Menghitung Detik Demi Kamu #6

Menghitung Detik Demi Kamu #6

Cerita ini adalah cerita bersambung yang ditulis oleh Munawir Syahidi, ini adalah bagian ke enam, untuk yang belum membaca cerita di awalnya silahkan klik di bawah ini.

Bagian Pertama

Bagian Kedua

Bagian Ketiga

Bagian Keempat

Bagian Kelima

Bagian Keenam dari cerita bersambung ini silahkan baca:

Hari itu hatiku yang gersang mulai berbunga-bunga.

Setelah itu mataku sering bertatapan dengan Iqbal lelaki yang sering menggetarkan dinding hatiku, aku menjadi bahagia setiap kali dapat menatap  wajahnya.

Di kantor menjadi tempat yang sangat membahagiakan, tempat yang dirindukan karena selalu dapat bertemu dengan Iqbal, kami menjadi lebih dekat. Waktu berjalan seperti sebuah simponi yang menuntun aku oada sebuah irama yang setiap detiknya adalah senyuman.

Aku sudah mengambil perumahan, sudah tidak di kontrakan lagi, aku bahagia dengan segala yang aku alami, bahkan yang paling membahagiakan adalah ketika pindahan Iqbal menjadi orang yang paling sibuk. Iqbal nampak berkeringat, bugar dan berenergi.

Rumah dengan dua kamar tidur itu, sangat cukup untuk aku yang masih sendiri, lokasi yang tidak terlalu jauh dari kantor membuat aku benar-benar nyaman. Aku seolah memiliki harapan baru dengan rumah yang baru.

Sabtu sore itu ada yang mengetuk pintu kontrakanku, aku jadi ingat kebiasaan yang dulu ketika aku dijemput laki-laki untuk berkencan. Kebisaan dan pekerjaan yang sekarang sangat menakutkan jika aku ingat.

Tapi yang sekarang mengetuk pintu itu dengan ucapan salam yang merdu, yang suaranya jelas sangat aku ingat, suara yang aku rindukan, suara yang tanpa tekanan, halus dan selalu terngiang dalam pikiran. Suara Iqbal sore itu seolah menjadi pelebur keheningan doa yang belum aku selesai lapalkan setelah asar itu. Dengan masih menggunakan  mukena aku bukakan pintu kontrakanku, aku ucapkan balasan salam dengan serangkai senyuman yang  andai saja bibirku adalah sebuah pohon maka senyuman itu pasti akan menggugurkan bunga-bunga yang harum semerbak, dan Iqbal dengan rambut yang sedikit ikal itu tersenyum sambil sedikit menundukan wajahnya seolah tidak berani menentang mataku yang juga sebenarnya tidak berani menatap wajahnya, namun pandangan yang sekilas itu ternyata juga mampu masuk kerelung hatinya, dan sederet salam itu cukup menggedor hatiku yang selama ini kering oleh rasa cinta.

Segera aku persilakan dia masuk, di karpet tipis itu dia duduk dan segera aku buatkan dia segelas teh hangat dengan biskuit persediaan yang selalu ada. Sementara aku masuk ke kamar mandi untuk  mengganti pakaian dan sedikit berdandan.  Aku sudah sedikit demi sedikit mengurangi dandan berlebihan karena aku tahu Iqbal kurang menyukainya.  Aku mengetahuinya saat dia membicarakan tentang perkataan ibu menteri kelautan Susi Pujiastuti tentang keanehannya wanita berdandan sampai dua jam, aku waktu itu menjadi sangat malu seolah Iqbal sedang mengkritik diriku, padahal mungkin dia tidak bermaksud untuk itu, tapi aku yang seolah seluruh pikiranku telah tersita olehnya, memperhatikan apa yang diinginkannya. Beberapa saat kemudian aku telah selesai berganti baju dan sedikit berdandan aku keluar dari kamar mandi, dengan sedikit malu, takut ada yang salah dengan yang aku pakai.  Maklumlah tidak bisa dipungkiri Iqbal benar-benar menjadi sesuatu yang sangat penting bagiku, penting yang tidak berkesudahan, dan bahkan nyaris tanpa ujung dan tujuan, perihal rasa yang tidak aku yakini sebagai cinta.

Aku lihat Iqbal telah mengahbiskan setengah gelas teh yang aku hidangkan, sementara nampaknya kue yang aku hidangkan mungkin tidak menarik baginya.

Aku sudah bersimpuh di hadapannya, duduk berhadap-hadapan dengan ikbal dengan kaki yang dilipat kebelakang duduk layaknya perempuan sunda di hadapan suaminya. Belum ada kata-kata yang ada hanya senyuman yang menghiasi bibir kami masing-masing.

Setelah pertemuan yang hampir setiap hari itu, kami sering berkomunikasi walaupun masih dihiasi dengan kekakuan, dan lebih lancar jika berkomunikasi dengan menggunakan WhatsApp walaupun aku harus membaca ulang yang aku tuliskan karena takut salah dan mengecewakan.

Ini hari kedua dia bersamaku di kontrakan ini, setelah minggu kemarin dia datang untuk mengantar aku memeriksa perumahan yang akan aku beli, dan lokasi yang aku akan tempat itu juga atas rekomendasi Iqbal, bagiku Iqbal luar bisa dia faham apa yang aku butuhkan dan dia mengerti apa yang tidak aku mengerti. Jadilah aku mendapatkanrumah yang layak untuk aku tinggali, nanti mungkin dengan ibuku.

Setelah beberapa waktu, datanglah orang yang sudah kami suruh untuk datang membantu pundahan, mereka adalah office boy di kantor, tiga orang lelaki datang untuk membantu pindahan kali ini. Tidak terlalu banyak barang di kontrakan ini, lemari yang sudah aku kosongkan itu sengaja tidak aku bawa, biarkan saja biar dipergunakan oleh orang yang akan menempati kontrakan ini. Yang aku bawa hanyalah kasur, karpet pakaian dan alat masak yang sedikit itu,  pakaian yang sudah tidak terlalu banyak karena sudah banyak yang aku buang, sementara kasur dan alat masak itu harus aku bawa karena uang untuk membeli itu adalah pemberian ibuku, yang seolah menjadi dasar bagiku untuk terus tetap melanjutkan hidup.

Kontrakanku yang tidak dapat dijangkau oleh mobil ini membuat acara pindahan sedikit menguras energi, untung bapak-bapak yang datang mereka orang-orang yang biasa bekerja menggunakan tenaga.

Terasa sangat sedih meninggalkan tempat ini, tempat kusam dengan kisah yang buram, bapak kos nampak terlihat sedih, maklumlah aku sudah bertahun-tahun tinggal dikontrakan ini. Bapak kos tahu apa yang aku lakukan, aku adalah perempuan lacur yang sekarang mungkin dimatanya aku sekarang telah berubah.

Bapak kos yang rajin ke musola itu terlihat sedih, tapi dia tahu ini harus berakhir, dia mengerti bahwa dengan tempat yang baru, aku dengan jiwa yang baru semoga dapat menjadi lebih baik, itu kira-kira kesan yang aku terima saat aku berpamitan di depan kontrakan yang bertahun-tahun aku tinggali. Kunci kontrakan yang bertahun yang lalu dia serahkan kepadaku kini aku kembalikan, diawal aku mengontrak bapak kos, sering datang untuk memberikan nasihat, tapi mungkin akhirnya tidak ada yang berubah denganku, dia bosan dan memilih membiarkanku tenggelam, sekarang dia menemukan aku yang dulu untuk yang pertama kali, aku berikan alamat baru rumahku, dia berbahagia, dia tahu aku mulai naik kelas pada kehidupan yang baru. Seraya dia berdoa dan untuk yang terakhir kali aku tatap isi ruangan kontrakan yang aku tinggalkan sejuta kenangan suram. Tak terasa air mataku keluar basah dan jatuh mengurai di pipiku.

Dengan menghela nafas panjang dan memohon harapan baru kepada Tuhan aku langkahkan kakiku, didepanku seorang lelaki telah berdiri menunggu kedatanganku. Aku bersama Iqbal berada di depan sementara mobil barang dengan bak terbuka milik perusahaan itu mengikuti dibelakang.

Aku masih belum berkata-kata, mataku masih sembab, aku tahu sesekali Iqbal mencuri pandang lewat kaca depan dia tahu aku sedang bersedih.

“Ica, sedih yah? Meninggalkan tempat yang sekian lama ditempati itu?, Ungkap Iqbal sambil melambatkan laju mobil dan dengan tisue dia mengusap air mataku yang jatuh. Mata kami saling bertentangan, dan sebilah senyum dari bibirku yang dengan sedikit malu itu juga berbalas senyum dari Iqbal. Tisunya jatuh dan tangannya yang lembut itu membelai wajahku yang basah dan sembab oleh air mata. Hatiku waktu itu seperti diserang tentara cinta mencangkuli tanah gersang diladang hatiku, ditanaminya bunga-bunga dan dengan begitu cepat bunga itu tumbuh bermekaran semerbak wangi indah dan berwarna-warni.

Mobil melaju, dan bibir menjadi kaku, tapi senyuman jelas terpahat sempurna di bibirku, pun di bibir Iqbal. Kejadian tadi cukup untuk mengungkapkan ada rasa yang tidak  bisa diungkapkan dengan serangakaian kata-kata.

Sesampainya di perumahan, semua barang telah berada di posisinya masing-masing,bapak-bapak yang mengangkat barang-barang telah pulang, tinggal membersihkan  debu-debu yang masih nampak diruangan.

Tinggal kami berdua, dengan keringat, dengan peluh dan debu, hari sudah mulai gelap, Iqbal nampak lelah setelah memasang beberapa lampu menggunakan tonggkat. Wajahnya terlihat berkeringat.

Adzan terdengar dari kejauhan, hujan gerimis nampak turun di luar, sementara jam dinding yang baru dipasang sore tadi terus berputar meninggalkan sore menuju malam penuh kehangatan.