Mencari Sesuap Nasi Dengan Berdagang Nasi

blog, EKONOMI, EXPLORE25 views


YOGYAKARTA – Yogyakarta memiliki banyak julukan, diantaranya yaitu “Kota Pelajar” dan “Kota Istimewa”. Namun nampaknya, kota yang dipimpin oleh Sultan Hamengkubuwana sebagai gubernur dan Sultan Pakuningratan selaku wakilnya ini, juga pantas diberi julukan lain. Julukan itu adalah “Kota Angkringan”, terlihat dari banyaknya angkringan yang tersebar di setiap sudut kota ini. Salah satunya adalah milik Ibu Lala, seorang wanita paruh baya yang turut berjualan di barat SMP Islam Terpadu Masjid Syuhada.

Seperti angkringan pada umumnya, Ibu Lala menyediakan nasi kucing berbagai varian dan minuman sachet yang dipampangkan di meja depan. Untuk tambahan, beliau juga menambah variasi berupa jagung bakar, aneka sate, dan olahan mie instan.

“Di sini juga ada nasi goreng, pizza mie, sama pisang bakar. Mau roti? Ada juga. Pokoknya komplit, apa aja ada lah mbak di sini,” celetuk Bu Lala di kala menyiapkan nasi bakar dan minuman untuk pelanggan, Senin (1/30).

Lokasinya berjualan dekat pula dengan Sekolah Islam Terpadu Masjid Syuhada, namun wanita paruh baya ini memilih untuk membuka usahanya di sore hingga malam hari, yang mana kemungkinan jika beliau berjualan sejak pagi, bisa saja jualannya akan lebih laris.

Ketika ditanya terkait hal ini, Ibu Lala menjawab sambil tertawa kecil. “Iya soalnya saya mengajukan izinnya sore, jadi jualannya sore. Belum bisa kalau buat jualan pagi. Nggak apa-apa toh kalo sore juga tetep rame. Pembelinya juga macem-macem, nggak cuma anak sekolah sama yang kuliah aja.”

Harga yang ditawarkan oleh Bu Lala di angkringannya sangat ramah di kantong pelajar. Nasi kucing dijualnya seharga Rp3.000 per bungkus, dan sate-satean dipatok di harga Rp4.000 per tusuk. Sementara untuk menu minumannya dimulai dari Rp3.000. Paling mahal di sini susu, Rp8.000 aja.

“Di sini buat nasi sama minumannya mulai tiga ribuan mbak. Kalo sate-satean semua empat ribu per tusuk. Itu di depan juga ada jagung bakar, delapan ribu aja satunya. Minumnya ya biasa, ada teh jeruk sama sasetan ini. Yang beli tinggal pilih, nanti saya bikinkan.”

Beliau cukup ramah dan cekatan dalam melayani pelanggan. Bahkan beliau masih mau diajak mengobrol ketika sibuk menyiapkan bebakaran para pembeli. Di Yogyakarta, kota yang terkenal akan keramahan penduduknya ini, sikap Ibu Lala adalah nilai plus yang membuat tempatnya berjualan dilarisi oleh banyak orang.

Beliau sendiri sudah berjualan sejak tahun 2009. Sebelumnya lapak yang dipakainya sekarang merupakan milik sang kakak, namun diwariskan kepada beliau tiga tahun setelahnya. Dengan jam buka mulai pukul tiga sore hingga tiga pagi, beliau bisa membawa pulang kisaran lima ratus ribu hingga dua juta setiap harinya.

Namun ada kalanya dalam berjualan beliau memiliki rintangannya sendiri. Seperti di akhir Januari lalu yang dilanda hujan lebat dengan frekuensi cukup sering. Jangan lupakan juga pandemi virus Wuhan di tahun 2020 hingga 2022 awal yang melanda seluruh dunia dan nyaris melumpuhkan berbagai sektor.

“Ya kalo jualan ada pasang surutnya nggih mbak, kita sama-sama tahu. Kadang kalo hujan kan jadinya sepi, bawanya paling cuma lima ratusan (ribu), tapi kalo habis bisa sampe dua (juta) an” lanjutnya.

Namun terkait COVID, beliau menuturkan bahwa COVID memiliki keuntungan baginya dan pedagang lain di kanan kirinya. “Jaman COVID tu kan di mana-mana tutup mbak. Terus orang-orang akhirnya pada nemu sini, jadi rame deh”.

Untungnya tak ada hambatan lain yang terlalu mengganggu Bu Lala dalam berjualan, bahkan nampaknya beliau cukup aman-aman saja dalam berjualan meskipun klitih sedang marak-maraknya beberapa waktu ini. “Alhamdulillah mbak, klitihnya nggak sampe sini. Soalnya di sini kalo malem tetep rame, apalagi di tengah kota kan jadi klitihnya nggak masuk. Kan mereka cuma ngincer tempat yang sepi aja” tutupnya.