya bukanlah kebanggan, karena dalam kata “Maha” itu ada sesuatu yang besar, yang tinggi. Hari-hari ini kita menjumpai begitu banyak program yang ditawarkan untuk menjadi mahasiswa, mulai yang disediakan negara ataupun yang disediakan swasta, semua seolah berjalan beriringan, bahwa pendidikan dan perguruan tinggi adalah wadah kemajuan yang akan memberikan dampak baik terhadap perdaban di negara yang kita cintai ini. Ya termasuk saya meyakini bahwa pendidikan adalah jalan utama kemajuan suatu bangsa. Akan tetapi, mahasiswa dan model pendidikan seperti apa yang akan membawa pada kemajuan? Mari sejenak kita merenungi puisi Rendra Sajak Pertemuan Mahasiswa.

SAJAK PERTEMUAN MAHASISWA

Oleh :

W.S. Rendra

Matahari terbit pagi ini

mencium bau kencing orok di kaki langit,

melihat kali coklat menjalar ke lautan,

dan mendengar dengung lebah di dalam hutan.

Lalu kini ia dua penggalah tingginya.

Dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini

memeriksa keadaan.

Kita bertanya :

Kenapa maksud baik tidak selalu berguna.

Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga.

Orang berkata “ Kami ada maksud baik “

Dan kita bertanya : “ Maksud baik untuk siapa ?”

Ya ! Ada yang jaya, ada yang terhina

Ada yang bersenjata, ada yang terluka.

Ada yang duduk, ada yang diduduki.

Ada yang berlimpah, ada yang terkuras.

Dan kita di sini bertanya :

“Maksud baik saudara untuk siapa ?

Saudara berdiri di pihak yang mana ?”

Kenapa maksud baik dilakukan

tetapi makin banyak petani yang kehilangan tanahnya.

Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota.

Perkebunan yang luas

hanya menguntungkan segolongan kecil saja.

Alat-alat kemajuan yang diimpor

tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya.

Tentu kita bertanya :

“Lantas maksud baik saudara untuk siapa ?”

Sekarang matahari, semakin tinggi.

Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala.

Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :

Kita ini dididik untuk memihak yang mana ?

Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini

akan menjadi alat pembebasan,

ataukah alat penindasan ?

Sebentar lagi matahari akan tenggelam.

Malam akan tiba.

Cicak-cicak berbunyi di tembok.

Dan rembulan akan berlayar.

Tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda.

Akan hidup di dalam bermimpi.

Akan tumbuh di kebon belakang.

Dan esok hari

matahari akan terbit kembali.

Sementara hari baru menjelma.

Pertanyaan-pertanyaan kita menjadi hutan.

Atau masuk ke sungai

menjadi ombak di samodra.

Dalam Sajak pertemuan mahasiswa Rendra seolah ingin mengatakan bahwa mahasiswa adalah agen perubahan yang tidak boleh lepas dari persoalan masyarakatnya, harus jeli kepada maksud yang seolah baik, tetapi ternyata memiliki dampak-dampak sosial yang harus terus diperhatikan dan menjadi tugas mahasiswa.

“Kita ini dididik untuk memihak yang mana?” bisa jadi ada mahasiswa yang pragmatis, yang membela kepentingan yang bayar, bukan membela rakyat yang terkapar. Mari renungi kembali.

Berikutnya dalam sajak sebatang lisong, Rendra berteriak-teriak, bagaiamana pendidikan dan dalam hal ini adalah mahasiswa menjadi peranan penting dalam kemajuan sebuah peradaban. “Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan” _

tetapi pertanyaan-pertanyaanku

membentur meja kekuasaan yang macet,

dan papantulis-papantulis para pendidik

yang terlepas dari persoalan kehidupan.

 

Ada masalah masalah sakral dari pendidikan kita, bukan hanya bicara akses pendidikan, juga bicara tentang bagaimana kualitas pendidikan. Silakan baca Sajak Sebatang Lisong .

SAJAK SEBATANG LISONG

Oleh :

W.S. Rendra

Menghisap sebatang lisong

melihat Indonesia Raya,

mendengar 130 juta rakyat,

dan di langit

dua tiga cukong mengangkang,

berak di atas kepala mereka

Matahari terbit.

Fajar tiba.

Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak

tanpa pendidikan.

Aku bertanya,

tetapi pertanyaan-pertanyaanku

membentur meja kekuasaan yang macet,

dan papantulis-papantulis para pendidik

yang terlepas dari persoalan kehidupan.

Delapan juta kanak-kanak

menghadapi satu jalan panjang,

tanpa pilihan,

tanpa pepohonan,

tanpa dangau persinggahan,

tanpa ada bayangan ujungnya.

…………………

Menghisap udara

yang disemprot deodorant,

aku melihat sarjana-sarjana menganggur

berpeluh di jalan raya;

aku melihat wanita bunting

antri uang pensiun.

Dan di langit;

para tekhnokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas,

bahwa bangsa mesti dibangun;

mesti di-up-grade

disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

Gunung-gunung menjulang.

Langit pesta warna di dalam senjakala

Dan aku melihat

protes-protes yang terpendam,

terhimpit di bawah tilam.

Aku bertanya,

tetapi pertanyaanku

membentur jidat penyair-penyair salon,

yang bersajak tentang anggur dan rembulan,

sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya

dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan

termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

Bunga-bunga bangsa tahun depan

berkunang-kunang pandang matanya,

di bawah iklan berlampu neon,

Berjuta-juta harapan ibu dan bapak

menjadi gemalau suara yang kacau,

menjadi karang di bawah muka samodra.

………………

Kembali dalam Sajak Seonggok Jagung, juga berbicara tentang bagaimana pendidikan menjadi sangat penting, tetapi bukan hanya itu Rendra juga menyoroti betapa ilmu ilmu itu harus bisa bermanfaat, harus dimanfaatkan, bahkan bagaimana ketika seorang mahasiswa pulang dengan ilmu-ilmu yang dipelajari, kemudian dia merasa sepi. Silakan renungi sendiri Sajak Seonggok Jagung

Apakah gunanya pendidikan

bila hanya mendorong seseorang

menjadi layang-layang di ibukota

kikuk pulang ke daerahnya ?

Apakah gunanya seseorang

belajat filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,

atau apa saja,

bila pada akhirnya,

ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata :

“ Di sini aku merasa asing dan sepi !”

SAJAK SEONGGOK JAGUNG

WS.Rendra

Seonggok jagung di kamar

dan seorang pemuda

yang kurang sekolahan.

Memandang jagung itu,

sang pemuda melihat ladang;

ia melihat petani;

ia melihat panen;

dan suatu hari subuh,

para wanita dengan gendongan

pergi ke pasar ………..

Dan ia juga melihat

suatu pagi hari

di dekat sumur

gadis-gadis bercanda

sambil menumbuk jagung

menjadi maisena.

Sedang di dalam dapur

tungku-tungku menyala.

Di dalam udara murni

tercium kuwe jagung

Seonggok jagung di kamar

dan seorang pemuda.

Ia siap menggarap jagung

Ia melihat kemungkinan

otak dan tangan

siap bekerja

Tetapi ini :

Seonggok jagung di kamar

dan seorang pemuda tamat SLA

Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.

Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.

Ia memandang jagung itu

dan ia melihat dirinya terlunta-lunta .

Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik.

Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase.

Ia melihat saingannya naik sepeda motor.

Ia melihat nomor-nomor lotre.

Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal.

Seonggok jagung di kamar

tidak menyangkut pada akal,

tidak akan menolongnya.

Seonggok jagung di kamar

tak akan menolong seorang pemuda

yang pandangan hidupnya berasal dari buku,

dan tidak dari kehidupan.

Yang tidak terlatih dalam metode,

dan hanya penuh hafalan kesimpulan,

yang hanya terlatih sebagai pemakai,

tetapi kurang latihan bebas berkarya.

Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.

Aku bertanya :

Apakah gunanya pendidikan

bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing

di tengah kenyataan persoalannya ?

Apakah gunanya pendidikan

bila hanya mendorong seseorang

menjadi layang-layang di ibukota

kikuk pulang ke daerahnya ?

Apakah gunanya seseorang

belajat filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,

atau apa saja,

bila pada akhirnya,

ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata :

“ Di sini aku merasa asing dan sepi !”

Tim, 12 Juli 1975

Potret Pembangunan dalam Puisi

Juga bagaimana mahasiswa dalam pikiran-pikiran liar, perbuatan-perbuatan yang diluar kewajaran, demonstrasi sampai teror dilakukan, bagaimana tangan menjadi simbol perlawanan, bagaimana aktivitas kaum proletar digambarkan oleh Rendra dengan tangan. Bahkan seorang mahasiswa dengan tangannya yang juga dekat dengan pulpen, Rendra menulis

” Kini aku kantongi tanganku.

Aku berjalan mengembara.

Aku akan menulis kata-kata kotor

di meja rector”

Silakan baca sajaknya Rendra Sajak Tangan.

SAJAK TANGAN

WS Rendra

Posted on August 25, 2016

Inilah tangan seorang mahasiswa,

tingkat sarjana muda.

Tanganku. Astaga.

Tanganku menggapai,

yang terpegang anderox hostes berumbai,

Aku bego. Tanganku lunglai.

Tanganku mengetuk pintu,

tak ada jawaban.

Aku tendang pintu,

pintu terbuka.

Di balik pintu ada lagi pintu.

Dan selalu :

ada tulisan jam bicara

yang singkat batasnya.

Aku masukkan tangan-tanganku ke celana

dan aku keluar mengembara.

Aku ditelan Indonesia Raya.

Tangan di dalam kehidupan

muncul di depanku.

Tanganku aku sodorkan.

Nampak asing di antara tangan beribu.

Aku bimbang akan masa depanku.

Tangan petani yang berlumpur,

tangan nelayan yang bergaram,

aku jabat dalam tanganku.

Tangan mereka penuh pergulatan

Tangan-tangan yang menghasilkan.

Tanganku yang gamang

tidak memecahkan persoalan.

Tangan cukong,

tangan pejabat,

gemuk, luwes, dan sangat kuat.

Tanganku yang gamang dicurigai,

disikat.

Tanganku mengepal.

Ketika terbuka menjadi cakar.

Aku meraih ke arah delapan penjuru.

Di setiap meja kantor

bercokol tentara atau orang tua.

Di desa-desa

para petani hanya buruh tuan tanah.

Di pantai-pantai

para nelayan tidak punya kapal.

Perdagangan berjalan tanpa swadaya.

Politik hanya mengabdi pada cuaca…..

Tanganku mengepal.

Tetapi tembok batu didepanku.

Hidupku tanpa masa depan.

Kini aku kantongi tanganku.

Aku berjalan mengembara.

Aku akan menulis kata-kata kotor

di meja rektor

TIM, 3 Juli 1977

Potret Pembangunan dalam Puisi

Sajak-sajak Rendra tersebut menjadi upaya seorang penyair bagaimana memandang sebuah peradaban. Bagaimana sebuah sistem didalam masyarakat berjalan dan berkembang. Melalui sajak-sajaknya Rendra ingin mengajak kepada kita semua untuk bangun dan membangun. Potret pembangunan dalam puisi.

*Munawir Syahidi CEO Cahaya Aksara

News Feed