Samak Pandan Rancapinang dan Jalan yang Berkubang

Samak Pandan Rancapinang dan Jalan yang Berkubang

semburat.com- Samak pandan, atau tikar yang dibuat dari pandan yang tumbuh di pantai Airjeruk Rancapinang. Menurut Ahmad Kurtusi   Tikar tradisional ini adalah bagian dari kegiatan Badan Usaha Milik Desa,  anyaman pandan ukuran 170×70 CM ini dibuat oleh ibu-ibu yang sudah tidak kuat bekerja di sawah, maka untuk meningkatkan perekonomian mereka Bumdes Rancapinang membuat kerajinan dari pandan, termasuk membuat kaneron atau tas dari pandan dan tikar ukuran sajadah. Menurut Ahmad Kurtusi membeli produk ini berarti menolong kaum dhuafa di Rancapinang. Secara geografis Rancapinang berbatasan langsung dengan laut selatan, akses untuk mencapai desa ini tidak mudah karena jalan yang ditempuh pada musim penghujan ini sangat susah, jalan tanah yang langsung menjadi licin ketika turun hujan. Tetapi sebenarnya daerah ini memiliki potensi keindahan alam dan potensi SDA yang bisa mensejahterakan warganya jika infrastruktur utama jalan dapat dibangun.

Selain samak, di daerah ini juga ada Goa Sodong merupakan sebuah tempat persinggahan sementara bagi para pejiarah atau pun para nelayan yang beristirahat melepas rasa lelahnya.
Terletak di kawasan Taman Nasional Ujungkulon yang menghadap ke permukaan air laut pantai selatan itu yang membuat tempat ini sangat istimewa. Luas goa sekitar 10×5  persegi dan di dalamnya terdapat dua batu karang yang menurut mitos warga masyarakat sekitar pada jaman dahulu kala ada dua pasangan pengantin yang melakukan perjalanan dan bermaksud untuk beristirahat sementara. tiba-tiba ada batu di atasnya menimpa pasangan pengantin tersebut, hingga saat ini dua batu itu masih tetap ada di dalamnya dan dinamakan batu pengantin oleh warga setempat.

Jarak yang bisa kita tempuh dari kampung Cegog menuju sodong sekitar tiga jam berjalan kaki. Untuk minum dan memasak  tidak perlu hawatir di sekitar goa ini terdapat air tawar untuk minum dan memasak.

Sumber daya alam dari desa ini adalah kelapa dan pisang, cengkeh, melinjo dan lada yang cukup banyak sebagai hasil bumi Rancapinang.

Sampai sekarang, masyarakat masih menuntut perbaikan infrastruktur jalan menuju Rancapinang.(ms)