Menghitung Detik Demi Kamu #5

Menghitung Detik Demi Kamu #5

Ini bagian ke lima dari cerpen yang ditulis munawir syahidi, untuk yang belum membaca bagian ke #4 silahkan KLIK

 

_______________

Siang itu perasaanku tidak karuan, semangat yang dibangun sejak sore kemarin, untuk dapat bertemu dengan Iqbal, ingin menatap wajahnya yang teduh, rambutnya yang ikal dan senyumnya yang khas aku harapkan dapat aku saksikan sepanjang hari,tapi sudah hampir dzuhur Iqbal belum juga masuk ruangan. Riuh pekerjaan di ruangan  tetap terasa sepi bagiku, teman-teman baru yang mengajak ngobrol seolah tidak menjadi penting untuk aku ingat dan aku kenang. Sesekali aku pandangi lagi gaway dengan nama kontak Iqbal tentang satu pesan yang seolah mengajak untuk bertemu dalam pekerjaan hari senin ini, yang kemudian aku balas tapi hanya di baca oleh Iqbal tanpa membalas lagi, tapi aku terus berharap bahwa senin ini apa yang dia ungkapkan itu benar terjadi.

Gawaiku bergetar dan menunjukan pesan bahwa telah waktunya salat, aplikasi yang seumur hidupku baru aku pasang di gawaiku itu menjadi luar bisa, aku yang salat saja sudah bertahun-tahun aku tinggalkan, suara adzan yang biasanya tidak aku pedulikan, kini aku memasang aplikasi pengingat waktu salat.

Sejak ada kamu Iqbal aku kembali menyusuri jalan yang dulu sempat aku tinggalkan karena sepi dan berlubang. Hari ini meski susah payah ak coba bangun kembali dengan segenap keyakinan, karena telah aku temukan dirimu, Iqbal.

Aku segera keluar ruangan, membwa mukena dan tujuan utamanya adalah musola, untuk salat dzuhur.

Aku mengambil wudhu di tempat berwudhu perempuan yang berada di sebelah kiri, sementara tempat wudu laki-laki terdapat di sebelah kanan dengan pintu yang berbeda untuk masuk, tempat salat perempuan terhalang mihrob dari kain.

Segar sekali rasanya setelah setengah hari beraktivitas menatap kayar komputer, beberapa menit saja menghadapkan wajah jiwa dan raga kehadapan Tuhan.

Dari mihrob itu aku masih dapat menyaksikan barisan laki-laki yang sedang salat, dari celah kain yang terbuka. Saat rakaat ke dua, fikiranku tidak karuan karena aku sekilas melihat lelaki berbadan tegap dengan rambut yang sedikit ikal itu, walau aku tidak jelas melihat wajahnya, aku ingin segera memastikan dialah Iqbal laki-laki yang dari pagi aku tunggu hadir satu ruangan denganku.

Salat dengan perasaan yang tidak seharusnya hadir saat salat menjadikan salat yang dilaksanakan seperti pekerjaan yang sia-sia. Ingin segera mengakhiri salat, dengan tidak mempedulikan diri bahwa ini sedang salat.

Aku yang salat sendiri cenderung lebih cepat selesai daripada yang salat berjamaah, aku jinjitkan kakiku menjawab rasa penasaranku tentang lelaki yang menjadi imam salat itu Iqbal.

Sia- sia aku tidak dapat menyaksikan dengan sempurna karena terhalang makmum, yasudahlah kalau itu memang Iqbal dia akan keluar. Ini jatuh cinta? Entahlah pikiranku habis terkuras hanya perihal Iqbal.

Setelah selesai memoles wajah dengan berbagai bahan yang sudah aku pakai bertahun-tahun itu, aku segera keluar, musola menuju kantin, sambil kembali celingukan berharap dapat melihat lelaki yang aku harapkan itu Iqbal. Lelaki yang menggangu salatku.

Aku menjuju meja yang kosong di pojok kantin, setelah aku memesan makan duduk sambil memainkan gaway. Aku menelpon ibuku, suara diujung sana nampak begitu bersemangat menerima telpon dari anaknya ini. Makanan telah datang di mejaku.

Menyusul satu piring lagi datang, aku melongo dan setengah kaget karena yang membawa makan piring yang kedua itu adalah Iqbal, aku yang belum selesai berbicara dengan ibuku itu nyaris tidak sadarkan diri kalau aku sedang berbicara, perasaanku menjadi tidak karuan. Dengan rasa malu yang luarbiasa aku berusaha mengendalikan diriku kembali, walaupun akhirnya tetap tidak sempat mengucapkan salam kepada ibu.

“Ko udahan nelponnya? Aku ganggu yah?” Tanya Iqbal sambil memperbaiki posisi kursi

“Enggak Pak,” jawabku gugup

“Dari pacar tah?” cecar iqbal sambil membersihkan sendok degan tisue

“Bukan pak, dari Ibu” ungkapku meyakinkan dan penuh dengan kekhawatiran, pertanyaan yang personal dan cukup membuat aku menjadi kikik.

“Oh dari Ibu toh” Jawab Iqbal dengan singkat sambil tersenyum dan menatap wajahku

Tatapan yang cukup dalam, penuh dengan keyakinan dan harapan, tatapan yang masuk kerelung jiwaku yang paling dalam, menggetarkan ruangan hati yang sudah lama kosong itu.

Kami yang salin tatap dengan tidak sadar itu, segera buyar dan kembali menguasai diri, kami saling menundukan muka dan menghadapkannya pada makanan yang sudah tersedia di meja.

Beberapa saat meja itu menjadi sepi, kemudian aku mencoba memualai pembicaraan, tetapi nampaknya dia juga ingin berbicara akhirnya kami saling tersenyum karena hampir sama ingin memulai berbicara.

Akhirnya kami makan dengan pikiranku yang tdak karuan, nampaknya makanan yang aku pesan tidak lebih nikmat daripada perasaan yang baru aku alami ini. Beberapa suap nasi dan lauk meluncur kedalam mulutku tidak terasa nikmat, karena lebih nikmat saat tatapan Iqbal kepadanya beberapa menit yang lalu.

Kemudian, setelah itu obrolan kami serupa bunga bermekaran wangi dan menggairahkan, aku mendapatkan kenyamanan seketika di kantin itu, Iqbal begitu lepas tersenyum, dan aku membalasnya dengan senyuman yang penuh keikhlasan dan harapan.

Perihal pesan whatsApp yang tidak terbalas dia bicara sendiri jika saat itu dia sedang nyetir dan  setelah sampai rumah gawaynya habis daya sedangkan charge ketinggalan di kantor. Padahal aku sendiri sudah melupakan perihal pesan whatsApp yang terbaca tapi tidak terbalas itu, aku menjadi sangat bahagia karena dia menghargai aku degan mengatakan perihal yang sempat membuatku galau tersebut. Aku juga tahu jika setengah hari ini dia rapat di kantor pusat karena ada rapat mendadak tadi pagi, dan setelah dzuhur ini akan ada rapat di bagian keuangan.

Makan siang paling berkesan seumur hidupku, yang seluruh detik waktunya begitu berharga diresapi dengan hati yang menumbuhkan bunga-bunga bermekaran diladang hatiku yang sudah lama gersang.

Setelah itu kami jalan beriringan menaiki tangga dan masuk keruangan kami yang bagian keuangan.

Di kantor ini bagian keuangan adalah bagian tertinggi, karena perusahaan tempat aku bekerja adalah kantor cabang sedangkan pimpinan perusahaan masih central di kantor pusat.

Dalam perjalanan menuju ruangan menaiki lift di lantai menuju lantai 4 itu sungguh detik-detik yang berharga, dalam lift yang hanya berdua itu kami hanya saling menunggu suara, sesekali saling pandang dan tersenyum sementara Iqbal yang menekan angka 4 untuk mengarahkan lift menuju lantai 4. Tidak ada kata-kata tapi setiap senyuman begitu penuh makna. Seolah setiap detiknya tidak ingin aku lewatkan.

Saat kami masuk keruangan bagian keuangan yang melewati koridor bagian yang lain, pegawai yang lain turut menyisihkan waktunya untuk melihat kami yang berjalan beriringan, aku tahu setelahnya pasti kasak   kusuk akan merebak seperti jamur di musim penghujan.

Aku sudah duduk di mejaku dan Iqbal sudah duduk juga di mejanya, sebenarnya itu adalah meja yang hanya untuk digunakan rapat, karena Iqbal bisa masuk di ruangan pribadinya di ruangan itu. Iqbal memilih bersama yang lain menikmati pekerjaan. Aku lihat Iqbal mencharger gawaynya, menyalakan komputernya yang sleep, dan aku hanya tersenyum menatap seluruh yang dilakukan oleh Iqbal sebagai sebuah yang setiap detiknya kalau bisa tidak boleh aku lewatkan.

Hari itu hatiku yang gersang mulai berbunga-bunga.

 

Munawir Syahidi Penulis Novel “di sudut senja”