Menghitung Detik Demi Kamu #7

Menghitung Detik Demi Kamu #7

Ini bagian ke 7 dalam cerita yang ditulis oleh Munawir Syahidi, yang belum baca bagian sebelumnya Klik Bagian Enam 

Butiran keringat yang menetes di dahi Iqbal seperti mutiara yang berkilau, tersorot lampu yang bercahaya yang baru saja di pasangnya. Nampaknya matahari akan benar-benar beralih menyinari belahan bumi yang lain. Aku manatap Iqbal dari jarak yang sangat dekat, aku sejenak meninggalkannya menuju kamar dan aku bukakan lemari untuk mengambil anduk, dan segera aku hampiri Iqbal yang sudah mengetahui kedatanganku dengan sambutan senyum.

“Pak ini anduknya segera mandi, sabun cair ada di dalam kamar mandi, sikat gigi baru silahkan pakai” aku menyampaikan sesuatu yang sekiranya akan membahagiakannya, tawaran yang diterima dengan senyuman itu terasa sangat bahagia sekali didalam fikiranku. Aku sendiri akan segera mandi di kamar mandi yang ada di kamar.

Ada perasaan bahagia yang luar biasa dapat bersama satu rumah dengan Iqbal, lelaki luarbiasa yang kini sedang mandi di rumah yang sama denganku.

Aku menikmati air yang terasa segar karena telah beraktivitas yang berkeringat,  mandi yang aku isi dengan teriak-teriak di kamar mandi menyanyikan lagu-lagu cinta, aku sedang kasmaran, aku sedang membayangkan lelaki yang sekarang sedang mandi.

Segera aku berpakaian rapi, mengenakan mukena dan keluar kamar, tidak lupa aku sediakan sarung dan pakaian koko yang ingin aku berikan  kepada bapak kos.

Iqbal sudah selesai mandi, dia nampak kebingungan karena hanya mengenakan anduk melihat aku keluar kamar dia segera lari ke kamar mandi, tapi aduhay aku terlanjur melihat tubuhnya yang semoga segera dapat aku lupakan.

Aku antarkan sarung dan baju koko ke kamar mandi, tangannya menjulur keluar menerima yang aku berikan, aku menyiapkan dua sajadah.

Perasaanku diliputi dengan kebahagiaan, sangat bahagia, aku seolah sedang menjadi pengantin baru, malam ini malam pertama aku menikmati rumah ini, menikmati salat berjamaah dengan lelaki yang bukan muhrim ini.

Iqbal nampak terlihat sangat tampan dengan stelan sarung dan koko putih itu. Iqbal menyuruh aku untuk salat sendirian di kamar, dan aku mengikuti perintahnya, tanpa meminta alasan. Setelah itu aku dan Iqbal melaksanakan salat sendiri-sendiri.

Dengan menggunakan gaway nya Iqbal terdengar melantunkan ayat suci Al-quran.

Aku segera keluar kamar, dan Iqbal segera mengakhiri tadarusnya.

“Pak, mau makan di mana?” tanyaku dengan ragu.

“Kayaknya ada yang mau traktir  nih” Canda Iqbal dengan serius,

“Siap Pak malam ini mentraktir yang sudah bantuin pindahan”

“Ok deh, ayo kita cari makan di tempat yang dekat dengan komplek ini, mungkin ada yang di dalam komplek”

“Sip, itung-itung mengetahui situasi komplek ini”

Gerimis masih turun,  dari balik kaca jendela yang terbuka itu terlihat buliran air hujan yang terlihat berkilau karena diterangi cahaya lampu jalan di komplek. Aku dengan seluruh perasaanku menjadi hanyut dan melebur diri pada situasi yang sangat membahagiakan hatiku ini.

Segera aku berdandan sebentar, Iqbal memakai celananya, dan kaos yang dia ambl dari mobilnya. Iqbal telah keluar terlebih dahulu, dia menunggu di teras rumah kemudian aku keluar dan mengunci pintu rumah, Iqbal lari membuka pintu sebelah kiri mempersilahkan aku untuk masuk, layaknya sopir kepada tannya, aku tatap Iqbal dengan penuh dengan keheranan karena telah membukakan pintu untuku, tapi dia hanya tersenyum semanis-masisnya yang membuat seluruh kesadaranku menjadi seperti coklat limer dan akhirnya menjadi sebait senyum yang aku persembahkan untuknya, Iqbal atasanku di kantor.

Iqbal sudah duduk di depan kemudi, aku berada disampingnya, dia mengambil tisu untuk mengelap wajahnya yang tampak basah terkena percikan air hujan, mobil terdengar menyala dan pada saat itulah perasaan yang aku tidak mau menyebutnya cinta itu juga menyala-nyala, aku curi pandang wajah Iqbal melalui kaca yang terpasang itu.

Tiba-tiba aku melihat bibir Iqbal bergetar dan terdengan sapaan hangat dari bibirnya itu,

“Icha ?” sapanya lembut

“Iya pak, ada apa?”

“Bolehkah meminta sesuatu?” tanya Iqbal dengan serius

“Boleh Pak, apa yang akan bapak minta?”  tanyaku serius dan penuh pertanyaan, atau ini pertanyaan biasa yang ditanyakan lelaki yang dulu ingin mencicipi sebagian dari tubuhku yang hina ini.

“Ingin meminta, Icha tidak memanggil saya dengan bapak, tapi di panggil Iqbal saja, atau dipanggil Aa Iqbal juga boleh, heheh. Iqbal waktu itu dengan bercanda walaupun terdengarnya sangatlah serius dan mampu menggedor-gedor dinding hati.

Wajahku menjadi pias, aku menjadi diam seribu bahasa, aku menjadi bahagia sebahagia-bahagianya, yang membuat lidahku kelu.

“Mengapa Icha harus memanggil bapak dengan nama? Bapak kan atasan Icha?” tanyaku sebagai basa-basi.

“Sini geh, telinganya Cha” ucap Iqbal serius yang membuat aku terhipnotis untuk mendekatkan telingaku kepadanya

“Karena sepertinya ada perasaan yang membuat saya bahagia jika terus dekat sama Icha, ini seperti yang namanya cinta, bolehkah jatuh cinta?”

Gerimis hujan yang jatuh menimpa kaca mobil, memberikan kehangatan yang sampai pada ruangan terdalam dalam hati yang dingin bertahun-tahun yang lalu. Setelahnya tubuh dan bibirku menjadi hangat. Hujan yang menciptakan kehangatan yang lain.

Lampu mobil yang sesekali menyorot kaca mobil dan gerimis yang seolah menjadi bunga-bunga itu telah menciptakan senyum abadi didalam hatiku.

Mobil melaju kembali, menuju rumah makan yang lebih jauh, malam itu rasanya lapar telah hilang sebelum makan, rasanya menatap wajah Iqbal telah mampu membunuh lapar, obrolan yang hangat dan santai malam itu benar-benar telah membuat aku bahagia.

Tuhan malam itu, hadir dalam pikiranku, melalui rintik hujan yang turun yang menciptakan kehangatan dalam hati dan pikiran kami berdua. Kami menjadi mahluk Tuhan yang diliputi kehangatan malam itu, bintang tidak menjadi indah malam itu karena rintik hujan adalah keindahan yang lain.

Setelah menikmati malam, dan detik waktu yang terus bergeser menuju tengah malam itu telah membuat hatiku berbunga-bunga mungkin sampai besok, entahlah. Biarkan detik waktu yang mengurai gerimis malam itu.

 

Bersambung

 

Munawir Syahidi adalah penulis novel di Susut Senja