Menghitung Detik Demi Kamu #2

Menghitung Detik Demi Kamu #2

Ini adalah lanjutan sebuh cerpen dari Munawir Syahidi, bagi yang belum baca bagian awalnya silahkan klik disini

#2

Aku berada di sebuah kantor yang aku dapatkan hanya dengan memintanya langsung pada pemiliknya yang biasa mengajak aku malam mingguan untuk menghabiskan malam. Semua laki-laki pasti akan tergoda olehku.

Tenang saja di kantor ini tidak ada yang tahu perbuatan bos nya, karena bos itu tidak bekerja di kantor cabang tempat aku bekerja, dia ngantor di kantor pusat.

Idola banget pekerjaan ini, aku memakai rok mini, baju atasan seksi, rambut lurus bibir merah muka kinclong dan licin. Aku masih senang menjadi artis instagram. Beberapa teman kantorku tahu aku sering muncul di Instagram. Aku nyaris kurang suka bergaul dengan teman perempuan, aku senang berbicara dan kumpul dengan laki-laki, perempuan bagiku mahluk yang susah ditebak jalan fikiran dan sifatnya.

Aku berkali-kali kecewa terhadap laki-laki yang aku cintai berawal dari teman perempuan. Teman perempuan seperti ember bocor, kita curhat dan bercerita tentang sesuatu maka cerita itu akan bocor dimana saja, menumbuhkan berita yang lain tumbuh dan beritanya berkembang jauh dari apa yang pernah dibicarakan dengannya.

Misalnya tentang lelaki terakhir yang aku cintai, namanya Riko, aku sangat mencintainya, dia sangat mencintaiku. Kami berhubungan semester empat, tidak bertahan lama.

Awalnya biasa saja, aku bercerita pada teman kelas sekaligus sahabatku Mira, tentang apapun yang terjadi, berbulan-bulan tidak ada maslah, sampai pada suatu hari aku bercerita tentang kebiasaanku tidur hampir telanjang karena kenyamanan saja, kecuali aku bilang ada orang lain di kamar maka aku berpakaian rapi.

Dan pagi itu Riko menjemput aku ke kontrakan.

Aku yang waktu itu masih normal sebagai seorang perempuan, aku segera berpakaian rapi, dan jelas dia menunggu begitu lama menunggu aku memakai pakaian.

Ketika aku bukakan pintu ternyata Riko sudah tidak ada, aku telpon tidak diangkat, di WA hanya dibaca, ah aku berpikir apa yang sebenarnya terjadi.

Sampai kemudian, aku pergi ke kampus dan mendapati Riko tengah duduk di kantin bersama Mira, sahabatku yang aku percayai.

Aku hampiri mereka, dan dengan nada tinggi Riko mengatakan bahwa telah ada lelaki lain yang menginap di kamarku, gara-gara aku membuka pintu telat dan aku bilang aku berpakaian terlebih dahulu, aku tidak mau mengatakan kalau kebiasaan tidurku tanpa busana.

Tapi apa daya, Mira sudah menceritakan segalanya tentang aku. Aku menjadi sangat kacau, apalagi setelah mengetahui ternyata yang di inginkan Riko sejak dulu bukan aku, tapi sahabatku Mira.

Hahaha, aku selalu kecewa mengenang itu semua. Aku menjadi semakin tidak yakin pada laki-laki dan perempuan. Laki-laki hanya boleh didekati untuk hiburan dan kepuasan. Sejak saat itu aku berubah menjadi perempuan pelakor (Perebut Laki Orang) asal aku senang. Karena mereka semua juga sama hanya mencari kesenangannya sendiri.

Baru satu minggu aku bekerja, aku belum menemukan apapun yang dapat membahagiakannku, kecuali gelisah menunggu jam istirahat sambil menatap detikan jam.

Laki-laki itu tinggi berisi, rambutnya sedikit ikal, hudungnya mancung, kulitnya sawo matang bersih jalannya tegap.

Siang itu, pada hari kedua kerja aku sedang asik berdiri di depan mejaku, persis jam istirahat siang, aku berdiri asik memainkan gawai, fokus sekali. Aku tidak sadar kalau aku menghalangi jalan orang.

Dia lelaki yang menunggu aku tersadar dari gawaiku, lelaki pertama yang tersenyum ikhlas kepadaku di kantor itu, lelaki yang menatap mataku dalam sekali.

Lelaki yang setelah itu setiap malam aku bayangkan, lelaki yang setiap hari aku tunggu lewat di depan mejaku. Lelaki yang aku cari tahu namanya melalui website perusahaan. Dia bagian penanggung jawab pemasaran. Sayang sekali tidak ada kontak yang tertera pada halaman website tersebut.

Aku tidak berani berbuat apa-apa kepadanya, lidahku kelu jika hendak menyapanya, kata-kata rayuku aku fikir tidak pantas untuknya, pose menggoda yang biasa aku gunakan untuk menarik laki-laki aku anggap tidak pantas untuknya. Di depannya aku ingin menjadi perempuan seutuhnya yang berusaha menjadi perempuan yang pantas untuknya. Aku belum tahu sudah beristrikah dia? susah punya kekasihkah dia, pikirku beruntung sekali perempuan yang mendapatkannya, termasuk aku jika mampu bersanding dengannya.

Musola yang berdampingan dengan kantin itu ramai jika saat istirahat, bukan hanya dari kantorku tapi satu apartemen kantor semua nongkrong di kantin itu.

Dia Iqbal, lelaki yang selalu aku tunggu saat jam istirahat kantor itu aku ikuti dari belakang, pura-pura ke kantin saja, karena aku pikir dia juga akan ke kantin.

Dia membawa bungkusan di plastik, dia berhenti di depan musola dan membuka sepatunya.

Plastiknya dia simpan di dekat kaca jendela, dia sendiri mengambil wudhu, aku menatapnya dari sebuah meja di kantin. Aku terpaku, wajahku lebih sering dipegang laki-laki daripada disentuh air wudhu. Aku sudah lupa kapan terakhir wudhu dan salat. Hatiku menjadi kecut.

Teman laki-laki satu ruangan memilih duduk bergerombol dekat pojokan tempat mereka menghisap rokok.

Iqbal, wajahnya nampak cerah setelah keluar dari musola bersama jamaah yang lain, setelah memakai sepatu dia menuju kantin, mendekat dan hatiku menjadi tidak karuan, akan dimanakah dia duduk. Aku Periksa di sekitar hanya di mejaku saja yang masih kosong. Hatiku menjadi aneh dibuatnya. Bahagia takut dan salah tingkah. Dia menghampiri mejaku dengan senyuman, senyuman yang aku balas dengan grogi.Dia meletakan plastik yang dipegangnya dan berjalan menghampiri pemilik kantin untuk memesan sesuatu. Setelahnya dia duduk berhadapan denganku.

Aku yang sejak tadi sedang menikmati juice jeruk dengan sepotong roti pura-pura memainkan sedotan plastik, sesekali mataku mencuri pandang pada wajahnya.

Sebentar kemudian pesanannya di antarkan pemilik kantin, hanya segelas teh hangat yang nampaknya tidak terlalu manis.

Iqbal tersenyum sambil membuka plastik yang sejak tadi aku ingin tahu apa isinya.

“Ayo makan, ya walaupun hanya goreng nasi yang dicampur bawang, ditemani goreng ikan gurame”

Serius kata-kata itu keluar dari mulut Iqbal, lelaki yang akhirnya aku tahu betapa lembut suaranya.

“Iya, lanjut, ini sudah makan roti sama jus” aku jawab dengan grogi tingkat dewa. Padahal biasanya aku sangat mahir menghadapi lelaki, kali ini sekedar menatap wajahnya saja aku tidak berani.

“Kalau makan roti saja itu tidak mengenyangkan, kalau buat perut aku, kalau buat perut kamu gak tahu deh” Dia melanjutkan bicaranya setelah membaca doa makan.

“Roti ini cukup mengenyangkan kok” jawabku sambil tersenyum. Terlihat dia mengunyah makanannya dengan santai sambil mengangguk pertanda dia mendengarkan perkataanku.

“Oh iya yah, kalau perempuan terlalu banyak makan nanti takut gendut yah?” tambahnya sambil tersenyum.

“Enggak juga kok, yang gendut kadang makannya sedikit, mungkin lebih pada faktor lain” Aku sudah mulai belajar menguasai hati dan perasaanku.

“Iya kayaknya begitu yah, soalnya aku saja makan banyak tapi tetep kurus, heheh”

“Bal, kamu itu gak kurus” Lidahku menjadi kelu,

“Kamu memanggil aku Bal? eumh, padahal kita belum kenalan, hayo, kamu ngkepoin aku yah?”

Aku seperti mendengar petir di siang bolong, aku keceplosan, mukaku memerah, aku gagal fokus, salah tingkah. Tapi dia segera tahu kalau aku sangat menyesal.

“Sudahlah” dia melepaskan sendok yang dipegangnya kemudian mengulurkan tangannya kepadaku. Dengan ragu aku mengulurkan tanganku, dia menyebutkan namanya dan aku menyebutkan namaku. Setelahnya dunia dan sekitarku seolah berhenti. Aku bahagia.

Siang itu alangkah bahagianya diriku, seperti ada bunga-bunga yang tumbuh didalam hatiku.

Lama aku terpaku di meja kantin, bahkan setelah dia selesai makan dan mengajak untuk segera masuk ke kantor. Aku tidak berani berkata untuk menjawab ajakannya aku hanya tersenyum dan mengangguk.

Hari itu bahagia sekali, sampai malam, sampai aku terbaring lagi di kontrakannku yang itu juga aku memandangi tanganku sambil membayangkan dan seolah merasakan kbali saat tangannya menjabat tanganku dengan lembut, ada keikhlasan didalam perkenalan dan jabatan itu, ada yang bergetar kedalam hati. Karena sebenarnya tangan ini entah sudah berapa kali menjabat tangan laki-laki tapi yang terasa hanya kepalsuan. Iqbal Mutaqo kau berbeda.

Tubuhku terlentang dengan sangat nikmat, malam itu tidak ada yang lebih indah selain membayangkan kembali apa yang terjadi di kantin.

 

Bersambung …