oleh

Setelah Itu

-CERPEN-4 views

Oleh: M Asep Rohendi

Setiap hari dia bangun subuh, dia tidak pernah meninggalkan salat lima waktu dan jika tidak ada halangan dia selelu salat berjamaah di masjid terdekat di kampungnya, dia adalah orang yang paling dikagumi oleh seluruh lapisan masyarakat dan termasuk pemerintah desa. Karena ketekunanya, kerajinanya, dan keuletanya dalam melakukan hal-hal yang bersipat positif. Dia adalah Rian seorang anak dari keturunan keluarga yang sangat sederhana namun memiliki cita-cita yang tinggi untuk membahagiakan orang tuanya. Tapi sayang saat ini Rian hanya tinggal bersama Ibunya karena ayah Rian sudah meninggal lima tahun lalu saat dia masih duduk di bangku sekolah dasar.

Saat ini Rian bersekolah di salah satu sekolah sederhana yang ada di desanya, dia bersekolah sambil membantu ibunya mencari nafkah yaitu sambil berjualan gorengan yang ibunya buat setiap pagi. Selain Rian yang berdagang ibunya juga berdagang keliling kampung karena tidak ada usaha lain selain berdagang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Subuh telah tiba terdengar alunan suara adzan dari masjid terdekat di kampunya, Rian segera bergegas bangun untuk melaksanakan kewajibanya. Rian bangun subuh dan langsung mengambil wudhu. Namun, sebelum berangkat ke masjid Rian terlebih dahulu membangunkan ibunya

“Bu bu bangun, udah subuh” Rian membangunkan ibunya pelan

“Iya nak, ibu sudah bangun kamu segera ke masjid agar nanti tidak terlambat”

“iya bu, aku pergi dulu ya,assalamualaikum” sambil bersalaman pada ibunya

“waalaikumsalam” Jawab ibu Rian

Lantas Rian berjalan menuju masjid dengan penuh senyuman manis yang terpancar dibibirnya, wajahnya amat bersinar pagi itu, tiba di masjid sudah ada kakek tua yang menunggu jamaah sholat subuh

“Assalamualikum” sapa Rian kepada kakek itu

“Waalaikumsalam, eh nak Rian” jawab sang kakek

Di Masjid hanya ada kakek dan Rian.

Waktu sudah menunjukan saatnya salat subuh

“Nak Rian sepertinya hanya kita saja yang akan melksanakan sholat berjamaah subuh ini, dari tadi kakek menunggu disini tidak ada satupun orang selain nak Rian, mari kita sholat” ajak sang kakek

“mari kek”

Setelah itu Rian bergegas berdiri dan melantunkan iqamah.

Usai sholat Rian langsung kembali ke rumah, seperti biasa Rian selalu menggunakan waktu luangnya untuk hal-hal positif pagi ini Rian membantu ibunya menggoreng bakwan yang akan dijualnya di sekolah, tidak terasa waktu hampir siang, ibu Rian segera menyuruhnya berganti pakaian

“Nak waktu sudah hampir siang, kamu ganti baju dulu gih, nanti kesiangan sekolahnya” suruh ibu

“iya bu, tapi ini masih banyak yang harus digoreng”

“biar ibu saja yang menyelesaikanya nanti kamu tinggal membawanya yah”

“baiklah bu, Rian salin dulu ya”

Selesai salin Rian menghampiri ibunya yang sedang menyiapkan daganganya

“bagaimana bu, sudah selesai ? apa ada yang harus aku bantu” tanya Rian

“ini sudah selesai ko nak, sekarang kamu sarapan dulu yah udah ibu siapkan nih” sambil menyodorkan nasi dalam piring

“iya bu, terimakasih”

“sama-sama, ibu bersih-bersih rumah dulu yah nak”

“iya bu”

Kini Rian sudah selesai sarapan saatnya untuk berangkat ke sekolah. Rian menyiapkan segala keutuhan daganganya sebelum berangkat sekolah, setelah semuanya selesai Rian langsung pamitan kepada Ibunya untuk berangkat ke sekolah

“bu aku bergangkat” terika Rian karena ibunya jauh

“iya nak, hati-hati” jawab ibunya

Rian langsung melangkahkan kakinya menuju sekolah seperti biasa dia menjijing gorengan, tidak ada kata malu baginya untuk berjualan di sekolah, karena hanya ini jalan satu-satunya mencari nafkah, banyak teman-temanya yang mengolok-olok, namun Rian tetap sabar.

Diantara teman-temanya Rian adalah salah satu siswa yang dikagumi oleh para gurunya karena dia siswa yang rajin, pemberani, juga tidak kalah pintar oleh orang-orang yang mengucilkanya. Ada beberapa teman Rian yang sangat baik padanya bisa dikatanya mereka adalah sahabat-saahabat karibnya, mereka adalah Aldo, Riki dan Yanti. Ketiga temanya ini yang selalu membantunya saat dia kesusahan, mereka selalu ada buat Rian dimanapun, mereka bersahabat dengan Rian, tak jarang mereka setiap hari membantu Rian berjualan gorengan di sekolah. Kini Rian sudah tiba di sekolah dan disambut hangat oleh Aldo yang dari tadi setia menunggunya di gerbang sekolah

“Halo Rian, lama amat nyampenya” sambut Aldo

“Iya nih, maaf yah soalnya tadi aea yang membeli gorenganki di jalan” jelas Rian

“Oh gitu, yaudah yuk masuk” ajak Aldo

Tiba-tiba terdengar suara yang memanggil mereka dari kejauhan

“Rian, Aldo tungguin”

Ternyata itu suara Yanti berteriak memanggil mereka berdua

“Eh kamu Yan, mari kita bareng” ajak Rian

“Mari” jawab Yanti

Tiba di kelas mereka langsung diserbu teman-teman Rian yang biasa membali gorengannya, karena setiap hari mereka tidak pernah pergi ke kantin. Mereka setia menjadi pelanggan Rian.

Tak jarang banyak teman-temanya yang ngambek gara-gara tidak kebagian gorenganya. Maklumlah mereka menyerbu Rian karena selain gorenganya yang enak, Rian dikagumi banyak perempuan di sekolahnya, karena Rian memiliki paras yang ganteng mengalahkan ketua osis di sekolahnya yang terkenal ganteng. Banyak siswi yang membicarakan bahwa Rian adalah si tukang gorengan ganteng begitu mereka menyebutnya.

Namun Rian tidak pernah merasa dirinya ganteng, karena dia sadar dia hanya anak tukang gorengan. Rian adalah orang yang rendah hati dia selalu membantu teman-temanya sekalipun teman-temanya itu usil padanya. Hari ini ada tugas Bahasa Indonesia banyak siswa yang tidak mengerjakan tugas tersebut hanya Rian dan teman-teman dekatnya saja yang mengerjakan. Tanpa ragu rian memberikan contekan kepada semua teman sekelasnya karena dia tidak mau teman-temanya dihukum oleh gurunya.

“Teman-teman ini tugas yang sudah aku kerjakan tadi malam, siapa yang belum mengerjakan silahkan dikerjakan dulu sebelum Bu Berta masuk”

“Wah betul sekali, aku juga belum mengerjakan, makasih yan” jawab salah satu temanya

“Iya sama-sama” jawab Rian

Banyak sekali teman-teman yang belum mngerjakan tugas itu, padahal tugasnya tidak terlalu sulit, hanya saja mereka malas untuk mengerjakan tugas. Tidak lama bu Berta masuk dan menyuruh mengumpulkan tugas, semua siswa bergegas mengeumpulkan tugasnya masing-masing.

Hari ini bu Berta membawa kabar bahwa akan ada lomba manulis artikel se-Provinsi dan bu Berta mencari perwakilan dari sekolahnya

“Anak-anak hari ini ibu membawa kabar gembira untuk kalian semua”

“Kabar gembira apa bu, ada yang ulang tahun yah bu” jawab salah satu siswa yang usil

Seretntak seluruh siswa tertawa mentertawakan siswa tersebut

“Jadi hari ini ada kabar gembira, sekolah kita akan mengikuti lomba manulis artikel tingkat provinsi, tapi ibu belum menemukan pesertanya, apa ada yang siap ikut diantara kalai” jelas bu Berta

“Rian bu” serentak seluruh siswa menjawab

“Rian, benarkah kamu siap mengikuti lomba ini” tanya bu Berta

“Bukanya tidak siap bu, tapi saya belum begitu bisa membuat artikel” jawab Rian

“Yaaah kan nati diajarin dulu Rian” salah satu siswi memotong perkataan Rian

“Iya betuk kata Selvi, nanti jika kamu siap ibu akan membimbing kamu untuk belajar membuat artikel” jelas bu Berta

“Mmhh bagaimana ya” Rian bingung

“Udah Yan ambil aja kali aja kamu juara, kamu buat ibumu dan sekolah bangga padamu” tegas Yanti

“Bagaimana Rian?” tanya bu Berta

“Baiklah bu, saya siap mengikuti lomba ini, saya akn belajar membuat artikel detik ini juga” jelas Rian

Seluruh isi kelas ribut bertepuk tangan bagaikan ada sirkus dadakan di kelas tersebut

“Baiklah, kalau begitu sekarang kamu ikut ibu ke ruangan kepala sekolah kita biacarakan segala hal yang dibutuhlan” ajak Bu Berta

“Baik bu” Rian langsung berjalan menuju ruang kepala sekolah.

Kini Rian penuh semangat belajar membuat arikel, setiap hari dia pergi ke rumah bu Berta untuk mengikuti bimbingan yang sudah dijanjikan bu Berta. Namun , walaupun dia sibuk belajar dan terus belajar dia tidak melupakan jaualn nya dia tetap setiap hari membantu ibunya berjalan gorengan.

Setiap malam Rian terlihat sibuk menulis, karena dia belum membicarakan hal ini apada ibunya, ibu tiba-tiba bertanya mengenai kegiatanya setiap malam

“Nak, ibu lihat akhir-akhir ini kamu lebih sering menulis< memangnya kamu menulis apa?” tanya ibu

“Oh iya bu, maafin Rian bu Rian baru cerita mala mini, jadi gini bu aku dipercaya oleh sekolah untuk mengikuti lomba menulis artikel se-Provinsi jadi aku harus rajinrajin belajar menulis bu” jelas Rian

“Benarkah anaku, wah kamu hebat nak ibu bangga padamu”

“Iya bu terimakasih, doakan aku yah bu semoga aku mendapatkan hasil yang memuaskan”

“Iya nak, doaku selalu menyertaimu”

Kini tiba saatnya Rian harus bejuang di Provinsi, seperti biasa di bangunpagi buta. Pagi ini semnagatnya bertambah karena akan melaksanakan lomba.

“Bu maafin Rian yah bu hari ini tidak bisa membantu ibu berjualan”

“Tidak apa-apa nak, kamu harus berjuang hari ini” jelas ibunya

“Uhuk-uhuk” ibunya batuk

“Ibu kenapa bu, ibu sakit” tanya Rian cemas

“Enggak ko nak ibu hanya batuk biasa saja, kamu temang saja kamu harus segera berangkat, ingat yah kamu harus berjuang kamu harus bisa membanggakan sekolahmu, ibu berpesan kepadamu jika nanti kamu sudah sukses kamu jangan jadi orang yang besar kepala kamu harus tetap menjadi diri sendiri, tetap rendah hati, ibu akan setia mendoakanmun sampai kamu sukses anaku” jelas ibu

“Iya bu, aku janji aku akan buktikan pada dunia bahwa aku bisa” jawab Rian

“Yasudah kamu berangkat yah, biarkan ibu hari ini yang berjualan”

“Baik bu, asalamualaikum” sambil mencium kening ibunya

Hari ini Rian berangkat menuju tempat perlombaan, namun hati Rian cemas dia gugup karena baru pertama kali mengikuti lomba, selain itu dia enath kenapa hari ini selalu ngat pada ibunya hari ini dia terlihat murung

“Kamu kenapa yan, ko murung befitu, ini kan haridimana  kamu harus berjuang, semangatlah kamu pasti bisa” tanya bu Berta

“Iya bu saya semangat insyaAllah” jawab Rian

Hari ini ibu Rian berjalan keliling kampung, diamana hari ini ibu harus menjual daganganya dua kali lebih banyak seperti biasanya, ibu terpaksa harus berjualan ke kampung sebelah diaman harus melewati hutan dan jalan raya. Hari ini cuaca sangat cerah matahari tersenyum bahagia, ibu berjalan menuju kampung sebelah sambil membawa daganganya. Tiba-tiba ibu mengingat Rian, dia membayangkan bagaimana nasib anaknya sekarang yang sedang berjuang di kota orang. Karena ibu melamun tidak terasa bahwa ibu sedanga ada dijalan raya dan tiba-tiba ada yang membawa motor agul-agulan dan entah nasib semalang apa yang harus ibu terima selain ini, tiba-tiba ibu tertabrak motor dan kini hitam puket ibu tidak sadarkan diri.

Banyak warga yang berdatangan mengampiri kejadian itu tapi apalah aday si penabrak langsung kabur melarikan diri stelah malihat ibu tak sadarkan diri. Kini ibu dirawat oleh warga setempat, namun mereka belum bisa menyedarkan ibu Rian.

Rian masih semangat menulis artikel, dia santai, sekarang pikiranya sudah rileks dia sudah fokus kepada perjuanganya, namun dia tidak pernah melupakan kata-kata dari ibunya tadi pagi di membayngkan alangkah bahagianya jika dia pulang membawa juara yang bisa dia hadiahkan untuk ibunya.

Tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu ruangan dan amsuklah bu Berta

“Permiasi pak pengawas yang terhormat, saya ada perlu dengan murid saya yang bernama Rian, dia harus pulang sekarang juga karena ibunya kecelakaan” jelas bu Berta

“Oh iya bu sialhkan”

Lalu bu Berta bejalan menuju tempat duduk Rian

“Rian sekarang kamu harus pulang” ajak bu Berta

“Loh kenapa bu, ko tiba-tiba diajak pulang”

“Nanti ibu ceritakan yah, kamu sudah selesaikan”

“Iya bi sudah, mari kalau begitu” Rian penasaran

Selama perjalanan Rian melamun karena dia aneh ada apa dengan bu Berta, karena bu Berta belum cerita yang sebenarnya tentang musibah yang menimpa ibunya. Rian hanya diam sepanjang perjalanan dia membayangkan kebahagian yang akan diberika kepada ibunya jika dia mendapatkan jauara nanti. Namun khayalan itu tiba-tiba saja rapuh saat dia tiba di rumanya, dia disambut bendera kuning yang melambai-lambai memebri kabar buruk padanya. Rian syok, dia terpuruk dia kebingungan siapa yang meninggal dibawa ke rumahnya

“bu siapa yang meninggal bu” tanya Rian pada Bu Berta dengan suara lemah

“Mohon maaf yan ibu baru memberi tau kamu sekarang kalo ibi kamu”

“Ibu kenapa bu, ibu sata kenapa” potong Rian

“Ibu kamu meninggal yan, gara-gara tadi tertabrak oleh motor yang ugal-ugalan”

Rian tidak percaya dia lari sambil menangis dai syok ketika melihat ibunya terkujur kaku ditutup oleh beberapa kain batik milik ibunya dan dikrumuni oleh beberapa temanya sambil melantunkan ayat-aat yassin, tidak terasa Rian terpuruk lemah tak berdaya sambil menangis memeluk jasad ibunya. Bayangan yang mengahntuinya hilang seketika, kini dia harus bagaimana dia hidup sendiri ditinggal oleh ibu kesayangnya

“Ibu, bangun bu, ibu harus melihat Rian sukses bu, Ria mohon” Rian menangis di pelukan jasad ibunya.

Namun apalah daya umur tiada yang tahu kapan akan diambil olehNya.

Kini Rian hidup sendiri setiap malam dia berdoa padaNya supaa ibunya dimasukan kedalam syurgaNya. Setelah tujuh hari keprgian ibunya ketika Rian sedang membereskan karpet di rumahnya tiba-tiba bu Berta mengahampirinya dan memluknya.

“Nak, kamu harus emangat yah, ibu mengucapkan selamat atas berkat doamu kamu mendapakan juara lomba menulis kemaren, ini ibu bawa pialanya untukmu, kamu semangat” jelas bu Berta sambil memebrikan piala

“Iya bu terimakasih semoga iini menjadi awal kesuksesan saya bu” jawab Rian

Setelah itu bu Berta tidak lama kembali meninggalkannya. Kini Rian sendiri di rumahnya dia melamun, merenungi nasibnya dalam hatinya dia berkkata

“Terimaksih ibu, berkat doamu aku bisa seperti sekarang ini, tropi ini aku persembahkan untuk ibu seorang, I love you bu”

Waktu berjalan menjemput setiap yang tersisa.

*Asep Rohendi Relawan Cahaya Aksara

News Feed