oleh

Sejarah Qurban dan Pembelajaran untuk Kita Semua

-OPINI-4 views

Hari raya Qurban, sejatinya memberikan pelajaran besar bagi kita semua, kita diajarkan berbagi, belajar ridho dan ikhlas dalam menjalankan perintah Allah, meskipun harus mengorbankan harta dan titipan Allah yang paling kita cintai, mari kita simak kisahnya.

Sejarah ini tertulis dalam Al-Qur’an surah Ash-Shaffat ayat 101-110. Dalam surat tersebut disebutkan Nabi Ibrahim yang belum dikaruniai keturunan berdoa kepada Allah untuk diberikan seorang anak yang baik dan sholeh.

Allah mengabulkan doa tersebut dan anak tersebut diberi nama Ismail, yang juga menjadi seorang nabi. Ismail menjadi anak yang baik, taat kepada orang tua dan Allah, juga seorang penyabar.

Namun, kesabaran yang dimiliki oleh Ismail dan ayahnya diuji oleh Allah. Suatu hari Ibrahim bermimpi menyembelih Ismail. Mimpi itu datang bukan hanya sekali, tetapi selama tiga malam berturut-turut. Lalu Ibrahim percaya bahwa mimpi itu merupakan pesan dari Allah.

Sebagai Nabi yang taat kepada Allah, Ibrahim berencana untuk melakukan apa yang ada di mimpinya tersebut. Namun sebelum itu, Ibrahim menanyakan pendapat Ismail tentang mimpinya tersebut.

“Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu?” tanya Ibrahim kepada anaknya. Lalu Ismail menjawab “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Ismail, anak kesayangan yang diimpikan Ibrahim, harus disembelih. Namun karena ketaatan Ibrahim atas ujian yang ia terima, Allah menggantinya dengan hewan.

Setelah keduanya memantapkan niat, akhirnya segala macam persiapan untuk mengorbankan Ismail disiapkan. Ismail dan Ibrahim yang kala itu akan melakukan proses penyembelihan meminta kekuatan kepada Allah. Hingga semua persiapan selesai dan penyembilan dimulai, ternyata Allah menurunkan firman-Nya.

Dalam firman-Nya, Allah berkata bahwa ia akan memberikan balasan kepada orang yang telah berbuat baik. Ibrahim dan Ismail yang sabar dan taat kepada Allah akhirnya diberikan balasan atas perbuatan keduanya.

Allah SWT berfirman, “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar” (QS Ash-Shaffat ayat 107).

Para ulama percaya bahwa seekor sembelihan besar yang dimaksud ketika itu adalah seekor kambing atau domba besar yang hidup di daerah timur tengah.

Akhirnya, Ismail digantikan oleh hewan kurban atas kesabaran dan ketaatkan keduanya kepada Allah. Ini juga sekaligus pelajaran untuk kita semua. Setiap Iduladha tiba, cobalah untuk mengingat kisah ini agar menjadi manusia yang sabar dan selalu taat kepada Allah, karena pada akhirnya Allah akan membalas seluruh perbuatan baik yang dilakukan.

Peristiwa tersebut juga dapat kita ambil hikmahnya dalam melaksanakan ibadah yang lain, misalnya dalam sebuah keluarga ketika anaknya hendak menuntut ilmu atau melaksanakan kebaikan dan merupakan perintah Allah maka bapaknya harus ikhlas, anaknya harus ikhlas dan ibunya juga harus ikhlas karena anak yang dicintainya harus berjuang melaksanakan perintah Allah, misalnya untuk pergi ke pondok pesantren, ibunya merasa tidak ikhlas, begitupun bapaknya, maka jika melihat peristiwa Ibrahim AS, Ismail As dan Ibunya maka segala yang merupakan perintah Allah harus saling mendukung dan menguatkan. Sehingga Allah ridho dan Allah menambah keberkahan.

*Dari Berbagai Sumber

News Feed