SUPER BADRUN

SUPER BADRUN

Oleh: Anharudin

Orang sudah  ma’lum bahwa Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang sangat ketat akan peraturan. Sehigga tidak berlebihan jika banyak sebagian orang menyebut sebagai  penjara suci. Ada juga yang bilang, model pendidikan di pesantren tidak ubahnya seperti pendidikan di kalangan militer. Bedanya kalau di kalangan militer diwajibkan berseragam rapih sebaliknya di kalangan para santri dibebaskan berseragam bebas asalkan menutup aurat, atau jika sebagian pesantren membolehkn rambutnya gondrong, dikalangan militer harus pendek. Satulagi perbedaan mencolok antara keduanya adalah di pesantren peserta didiknya  tidak di ajarkan untuk  membunuh sebaliknya para tentara di ajarkan untuk membunuh secara cepat.

Yang anehnya peaturan-praturan seperti itu tidak membuat orang disiplin khusunya bagi kaum santri di pesantren, sebaliknya terkadang orang tergoda untuk melanggarnya baik di pesantren maupun di kaalngan militer, mungkin karena watak dasar manusia yang cenderung mencari kebebasan, keadaan seperti itu juga berlaku bagi Wahid dan kawan-kawannya di pesantren. Di mata teman-temannya seperti Agus, Salim,Wahid, Soleh dan teman-teman santri yang lain.

Badrun adalah seorang santri yang pintar, konyol, so, bahkan lucu. Dimata guru-gurunnya juga seperti Pak Ahmad, Pak Burhan, Pak Hajar, Pak Irwan, dan guru lainnya yang ada di pondok.

Di sebuah sudut kantin nampak terlihat Nano Upo dan Salim sedang membicaraka sesuatu yang penting, sambil mengurumuni secangkir kopi panas, dan sesekali mereka menyeruput kopi dan sesekali juga mereka bergantian mengusap-ngusakan kopi panas itu ke kulit mereka yang gatal,

“Lim obat gatal kamu masih ada gak?” Kata Salim

“Mmm,udah abis. Jawab Nano Upo

“Oh iya kamu beli di toko mana sih lim?,aku nanyain di toko pak Hambali tapi gak ada”

“Aku belinya di indomart minggu yang lalu sama Pak Hajar”. Kata Nano Upo

“Oh seperti itu” Sambil menggaruk kulitnya yang gatal.

Tak lama kemudian Badrun datang menghampiri mereka nampak membawa sebuah kantung plastik hitam di bawanya.

“Waduh iki pie toh? Ngegitar aja”. Kata Badrun

“Drun apa iti yang antum bawa?,” Kata Nano Upo

“Iya Drun, buka dong antum jangan bikin kita penasaran?.” Kata Salim, kemudianBadrunpun membuka pelastik yang di bawanya itu”Ini obat gatal”

“Waaah…manjur gak Drun?” Kata Salim

“Manjur doooong” Jawab Badrun, bibirnya sambil monyong ke arah mereka. Badrunpun memberikan sedikit obat gatalnya kepada mereka, Salim dan Nana Upo nampak bahagia di beri obat gatal oleh Badrun walau hanya beberapa oles, ma’lum penyakit gatal ini sudah membudaya bagi orang-orang yang mondok, hampir disemua pesantren penyakit gatal ini ada.

Setelah selesai ngaji ba’da ashar, Badrun sedang duduk nyantai di depan pintu kobongnya sambil menghapalkan talaran kitabnya, termasuk tangannya yang sedang asik menggaruk kulitnya yang gatal. Sore itu Pak Ahmad tak sengaja lewat depan kobong Badrun, di dapatinya Badrun sedang duduk,

“Eh, lagi nyantai kang Badrun?”. Tanya Pak Ahmad

“Iya pak, Pak Ahmad dari mana?,Tumben keliling kobong sore-sore begini?”. Celoteh Badrun

“Saya dari kobong kang Soleh, oh iya, nanti semua santri habis salat magrib kumpul di depan masjid” Kata Pak Ahmad

“Emangnya ada apa pak?”. Badrun penasaran

“Kita diundang acara haul ulama”. Kata Pak Ahmad, kemudian Pak Ahmad pamit, Badrun nampak senang dengan ajakan Pak Ahmad. Rasanya magrib terasa begitu lama. Magrib telah lewat.

Setibanya di tempat haul ulama Badru, Nana upo, Agus, Salim dan Pak Hajar nampak duduk bersama di teras masjid bagian depan, didapatinya seorang gadis cantik yang duduk di sisi teras masjid, di antara ibu-ibu yang juga duduk di teras masjid tersebut.

“Gus-gus,tuh liat” Kata Badrun sambil jarinya menunjuk ke arah wanita cantik itu.

“Mana Drun, oh yang itu”. Badrun terus saja memandangi gadis itu, sesekali tersenyum kepadanya, ma’lum di tempat ia mondok tidak ada kaum wanitanya. Badrun pun memberanikan diri untuk menghampirinya,dan duduk berdamingan dengan gadis tersebut.

“Dru-dru bangun”. Kata Pak Hajar, Badrun serentak terkejut

“Iya pak iya” Badrun kaget sambil mengusap-ngusap matanya yang ngantuk

“Jangan tidur dengerintuh yang ceramah”, Kata Pak Hajar. Serentak Agus, Nana Upo, Kang Soleh dan orang-orang yang ada di hadapan Badrun menertawakannya. Ternyata Badrun hanya mimpi.

Waktu menunjukan pukul empat pagi, menandakan para santri untuk bangun dan mengambil wudhu dan tadarus di mushola sembari menunggu adzan subuh tiba. Setelah beres melaksanakan sholat subuh Badru bergegas menuju kelas untuk mengaji, dari kejauhan Agus terlihat berlari-lariaan mengejar mengejar Badrun. Di hadapannya Agus,

“Hahahah, kamu semalam kenapa Drun?”.Kata Agus,

“Seharusnya kamu bangunin saya Gus, eh ini malah Pak Hajar saya kan jadi malu” Protes Bandrun, muka Badrun kelihatan malu, kemudian merekapun masuk kekelas.

Pak Amir masuk ke kelas. Di kelas Pak Amir menerangkan tentang kaidah fikih dalam kitab, tentang diharamkannya memakan bangkai. Setelah menyoret kitab kemudian menerangkan surahannya, Pak Amir pun mengalihkan pandangannya memilih para santri untuk membaca kitabnya. Dan di dapatinya Badrun sedang ngantuk.

“Drun,Badrun!, coba smpean ulangi apa yang tadi saya katakana” Perintah Pak Amir dengan suara keras. Badrun tiba-tiba terbangun, sikutnya sesekali menyeret-nyeret Nana Upo yang duduk di sebelahnya

“Kamu disuruh mengulangi surahan kitab tenang keharaman, ngapain nyikut-nyikut saya”. Kata Nana Upo kesal

“Mmm..Ikuallharromu minnallharam”ujar Badrun hati-hati. Akhirnya membuat seluruh isi kelas tertawa.

“Badrun-Badrun,temen-temenmu konsentrasi sampean malah ngantuk,besok-besok jangan gini lagi, kalau emang sampean gak bisa jawab jangan dipaksain kan jadi ngelantur,Udah-udah kita akhiri saja pertemuan pagi ini dengan sama-sama membaca allhamdulillah Pak amir mengakhiri pertemuannya dengan kesal.

Setelah beres sorogan pagi, Badrun dan kawan-kawan sedang asik mengobrol dengan pak Suhardi di kantin, kemudian datanglah lurah kobong, Kang Ali.

“Drun, ikut saya”. Ajak Kang Ali

“Kemana kang”. Tanya Badrun

“Udaaah….yang penting sampean ngikut saya!” Jawab Kang Ali, Karna lurah yang mengajak, Badrun manut saja. Di jalan Badrun merasa penasaran, karena tak biasanya lurah Kobong mengajaknya jalan-jalan setengah memaksa. Akhirnya Badrun pun memberanikan diri untuk bertanya.

“Kita udah limaratus meter berjalan, kalau boleh tau kita ini mau kemana kang?”. Tanya Badrun

“Drun..Drun..sampean kepo bingit toh, kalau dalam salat saya imam kamu ma’mum, ma’mum itu manut sama imam. Imam sujud ya ma’mu juga sujud, hhuaya’abqo pengikut harus ngikut”, Jelas Kang Ali sedikit berceramah.

Keduanya masuk ke sebuah warung burjo (bubur kacang ijo). Sebuah warung yang tidak hanya menyediakan burjo, tetapi juga makanan cepat saji lainnya, mie rebus, mie goreng, gorengan dan aneka jajanan lainnya seperti minuman dingin atau panas.

“Saya pesan mie goreng pake telor. Minumnya susu dicampur kukubima dan air soda, di aduk pake lemon. Kata kang Ali.

“Badrun sampean mau pesan apa,tinnggal bilang?” Kang Ali menawarkan kepada Badrun.

“Mas, saya pesan sama seperti Kang Ali”. Setelah keduanya selesai makan, keduanya bergegas pulang ke pondok. Badrun kelihatan senang tidak biasanya dibayarin makan oleh lurah kobong, Badrun tak menyangka kang Ali mau membayarkan makan. Sebaliknya muka Ali kelihatan masam.

“Sampean ko tadi ngikut-ngikut saya sih Drun,saya pesan itu,eh kamu juga pesan itu” Kata Kang Ali.

“Lo, gimana toh sampean ini katanya hhuaya’abqo. Harus manut dan ngikutin aja, Yaa…saya manut aja.Wong kata Kang Ali tadi bilang begitu?!” Jawab Badru merasa puas. Mungkin Kang Ali merasa menyesal menggunakan dalil segala.

Hari  jum’at adalah hari libur nasional bagi kaum santri. Hari itu digunakan untuk melepas kepenatan setelah seminggu lebih mengaji kitab-kitab khususnya kitab kuning. Ada santri yang main bola, mancing, nonton bioskop dan lain-lain. Hiburan yang terakhir disebut hiburan paling sedikit peminatnya. Disamping harus keluar banyak modal juga karena akan dianggap  jelek bagi seorang santri, Badru dan Wahid adalah salah seorang santri yang pernah menghibur diri dengan nonton di bioskop, waktu menunjukan pukul. Badrun dan Wahid nampak berpakaian rapih sontak menimbulkan pertanyaan bagi yang melihatnya.

“Eh kang Badrun rapih bener sama Wahid mau kemana?”. Kata Pak Amir

“Anu pak, mau nyari hiburan sebentar sama Wahid ke pasar” Jawab Badrun

“Biasa pak reflesing, santri jugakan butuh hiburan” Wahid menambahkan

“Iya saya ngerti, tapi nanti pulangnya asal tepat waktu”. Merekapun pergi menuju tempat tujuan. Setengah perjalanan Badrun bertanya kepada Wahid

“Hid, nanti salat jum’at kita ganti aja dengan sholat zuhur” Kata Badrun

“Looo ,sampean bagaimana sih Drun, kitakan mau maksiat!” Protes Wahid kepada Badrun

“Hid-Wahid, siapa bilang kita mau maksiat kitakan niatnya cari hiburan, lagian hiburan itukan disunahkan karena itu kebutuhan jiwa, nabikan pernah berkata jalan-jalanlah kalian,maka kalian akan sehatSeperti menceramahi Wahid.

“Engge-engge, onoloh opo jaremu aku sing manut wae, iya-iya terserah apa katamu aku nurut aja” Wahid menjawab kesal dan kelihatan muram karena Badrun sedikit berceramah kepadanya.

Hutang piutang bukanlah kebiasaan di dunia perbisnisan saja, di pesantren kebiasaan itu juga berlaku. Setiap santri, siapapun dia, pasti pernah melakukan teransaksi itu. Entah ngutang ataupun dihutangi. Kebiasaan itu berlaku bagi Badrun yang memang perekonomiannya di pondok pas-pasan, sebetulnya setiap hari ia berdoa agar terhindar dari hutang. Pada suatu hari diakhir bulan, Badrun, nampak sedang memikirkan sesuatu, di hampirinya oleh Agus,

“Dru wey,ngapain sedirin aja?.” Tanya Agus

“Eh sampean to Gus,ngaget-ngagetin aja?.” Jawab Badrun terperangah

“Mikirin apa sih kamu Drun kelihtannya serius banget?” Sekali lagi Agus bertanya,

“Gini Gus, perbekalaaku udah habis,kalau ngutang mau ngutang sama siapa lagi, kakakku baru bisa ngirim wesel seminggu lagi. Ujar

“Sabar Drun, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Agus sambil memberi dalil pada Badrun

“Hujan lebat-lebat si kambing biri-biri hujan kabineka di darat sedih hati”. Mungkin itulah kata yang pantas diutarakan kepada Badru yang sedang sedih hati, akibat banyaknya masalah yang ia derita dari mulai banyak hutang dan masalah yang lainnya. Badrun duapuluh satu  tahun adalah tipe santri yang rutin mengikuti jadwal ngaji yang begitu padat. Di kelas ia adalah ketua kelas dan Muhamad adalah wakilnya.Tak hanya pintar berbicara, ia juga pintar  menyurah kitab, Pak Hajar pun masuk ke kelas Badrun. Selesai mengucap salam belajar akan segera dimulai.

“Badrun,Agus,Nana Upo,Wahid, Amin dan Sueb, berdasarkan laporan para santri yang lain, kalian  semua sudah beberapakali mengosob sandal, apakah benar demikian?” Kata Pak Hajar “Iya Pak” Mereka menjawab serentak

“Berdasarkan peraturan kalian semua terkena KUHP( kasus urusan hak pesantren)”. Pak Hajar memberikan pernyataan

“Nanti dulu pak, lagian ngosob itukan sudah hal lumrah di pesantren”. Kata Nano Upo

“Rasanya terlalu berlebihan kalu kami terkena hukuman akibat ngosob sandal” Sueb sedikit protes

“Tetapi kebiasaan di sini itu telah menjadi kebiasaan yang lain, yaitu peraturan tentang minjam meminjam tanpa seijin pemilik barang, maka akan di kenakan sanksi yang tertera dalam Pasal 12 Huruf N yang berbunyi barang siapa yang memakai barang tanpa seijin pemilk ,maka perilaku tersebut di namakan pengosoban, dengan hukumannya adalah menyapu halaman musola selama dua hari berturut-turut”.Semuanya nampak heran dengan apa yang dikatakan pak Hajar.

Pagi-pagi sekali setelah beres ngaji subuh Badrun, Sueb, Nano Upo,Wahid dan yang lainnya sudah berada di depan musola sambil memegang alat kebersihan, datanglah lurah kobong

“Wah, gitu dong rajin, dilhatnya kan enak” Kata lurah kobong

“Iya doooooong” Jawab Badrun sambil monyong bibirnya ke arah lurah kobong.

Waktu menjelang sore. Setelah rutinitas yang butuh tenaga ekstra setelah tadi pagi bersih-bersihn musola.

“Kang Qodri tumben sore-sore gini ke kamar saya, nungguin atau Cuma iseng?” Kata Badrun yang memang sudah salat ashar.

“Enggak ada apa-apa Drun” Jawab Kang Qodri mengelak.

”Eh ngomong-ngomong,mmm…Drun makan yuk ke kantin” Lanjut Kang Qodri “Cocok,berangkat”. Kata Badrun. Usut punya usut ternyata Qodri hanya minta di antar Badrun. Bukan untuk di bayarin makan.

Sesampainya di kantin Badrun dan Qodri berpapasan kepada Hendri, Busro, Said, Topik dan Agus.

“Ayo main bola”  Ujar Busro

“Ok…tapi saya mau mangan dulu, wis mangan ora  sampean?”, Tanya Badrun kepada Bosro yang sudah makan terlebih dahulu. Setelah mereka makan Badrun Busro dan santri yang lainnya bermain bola bersama walaupun diguyur hujan, mereka kelihatan gembira, karena gembira itu sederhana.

Suatu Hari ada seorang tetengga Badrun tidak jauh dari tempat ia mondok, Badrun diminta datang kerumahnya untuk memimpin selamatan sepeda motor yang dibeli tadi pagi, lantaran pada waktu yang sama ia juga harus datang ke rumah Pak Budi, kebetulan pada waktu itu Abi sedang ada acara di luar daerah dengan pengasuh  pondok yang lainnya, dan mengaji sementara libur, para santri bisa melaksanakan aktfitas yang lain, termasuk memimpin doa di rumah warga. Kemudian Badrun memilih Pak Toha, karena pak Toha lah yang menghubunginya lebih dulu, daripada Pak Budi yang terakhir mengabarinya.

“Wah Drun, rugi kamu menolak undangan Pak Budi. Dia itu orang kaya lo,” Kata Wahid.

“Pak Toha udah kolling saya duluan. Dan saya udah terlanjur janji akan datang memenuhi undanagannya,” Jawab Badrun tenang.

“Pak Toha? Yaah, paling-paling kamu dapat rokok sebungkus.coba kalau sampean datang ke tempatnya Pak Budi, dia tidak hanya rokok sebungkus tapi makanan lengkap dengan kue-kue enak dan biasa ada amplopnya loh Drun,” Kata Wahid membandingkan.

Wahid sampean harus ngerti dong, ini bukan masalah rokok sebungkus. Melainkan masalah ketertiban bermuamallah, dalam kitab Ta’lim kan dijelaskan sesuatu yang sudah dijadikan dalam perkara perjanjian tidak boleh diubah lagi, toh pak Budi juga ngerti” kata Badrun, merekapun pergi ke rumah Pak Toha.

Kungkurunguk, suara ayam berkokok tanda memulai aktivitas. Tak terkecuali Badrun yang sedang beres-beres merapihkan separuh pakaiannya ke dalam ransel kecil. Ternyata ia akan ijin pulang terlebih dahulu. Santri yang baik adalah santri yan jarang pulang, kalau bisa seorang santri harus bisa berada di pondok meski hari libur. Ungkapan seperti itu tidak berlaku bagi Badrun.

”Saya pulang karena saya cinta pondok. Sesekali saya menyempatkan utuk pulang, silaturahmi dengan orang-orang yang saya rindukan. Dan saya akan pulang lagi ke pondok pada waktunya  karena saya cinta pondok”

Badrun meeemui Pak Kiai pondok untuk meminta ijin.

“Assalammualaikum”. Ucap Badrun,

“Waalaikumsallam. Eh Badrun, sini masuk.” Kata Abi menjawab salam Badrun.

“Ono opo, Drun?” Tanya Pak Kiai

“Kepareng matur. Sepindah, silaturrahim, kaping kulo bade nyuwun petimbangan Abi, kaping kepungkur sakowe pamit”. Kata Badrun. Abi pun member ijin pulang pada Badrun. Badrunpulang, di antar lurah kobong dan Wahid ke jalan raya. Setibanya di kampung halamannya Badrun langsung berkunjung kepada saudara-saudara lamanya khususnya berjiarah ke makam kedua orang tuanya.

Di dapatinya Badrun sedang duduk di depan teras rumah kakanya, tiba-tiba Ilham teman lamanya datang,

“Assalamualaikum” Ucap Ilham

“Waalaikumsallam, eh sampean Ham, silahkan masuk, ada apa ni?, mau ketemu Bapa?” Ucap Badrun

“Endak-Endak, saya ke sini mau ketemu kamu, begini Drun dalam rangka pemilihan RW saya berpartisipasi, saya mencalonkan diri menjadi ketua RW pada pemilihan kali ini, Saya minta kamu jadi timsuskses saya. Saya milih kamu karena kamu pintar ceramah,hafal dalil-dalil. Jangan khawatir Dru ada…Ehmmmm…nya. Nanti seandainya saya jadi ketua RW, saya ksih sarung BHS,” Rayu Ilham kepada Badrun.

“Waduhh,,,,saya di sini enggak lam Ham, saya harus balik lagi ke pondok” dalam hatinya berkata Penyogok yang disogok masuk neraka.

“Maaf Ham,saya enda bisa jamin, tapi kamu jangan khawatir sebagai sahabat pasti saya do’ain  sampean!” Lanjut Badrun

“Tapi jangun lupa milih saya ya,kalau ikut milih!” Kata ilham sambil pamit.

Sebaik-baiknya orang adalah orang yang bermanfaat untuk masyarakat. Sebaik-baiknya ilmu juga berguna bagi masyarakat. Di suatu ketika Badrun sudah beres berdzikir, ia langsung mengajar ngaji anak-anak, ia sangat senag karena masih ada anak yang mengaji,di tengah jaman yang semakin parah. Setelah beres mengajari anak-anak mengaji ia pergi ke rumah Ustad Hasyim tokoh masyarakat, guru ngajinya dulu, karena ia besoknya pergi lagi ke pondok untu kmengaji.

“Assalamualaikum” Ucap Badrun

“Waalaikumsallam, eh Badrun” Kata Pak Ustadz Hasyim.

“Gimana ngajinya disana lancar” Tanya Pak Ustadz

“Alhamdulillah lancar!”. Badrunpu nampak mendapat nasehat dari ustad Hasyim. Sesekali Badrun meneteskan air mata.

“Kamu yang akan meneruskan tongkat estapet di kampung kita ini, jangan tinggalkan ngaji, sholat, jadilah orang yang ketiadaannya di cari, kehadirannya dinanti, kepergiaanya dirindui, kematiannya ditangisi.”  Badrun semakin sedih dan menangis dinasehati.

Besoknya Badrun dan Ustad Hasyim pergi ke makam orang tuanya Badrun untuk ziarah, sebelum berangkat. Badrun untuk kali ini benar-benar sedih di makam kedua orang tuanya. Setelah itu keduanya pun pergi. Akhirnya Badrun pun mendapat motivasi untuk lebih git lagi belajar. Karena tidak ada hal hebat yang tercipta dalam waktu sekejap, semua hal harus di perjuangkan. Tidak ada sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba tanpa perjuangan. Jika gagal berusahalah dan berjuanglah sampai kamu benar-benar bisa meraih apa yang kamu inginkan. Kata Badrun di dalam hatinya.

*Anharudin adalah santri yang sekarang leboh senang jalan-jalan, berpetualang bahkan hanya sekedar untuk menikmati alam dari ketinggian gunung.